HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Mobil melaju normal membelah jalanan desa, tidak ada yang mencurigakan atau menegangkan, udara di dalam mobil sejuk, AC mengalir pelan, tenang. Hanya saja, di kursi penumpang seorang gadis terus saja menunduk sambil mengusap-usap jari tanpa sadar, pikirannya melayang kemana-mana.
"Bisa gugup juga kamu, Ana?" Tanya Zaynal sambil menghadap ke belakang, mengecek kondisi Ana.
Ana mengangkat wajahnya dengan ekspresi wajah pias. "Angel enggak bisa mas, beneran." Ujar Ana, beralih menatap Ian yang sedang mengemudikan mobil.
"Bisa, mas percaya kamu bisa." Jawab Ian tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Ana menggeleng cepat, dengan wajah menekuk. "Enggak bisa kak." Kini gantian Ian berkata pada Zaynal, mencari persetujuan.
"Aku tim Ian sih, kamu pasti bisa." Zaynal kembali menghadap depan setelah mengatakan itu.
Ana menatap keluar jendela, pandangannya kosong, dengan bibir terus merapalkan teks yang sudah ia pelajari. Sesekali ia melirik ke arah Ian lalu segera mengalihkan pandangannya.
Ana meletakkan tangan pada dadanya, jantungnya berdegup kencang, setiap detik terasa begitu lama baginya, pikiran Ana benar-benar kacau lebih dulu oleh rasa takutnya. Apalagi saat ia sadar bahwa Ian sudah menghentikan mobilnya pada sebuah lapangan yang ramai motor, dan juga orang-orang.
"Udah sampai, ayok turun." Ian melepaskan seat belt nya, menoleh kebelakang.
Ana menggeleng pelan, ia rasa takut itu benar-benar menguasai dirinya sendiri.
Zaynal menatap keduanya bergantian, kemudian membuka pintu mobil. "Kakak mau konfirmasi dulu yah." Ucapnya, dan keluar.
Suasana dalam mobil senyap setelah Zaynal keluar, Ian melirik Ana. Terlihat jelas bahwa gadis itu sedang gugup, dari jari-jarinya yang terus meremas rok, dengan wajah terus menunduk.
Ian mendesah pelan, ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Liat mas." Perintah Ian, sampai Ana menatapnya. "Monster itu ada, karena kamu ngebiarin dia terus tumbuh, dan kamu kasih dia tempat buat tinggal di diri kamu."
Ana menatap Ian dengan ragu. "Nanti kalau semisal aku salah gimana, kalau lupa teks, nada gimana?" Lirih Ana pelan.
"Itu hanya ada di kepala kamu, dan kalaupun kamu melakukan kesalahan itu nanti enggak apa-apa. Itu buat jadi pembelajaran kamu kedepannya, yang penting sekarang adalah keberanian kamu untuk berdiri di hadapan semua orang dan tetap maju meski kamu merasa takut."
Ana menggeleng kecil, masih tidak percaya dengan ucapan Ian.
"Angel, orang-orang yang kamu lihat berhasil hari ini. Dulunya juga pasti pernah merasa takut, ragu sama diri mereka sendiri, tetapi bedanya mereka tetap maju dan enggak lari dari rasa takut, mereka menebas kepala monster itu dan menendangnya keluar dari diri mereka." Ian tersenyum simpul, sambil menganggukan kepala. "Kamu bisa!" Tegasnya.
Tangan Ana mulai rileks, ia mengambil nafas panjang dan mengangguk pelan. "Oke, aku coba."
"Lagian masa kamu takut, padahal mas mu yang ganteng banget ini ada di samping kamu."
"Dih." Ana melemparkan bantal ke wajah Ian, lalu membuka pintu mobil dan keluar, ia yakin pasti bisa. Ana menatap bangunan tempat acara tersebut, mengangguk pelan, meyakinkan dirinya.
"Ayok." Ajak Ian masuk.
*******
Bulan menggantung indah di tengah hamparan bintang langit malam, lampu-lampu gantung, dekoran sederhana dan lentera hias memancarkan cahaya hanya ke sekeliling masjid yang akan diresmikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Teen FictionUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)