HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Hari-hari Ana berjalan tidak seperti dulu lagi, setelah kepergian Maya dan Jule kini Ana lebih suka menghabiskan waktu sendirian, dengan membaca buku atau hal lainnya. Beberapa kali juga ia datang ke komplek Ella, tapi gadis itu selalu saja tidak ada dikamar.
Di siang hari yang panas, di saat para santri lain memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan atau hal lainnya Ana sedang mengantri untuk menyetrika pakaian diniah. Sambil menunggu ia menghitung uang hasil penjualannya. Walau kadang ia rugi atau hanya balik modal tapi Ana menghargai itu sebagai sebuah proses.
"Ini siapa yang abis aku tadi?"
Ana mengangkat tangannya segera, jangan sampai ada anak yang mengambil alih gasangannya. "Gue, ambil baju sebentar." Ana masuk kamar dengan cepat, hari besok mereka sudah mulai masuk diniah lagi.
"Mbak setelahnya ya." Ujar seorang santri, tiba-tiba duduk di samping Ana.
"Okey." Jawab Ana tanpa pikir panjang, setelahnya memang tidak ada orang.
"Ana mbak ikutan kerudung dong sebentar." Rizka dari pintu kamar berteriak.
"Okey." Jawab Ana lagi, ia menyetrika pakaiannya sampai licin. "Mbak mau kemana emang?"
"Koprasi, kenapa mau ikut?"
Ana diam cukup lama, ia ingin pergi keluar tapi ia juga tidak ingin melihat Ian, ia belum tahu akan mengatakan apa jika bertemu cowok itu. "Boleh deh, aku juga gabut." Ujar Ana, ia selesai menyetrika pakaian diniahnya. Mempersilahkan posisinya pada mbak Rizka yang ikut menyempil menyetrika kerudung.
"Tapi ramean enggak apa-apa yah." Ingatkan Rizka, ia akan ke koprasi bersama Nurul dan Naila.
"Hem." Jawab Ana, memasang hijab segi empatnya dengan rapih. Lalu mengikuti mbak Rizka ke lantai bawah depan ndalem. Disana sudah ada mbak Nurul dan Naila.
"Ayokk." Ajak Nurul cepat.
Ana mengangguk, kemudian melihat pakaiannya dan pakaian yang lain secara bergantian, mereka berpenampilan rapih sedangkan dirinya memakai baju asal-asalan bekas semalam.
Hari ini gerbang tidak di jaga, membebaskan siapapun untuk pergi keluar, tetapi sorenya nanti akan ada pengabsenan anak, dan aktivitas pondok yang padat berjalan mulai malam nanti.
Ana menyipitkan matanya, ia melihat banyak kakang di koprasi, lalu melihat mbak Rizka yang berjalan malu-malu. Ia menghembuskan nafas panjang, ia tidak ingin masuk, ia akan pergi ke kedai kopi saja yang sepi. "Mbak aku di kedai ya." Ana menunjuk kedai yang masih sepi.
"Oke." Jawab mbak Nurul, membentukan jari tanggannya seperti huruf O.
Ana menatap sekitar yang sepi, lalu menyebrang. "Mbak tolong americano satu." Ujarnya pada penjaga kedai.
"Okey, sendirian aja mbak?"
Ana mengangguk sambil tersenyum kecil, dalam hatinya ia sedang membatin uangnya cukup atau tidak untuk membeli kopi. "Kok sepi banget ya mbak?"
"Biasanya kalo hari bebas kayak gini santri pasti mainnya agak jauh mbak, ke mall, nonton, atau sekadar makan-makan di gang pojok biasa." Jelas penjaga kedai.
Ana mengangguk paham, kemudian matanya meneliti sebuah mobil merah yang berhenti di depan kedai. Ana memiringkan kepalanya sampai si pengemudi turun, dan berjalan kesampingnya.
"Assalamualaikum ustad Ian." Sapa penjaga kedai kopi.
Ian mengangguk sambil menjawab salam.
Ana hanya menatap dari samping tanpa ada niatan untuk menyapa, ia sebenarnya ingin meminta maaf tapikan tidak bisa disini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Teen FictionUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)