Chapter 21

552 29 0
                                        

HAPPY READING GUYS

●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

"Tadi ustad Ian ngomong apa?" Tanya Jule berulang kali, sepanjang perjalanan, sebab Ana tidak meresponnya. "Maafin gue ih, tadi tuh gue terlalu takut, tiba-tiba banget ada ustad Ian disitu." Tambah Jule lagi.

Ana masih diam tidak merespon, lantaran Jule ia jadi kena ceramah Ian lagi.

"Ana, maafin, nanti gue beliin donat yang ada di kantin deh, dua." Bujuk Jule.

Mata Ana berbinar begitu mendengar kata donat. "Okeh deal, 5 donat, gue maafin." Ucap Ana cepat. "Enggak boleh ingkar janji." Tambahnya lagi.

"Perasaan gue tadi nawarin dua, kok jadi lima." Gumam Jule bingung. "Eh Ana." Teriaknya saat Ana berlari memasuki gerbang. "Dasar."

*****

Sesampainya di kamar Ana bersantai-santai, tiduran di kasur, ia sedang haid saat ini.

"Coba liat isi suratnya." Pinta Ana pada Jule yang sedang melepas baju seragamnya.

"Surat apa?" Tanya Jule bingung, pura-pura tidak tahu, padahal tadi Ana melihat dengan jelas surat yang di berikan Fahmi pada Jule.

"Gue aduin mba Rizka lo." Ancam Ana, menakuti jule.

Jule yang sedang manaruh surat dalam lemarinya menatap Ana dengan tatapan tajam. "Dasar tukang ngadu." Tundingnya kemudian keluar kamar untuk wudhu di kamar mandi bawah.

Ana tidak menanggapi ucapan itu dengan serius, ia menatap langit-langit kamarnya kemudian memeluk boneka panda. Seketika ia terfikirkan Ian, entahlah akhir-akhir ini Ian selalu ada dalam benaknya. Ia juga menjadi sangat penasaran tentang hubungan Ian dan mba Rizka yang di ributkan para santri, apakah itu benar, ia rasa tidak, hal itu tidak benar.

"Gak mungkin, kalo bener Ian pasti udah cerita."

"Kenapa lagi lo?" Tegur Jule yang sudah selesai wudhu.

Ana menggeleng pelan kemudian memejamkan mata, enggan ia menjawab. Tapi sedetik kemudian ia langsung bangun dari tempat tidur, menyambar kerudungnya dan pergi ke jemuran, ia baru ingat jika belum mengangkat jemuran pakaiannya.

"Sial," ucap Ana tanpa sadar saat melihat rok spannya jatuh dengan hanger yang sudah tidak ada di tempat, bajunya yang lain pun hanya terslampirkan. "Awas aja." Desis Ana mengambil pakaiaannya, lalu turun ke bawah.

"Mba Ana." Sapa seorang santri yang Ana sendiri tidak tau siapa.

"Dalem." Jawab Ana sambil tersenyum tipis, jujur selain anak kamarnya ia tidak terlalu mengenal santri lain.

Sampai di kamar Ana menaruh pakaiannya di kasur, ia berdiri di depan tempat selimut dan menarik selimut milik Ian, lalu melemparnya ke kasur. "Enggak salah kan? Lagian Ian kan kakak gue, dia siapa sampai harus pake selimut Ian." Gumam Ana dengan kesal.

Setelah meyakinkan dirinya Ana duduk di tempat tidur dan melipat selimut Ian dengan rapi, menaruhnya di bawah boneka panda. "Tapi kalo si Rizka tanya gimana ya? Ah jawab aja gue enggak punya selimut, kan ini punya Ian jadi hak milik gue juga." Racau Ana, ia kemudian berganti baju santai untuk mengaji nanti.

Sambil menunggu para jamaah sholat ashar pulang Ana melipat bajunya dengan telaten, memasukannya dalam loker. Ia menatap lama selimut milik Ian, menariknya dan menaruhnya di tempat selimut. "Nyebelin."

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang