Oke. Jadi, apa yang tidak bisa dilakukan seorang Sedjati? Melukis, ahli. Jualan, pintar. Berbisnis, mampu. Sekarang ... bernyanyi dan bermain gitar juga bisa.
Mahika hanya bingung, dimana letak ketidakbisaan lelaki ini sebenarnya? Tidak masuk akal. Harusnya manusia normal tidak boleh se-multitalenta ini!
Sebuah lagu baru saja lelaki itu mainkan. Duet bersama Luisa, meski sejujurnya suara Luisa justru memporak-porandakan lagunya saja. Gadis itu 'ah-oh-ah-oh' di ujung lagu dan berimprovisasi secara berlebihan, membuat lagu yang harusnya romantis jadi macam lagu lawakan yang di mainkan seorang komedian.
"Sebutkan satu hal aja yang nggak bisa Mas Djati lakukan?"
Nah, pertanyaan Beta sama seperti pertanyaan dalam benak Mahika sekarang. Jujur, ia juga penasaran.
"Mas Djati bisa masak nggak, sih?" tanya Mia, menarik selimut yang ia bagi dengan Beta sambil nyengir. Menanti jawaban.
"Bisa." Djiwa yang menjawab. "Djati bisa masak, tapi buat dirinya sendiri sama buat Mama aja. Dia nggak pernah masak buat orang lain seumur hidupnya."
Mahika berkedip-kedip, mengangguk pelan. Mungkin ia harus merayu Djati agar mau memasakkan sesuatu untuknya nanti. Ide bagus, akan Mahi coba kapan-kapan.
"Mas Djati nggak bisanya tuh apa?" tanya Laila dengan senyum mengembang.
"Banyak," jawab Djati santai. Meletakkan gitarnya dan mengambil jagung di tangan Mahika untuk di gigit. Mengunyah dengan santai sementara orang-orang tengah terpana melihat aksinya.
Mereka tahu Djati dan Mahika ada 'sesuatu'. Tapi tetap saja, mereka belum terbiasa melihat Djati yang galak bersikap demikian pada orang.
Sadar tengah jadi pusat perhatian, Mahika pun berdekhem pelan. Menarik jagungnya dengan gugup lalu memberi isyarat lewat mata agar Djati lebih menjaga sikapnya, sebab anak-anak tengah memperhatikan mereka sejak tadi. "Ambil sendiri."
"Mubadzir. Punyamu nggak akan habis," jawab Djati lembut. Kembali menarik tangan Mahika dan menggigit jagung bakar itu tanpa memedulikan respon yang lainnya.
"Menyusui!" Luisa tiba-tiba berseru. "Djati nggak bisa hamil, melahirkan dan menyusui. Oh ya, dan menstruasi. Djati nggak bisa hamil, melahirkan, menyusui dan menstruasi." Gadis itu menyeringai sok jagoan setelah memberi jawaban yang memuaskan. "Djati nggak sesempurna itu, kok. Nggak usah pada lebay."
Djiwa terbahak-bahak, mengusap kepala pacarnya dengan bangga, ikut puas mendengar jawabannya. "Pinter," pujinya.
"Djiwa bisa benerin mobil rusak, Djati nggak bisa," tambah Luisa.
"Mas Djati bisa, Mbak. Cuma males aja," sahut Boy angkat suara. "Kata Mas Djati, selama ada Mas Djiwa, biar Mas Djiwa aja yang kotor tangannya."
"Anjing, Djati," umpat Luisa tak terima. Berganti melirik Djiwa dengan kesal. "Kok kamu mau-maunya sih, di akalin sama dia?! Goblok!"
"Ya kan aku bisanya cuma itu," jawab Djiwa, mengendik santai.
"Berarti, hal yang nggak Mas Djati kuasai cuma hamil, melahirkan, menyusui dan menstruasi." Nisa manggut-manggut mantap.
"Dan nyium aku lagi," bisik Mahika pelan, membuat Djati terbatuk-batuk kencang. Gadis itu berkedip lugu, memberikan botol mineralnya pada Djati sambil meneruskan. "Mas nggak bisa hamil, melahirkan, menyusui, menstruasi, dan menciumku lagi."
Djati meneguk air mineral selama Mahika menatapnya dengan kerjap menanti. Orang-orang kini sibuk mendongak, menatap langit yang warna-warni dengan kembang api ketika Mahika menggeser duduknya, meninggalkan jagungnya tergeletak begitu saja. Beralih memeluk lengan Djati sambil menyandarkan kepala di pundak lelaki itu, berbisik lirih. "Tahun ini aku dua puluh tiga," gumamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomancePernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
