HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
"Wah tumben ustad Ian bawa mobil?" Difa bertanya penasaran, tidak biasanya Ian mengendarai mobil saat mengajar di TPQ.
Ian yang baru keluar dari mobil tersenyum tipis. "Mau pergi habis ini." Jawabnya, masuk ke halaman TPQ bersama Difa. Anak-anak terlihat berlarian sambil membawa jajan di tangan mereka, masih tersisa beberapa menit lagi sebelum masuk.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan yang bisa disebut sebagai kantor, walaupun kecil dan seadanya. "Angel belum dateng?" Tanya Ian pada Nafis yang sedari tadi sudah ada di dalam ruangan.
Nafis menggeleng, tapi setelahnya menunjuk kearah luar pintu.
Ian membalikan badannya, Haris dan Ana sedang berjalan di halaman bersama, sambil tertawa kecil dan menatap satu sama lain. Ian menatap tanpa ekspresi, ia meletakkan kitab di meja lalu segera memencet bel masuk agar anak-anak segera bergegas.
Dan karena bel tersebut juga, Haris dan Ana langsung mempercepat langkahnya, segera bergabung dengan yang lain untuk mengurus anak-anak.
Ana memposisikan dirinya berdiri di samping Ian, ia mendongak menatap wajah laki-laki itu. "Mas," panggilnya pelan agar tidak terdengar yang lain.
Ian mendengarnya tapi tidak berniat menjawab, ia fokus mengawasi anak-anak agar tidak banyak bergerak saat sesi doa sebelum mulai masuk kelas.
Ana mengantupkan bibirnya, ia menatap Ian kecewa lalu setelahnya menatap ke arah depan. Padahal ia ingin berterimaksih pada cowok itu, tetapi malah yang didapatkan tatapan dingin. "Malesin ih." Gumam Ana, melampiaskan rasa kesalnya pada diri sendiri.
Ian tersenyum tipis di sampingnya, ia menunduk sebentar melihat kaki Ana. Ternyata gadis itu masih memakai sandalnya, yang terlingat sedikit kebesaran. Sedangkan ia memakai sandal yang lain, merek yang sama dengan yang dipakai Ana, hanya berbeda warnanya saja.
"Okeh, ayok semuanya masuk kedalam kelas masing-masing." Nafis dan Difa lah yang hari ini bertugas menghandle anak-anak dan mengarahkannya masuk dalam kelas.
"Kamu ngajar di kelas C ya Ana, bagian anak-anak cowok." Jelas Nafis sambil menggandeng seorang anak kecil yang sedari tadi hendak lari ke arah penjual makanan.
"Okeh," Jawab Ana, ia tidak pilah-pilih dalam mengajar kecuali jika anak-anaknya memang sangat susah di ajari baru ia harus menyiapkan kesabaran extra.
Ian melirik Ana. "Udah masuk sana," suruhnya agar Ana segera pergi.
Ana memasang ekspresi acuh, kemudian pergi meninggalkan Ian.
"Ana tungguin." Haris berseru, ia berlari kecil menghampiri Ana.
Ian mengawasinya dari kejauhan. "Mereka cuma temen," batin Ian.
"Ayok ustad, anak-anak udah nunggu." Difa menghampiri Ian dan menyuruhnya untuk segera masuk.
"Okeh."
******
Ana meregangkan tubuhnya setelah selesai mengajar, anak-anak sudah pulang, hanya tinggal tenaga pengajar saja yang masih di sini.
Ana keluar kelas, namun sedikit terkejut karena di luar ada Haris yang menunggunya. "Kenapa Haris?"
Haris membenarkan kacamatanya yang melorot, terdiam sedikit lama. "Aku suka sama kamu."
Ana menahan nafas, dahinya mengernyit. "Maksudnya?" tanya Ana bingung, takutnya ia salah mendengar.
"Aku suka sama kamu dari waktu SMA, kamu udah ada calon belum?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Genç KurguUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)