Chapter 36

542 29 0
                                        

HAPPY READING GUYS

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Berkat bantuan Azmi dan Amal mereka dapat membawa motor Ana ke bengkel yang berada di samping sawah, bengkel tempat Ana yang para teman-temannya dulu main sepulang sekolah, mencari buah karsem.

"Kalian mau kemana abis ini?" Tanya Azmi dari atas pohon karsem, ia sudah berada di sana sejak tadi.

"Mau cari makanan lah, kenapa mau ikut?" Serly bertanya balik, diantara mereka memang dialah yang paling dekat dengan Azmi, tapi tidak dengan Amal karena Amal adalah kakak kelas mereka.

"Mau nggak mal?"

Amal yang sedari tadi menatap Ana menunjukkan raut kaget, berdehem pelan. "Boleh ayok, tapi bentaran aja yah gue ngantuk."

"Kalo kayak gitu mending balik ke rumah aja kita, tidur." balas Azmi, ia meloncat dari atas pohon ke bawah, mendarat dengan sempurna. "Bye guys, babang ganteng mau tidur." Azmi melambaikan tangan pada yang lain, menyapa pemilik bengkel lalu pergi bersama Amal.

Ana duduk di bangku kayu bawah pohon karsem, bangku itu sudah tua dan bawahnya berlumut. Ia ingat jika dulu pernah menabrak bangku dari kayu tersebut dan jatuh ke selokan yang ada di belakangnya. Tubuhnya hitam penuh lumpur yang bau, dan ia di jemput oleh Ian yang pada saat itu pulang dari pondok. Sungguh memalukan.

"Beli cimol sama batagor yang ada di depan sekolah dulu yah?"

"Boleh ayok."

Mereka menunggu lumayan lama hingga motor Ana jadi, dan biaya perbaikan yang harus di bayar adalah 80 ribu, sedangkan Ana hanya membawa uang 50 ribu. "Kalian ada nggak? Gue pinjem dulu?" Ana bertanya agak sungkan, baru juga bertemu ia sudah meminjam uang saja.

Cindy mengeluarkan dompetnya, memberi Ana satu lembar seratus ribu. "Nih di pake aja dulu."

"Thanks ndil." Ana mengambilnya lalu segera membayar biaya perbaikan motornya.

Setelah dari bengkel mereka pergi ke tempat-tempat dulu bermain, lalu membeli makanan, dan kemudian balik lagi ke rumah Ana untuk memakan apa yang mereka beli sambil menonton film.

Ana membiarkan teman-temannya mengatur sendiri apa yang akan mereka tonton, menyusun makanan dan segala macamnya. Sedangkan ia pergi ke kamar untuk berganti baju karena sangat panas.

"Coba nyalain, liat masih berlangganan atau udah habis? Gue ganti baju dulu bentar."

"Hokeh." Serly menjawab dengan semangat, ia menyalakan TV yang ada di ruang tamu. Sedangkan dua temannya yang lain sedang mengambil piring dan air dingin.

"Assalamualaikum."

Karena ruang tamu dan pintu tidak ada sekat Serly bisa langsung tahu siapa yang masuk. Ia langsung duduk dengan anggun sambil membuka kantong keresek yang berisi makanan, berpura-pura tidak melihat Ian datang.

"Loh ada kamu? Angel mana?" Ian menyapa salah satu teman Ana, ia tidak tahu siapa namanya tetapi ia ingat wajahnya.

"Mas Ian?!" Cindy dari dapur berseru semangat, begitu juga dengan Nella. Jujur dari zaman SMP mereka bertiga selalu di buat terpesona dengan kakaknya Ana, alias Ian.

"Halo, temannya Angel yah?" Ian melambaikan tangan, menyapa. Ia tidak mengenal mereka.

******

"Iya nanti aku sampein ke mas Ian."

"Okeh bye-bye kak Altha."

Ana turun dari lantai atas dengan kaos oblong, celana tidur dan kerudung pasmina yang hanya di selempangkan saja. Ia baru saja bertelepon dengan Altha, laki-laki itu menanyakan keberadaan Ian yang tiba-tiba menghilang, membuat kesusahan ustad lain karena harus menggantikan jadwal mengajarnya.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang