HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●
Samar-samar suara rintik hujan terdengar dari luar jendela kamar, langit terlihat masih gelap mungkin sisa mendung sejak semalam. Ana mengerjabkan matanya, mencoba melihat sekeliling, tapi semuanya terasa berputar. Ia menyentuh kepalanya, rasa pusing segera menyambar.
Ana mengernyit, menekan pelipisnya dengan jari tangannya yang dingin, ia melirik ke dinding kamar jam menunjukan pukul 06.22 tetapi rasanya udara di kamar terasa lebih dingin dari biasanya, ia mencoba bangun dengan tubuhnya yang terasa sedikit lemas. Rasa dingin kini malah menjalar ke seluruh tubuhnya, ia menatap tubuhnya di cermin, terlihat mengenaskan.
Ana menatap nanar kearah jendela kamar, neneknya telah tiada, neneknya telah pergi meninggalkannya, untuk selamanya.
Tok tok tok
Pandangan Ana beralih menatap pintu kamar, kakinya terasa lemar, nafasnya sedikit tersengal saat ia mencoba berdiri.
"Ini Bunda sayang, makan dulu yuk." Terdengar suara tante Mawar dari depan.
"Masuk aja tante." Jawab Ana lirih, sedari semalam ia memang tidak mengunci pintu kamarnya.
Tak lama pintu kamar Ana terbuka, masuklah Mawar dengan membawa air putih dan sepiring makanan. Ia duduk di samping Ana, meletakkan makanan di meja. "Kamu sakit?" Ujarnya sambil mengecek suhu badan gadis itu.
"Ana gak apa-apa tante." Ucapnya parau.
"Badan kamu panas, makan dulu yuk nanti habis itu minum obat." Ujar Mawar, ia menyodorkan satu sendok nasi kedepan mulut Ana.
Ana menggeleng, ia tidak lapar, ia hanya ingin bertemu neneknya.
Mawar manatap Ana penuh perhatian. "Tadi malem temen-temen abang kesini, mereka mau jenguk kamu tau, bunda lupa namanya kalo enggak salah Zaynal, terus ada satu lagi yang telfon dia nyariin kamu tau, ganteng lagi orangnya." Ucap Mawar bercerita. "Atau jangan-jangan pacar kamu."
Ana menggeleng lemah, pasti orang yang di maksud tante Mawar adalah Altha. "Ana pengin ketemu nenek." Gumam Gadis itu pelan.
"Abang juga nungguin kamu terus loh di depan, jadi nanti kalo kamu udah ngerasa baikan ketemu sama abang yah." Ucal Mawar lagi. Ia mengelus pundak Ana, membawa gadis itu dalam pelukannya.
Air mata Ana kembali mengalir dengan deras, dadanya terasa sakit tiap kali ia memikirkan jika neneknya sudah tiada, betapa mudahnya orang-orang meninggalkan dirinya. Ayahnya yang entah sekarang ada dimana, ibunya yang pergi terlalu cepat, dan sekarang sang nenek ikut menyusul pergi, meninggalkan Ana sendirian.
"Bunda enggak ngelarang kamu nangis, tapi secukupnya aja ya sayang, nanti nenek sedih loh liat kamu nagis terus, Ana kan cewek yang kuat." Hibur Mawar sambil terus mengelus pundak Ana, hatinya juga ikut terasa sakit mendengar isak tangis gadis itu.
♧♧♧
Sore hari setelah sholat ashar Ian keluar dari kamar dan pergi ke teras rumah, mencari keberadaan ibunya. Ia menatap sekeliling rumah yang sepi. Tadi malam hingga siang teman-temannya datang berkunjung, tapi karena Ana sedang tidak enak badan jadi hanya sedakar singgah sebentar dirumahnya.
"Kamu mau kemana bang?" Tanya Mawar saat membuka gerbang rumah, melihat Ian yang berdiri di teras.
"Jalan-jalan." Jawab Ian, sambil membenarkan sarungnya. Saat ini ia hanya mengenakan pakaian simpel, sarung hitam bergambar dan kaos hitam berlengan pendek.
"Ana kasian banga."
"Kenapa?" Tanya Ian.
Mawar mengangguk. "Ngelamun mulu, coba diajak ngobrol sama kamu sana, dia pasti butuh temen."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Teen FictionUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)