38. Hampir saja

25K 3.3K 565
                                        








"Mahika, maaf banget. Aku nggak bisa berangkat kerja hari ini. Djiwa sakit, aku mau nemenin dia di Rumah sakit dulu."

Adalah kalimat yang seharian membuat Mahika tak bisa bekerja dengan tenang. Bukan. Bukan karena ia kesulitan sebab Luisa tak ada, tapi karena ... Djiwa sakit. Kalau Djiwa sakit, itu artinya Djati juga. Sebab sepengetahuannya, dua orang itu selalu kompak dalam hal beginian. Satu batuk satunya pilek. Satu ketabrak satunya lagi kepleset. Mereka itu sepaket.

Mana ia dan Djati masih bertengkar. Lelaki itu belum mengabarinya sejak tiga hari lalu mereka bicara di depan rumah.

"Gimana ini ..." gumamnya, mondar-mandir keluar Pawon memegangi ponselnya. Maju mundur ingin mendatangi bengkel sebab ia lihat motor Djati ngetem disana. Pacarnya datang ke bengkel, tapi siapa yang tahu kondisinya? Djiwa saja sampai dilarikan ke Rumah sakit karena demam tinggi. Bagaimana dengan Djati?

"Mas Yono! Maaass!" Panggil Mahika, terkesiap dari lamunan saat motor berisik Yono lewat di depan gerbang. Gadis itu mengangkat tangan tinggi-tinggi, melompat-lompat demi membuat lelaki itu berhenti. "Maaass!" serunya, melambai-lambai hingga kendaraan roda dua Yono putar balik, menepi di depan gerbang Pawon.

Lelaki itu menaikkan kaca helm dengan senyum tipis, menyapanya singkat. "Eh, Mbak Mahika. Kenapa, Mbak?"

"Mas, anu ... itu ..." Mahika melangkah lebih dekat, memegangi pagar Pawon dengan kerjap gelisah. "Mas Djati berangkat?" tanyanya.

Yono mengangguk. "Ada Mbak. Kebetulan hari ini mau ada dua klien yang datang. Satunya baru aja masuk, satunya lagi nanti habis Isya'. Jadi kemungkinan Mas Djati bakal nginep bengkel malam ini."

"Mas Djati baik-baik aja?"

Yono mengendik. "Sekarang sih masih nggak apa-apa, Mbak. Tapi nggak tahu juga nanti, berhubung Mas Djiwa-nya lagi sakit, biasanya Mas Djati bakal nyusul."

Itu dia yang Mahika takutkan.

"Tapi tadi Mas Yono lihat keadaannya gimana?"

"Barusan ngobrol sama klien, Mbak. Ini saya di suruh beli kopi sama gula soalnya stok di dapur habis."

"Oh." Mahika manggut-manggut dengan senyum lega. Setidaknya masih bisa ngobrol dengan klien. Batinnya. "Ya udah, Mas," ucapnya. "Nggak usah beli, kelamaan. Minta anak Pawon aja, keburu kliennya nunggu." Ia segera menyuruh Yono membelokkan motornya.

"Tapi di suruh Mas Djati beli, Mbak."

"Nggak apa-apa, belinya nanti aja. Sekarang ambil dari Pawon dulu buat kliennya. Kalau di marahin Mas Djati, bilang aja dipaksa Mahika."

Yono manggut-manggut menurut. Membelokkan motornya ke parkiran Pawon dan masuk ke restoran itu segera. Meninggalkan Mahika yang masih berdiri di gerbang, tolah-toleh ke samping, coba mengintip sebisa mungkin, barangkali Djati keluar.

Sayangnya itu tak terjadi. Sampai Yono kembali membawa sebungkus besar Kopi dan gula, Djati tak muncul juga. Jadi, Mahika harus puas hanya dengan menitipkan pesan pada Yono untuk segera memberitahunya jika terjadi sesuatu pada Djati hari ini.

"Tolong langsung kesini kalau Mas Djati mendadak sakit atau gimana-gimana ya, Mas?"

Yono mengangguk. Mengiyakan dengan senyum singkat sebelum menstarter motornya lagi untuk kembali ke tempat kerjanya.











****







Djati datang dengan dua kaleng kopi instan yang diletakkan ke meja sebelum duduk, berhadapan dengan lelaki muda yang kini tersenyum manis menerima minuman sederhananya. "Maaf, Mas. Yang biasa nyetok barang-barang dapur lagi sakit, jadi cuma ada minuman begini."

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang