"Nggak mau ah, kalau sama Mas Djati," gumam Mahi pelan. Menggoyang-goyangkan kedua kakinya sambil menghela napas panjang. Melirik Luisa yang juga duduk di kasur lantai tempat istirahat bengkel siang itu. Sejujurnya, ia sudah pindahan ke rumah belakang tiga hari lalu, tapi Mahi masih sering main ke mari untuk sekedar mencari teman. "Mending nggak usah."
Luisa mengernyit heran. "Kenapa?" tanyanya. "Kamu di apain sama Djati sampai takut begitu?"
"Nggak di apa-apain, sih," jawab Mahi, mengendikkan kedua bahunya pelan. "Tapi tiap berduaan sama Mas Djati, aku jadi pusing karena harus mikirin topik obrolan. Dia orangnya nggak mau ngomong kalau nggak ditanya duluan," adunya. Masih teringat dengan kecanggungan demi kecanggungan yang terjadi tiap kali ia tak sengaja berduaan dengan Djati.
Lelaki itu suka bertingkah membingungkan. Kadang hangat kadang dingin macam dispenser. Sekalinya ngomong membuat Mahi kepikiran berhari-hari.
"Mas Djati itu, kayaknya pas sekolah dulu nilai bahasa Indonesia-nya jelek deh. Dia kayak kekurangan kosa kata, makanya jarang ngomong," ucap Mahika sok tahu.
"Haa, itu mah emang packing-an dia kayak begitu," sambar Luisa, ketawa. "Kan aku udah bilang dari awal, si Djati orangnya agak-agak," tambahnya. "Nggak usah dipikirin. Kalau dia-nya nggak ngomong, kamu juga jangan ngomong. Diemin aja, malah enak di kamunya kan, bisa ngirit suara? Apa juga gunanya ngomong sama semen kering begitu, hiih. Mending ngobrol sama patung penganten yang ada di depan Pawon Simbah," kekehnya.
"Tapi kan aku jadi canggung kalau diem-dieman," gumam Mahi lagi. Menekuk kedua kakinya untuk dipeluk, menatap Luisa sambil berkedip-kedip, merayu. "Cha," panggilnya. "Emang Mas Djiwa nggak bisa ya, nemenin aku ke toko furniture sebentar?" tanyanya. "Nggak lama, kok. Aku cuma mau nyari kitchen set kecil buat ngisi dapur, sama meja dan kursi buat ditaruh di depan rumah biar nggak kosong-kosong amat."
"Bisanya sih bisa. Tapi Djiwa itu goblok, Mahi. Nggak ada gunanya kamu ngajakin dia," kata Luisa serius.
"Masak, sih?" tanya Mahi.
Luisa mengiyakan. "Djiwa itu juga sial tahuuu, kalau soal beli-beli barang gituu." Nada suaranya terdengar macam ibu-ibu arisan yang memulai agenda ngerumpi. "Nanti belum ada setahun perabot rumahmu udah pada rusak, lhoo. Sayaaang," tambahnya, menepuk lengan Mahi pelan. "Terakhir kali aku beli hape sama si Djiwa aja, belum ada sebulan udah masuk ke got!"
Mahika ketawa. "Itu mah kamu yang teledor. Bisa-bisanya nyalahin Mas Djiwa."
"Enggak. Itu tuh emang efek sialnya si Djiwa," yakinkannya. "Aku aja nih ya, kalau belanja apapun selalu ngajakin Djati. Selain dia hoki kalau beli-beli barang, Djati itu juga sabar orangnya, nggak suka nyepet-nyepetin kayak si Djiwa. Djati diajak muterin Mall tiga hari dua malam sampai tipes juga nggak akan protes. Paling-paling kayak ... sepet dikit gitulah mukanya. Kalau Djiwa beda lagiii!" Ia mengibaskan tangan sambil memutar mata. "Beuuhh, Djiwa ituuu, diajak milih warna lipstik lima menit aja bacotannya udah sepanjang sungai nil! Panas di kuping!"
Mahika cengengesan, menertawakan cara bicara Luisa yang ekspresif sekali.
"Pergi sama Djati aja. Sekalian aku nitip beliin tumbler. Nanti biar Djati yang bayarin." Luisa bangkit dari kasur, menepuk-nepuk bokongnya sambil nyengir.
"Mas Djati lagi sibuk nggak, sih? Tadi pas ke sini, kulihat dia lagi ngobrol gitu sama orang. Klien nyari mobil kayaknya," gumam Mahi, mendongak. Menatap Luisa dengan kerjap tak enak. "Apa aku pergi sendirian aja ya, Cha?"
"Ya jangan!" Larang Luisa buru-buru. "Jangan pergi sendirian, nanti diculik!" Ia menakut-nakuti. "Orang cakep rentan kejahatan, tahu."
Mahika mengernyit. "Masak iya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomancePernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
