13. Lembar-lembar koyak

26.5K 3.8K 563
                                        









Djati tahu, Mahika belum sungguh-sungguh membuka hati untuknya.

Itu bisa dilihat dari hubungan mereka yang jalan di tempat dan ketertutupan Mahika berkaitan masalah pribadinya, terutama tentang mantan calon suaminya yang bernama Mahesa. Butuh usaha yang tidak mudah untuk membuat gadis itu akhirnya buka suara. Menceritakan alasan putusnya sedikit demi sedikit.

"Dia selingkuh," katanya, beberapa hari setelah Djati menyerah bertanya. "Maksudku, mantanku yang namanya Mahesa itu. Kami batal menikah karena aku menangkap basah dia selingkuh. Aku juga punya buktinya, dan dia mengaku."

Malam itu mereka duduk di atas rooftop bengkel berdua. Pawon Simbah baru saja tutup, tapi beberapa pegawai masih lalu-lalang di dalam untuk bersih-bersih sebelum pulang.

"Dia mau ngajak balikan, tapi kutolak. Aku nggak mau," ucapnya lirih. "Minggu lalu sebelum pergi, dia juga bilang sesuatu." Gadis itu menunduk. Menggenggam botol minuman rasa stroberi di tangan erat-erat sebelum meneruskan. "Katanya, kalau bukan sama dia, aku nggak akan bisa sama siapa pun juga."

Djati mengernyit. Menoleh dan geram mendapati sorot ketakutan ketika matanya bersitatap dengan milik Mahika. Mengingat wataknya yang pendiam sekali, pasti dia menghabiskan waktu berpikir yang cukup lama sebelum akhirnya berani mengatakan ini padanya. Bajingan tengik Mahesa.

"Aku bukannya takut. Aku cuma ... khawatir keluargaku yang kena imbasnya." Ia menunduk lagi. Meremas-remas botol di tangannya dengan gelisah. "Dia bukan berasal dari keluarga biasa-biasa aja. Keluarganya sangat berpengaruh di sana," jelasnya. "Kalau suatu hari aku dan Mahesa bicara, sudah tentu dia yang akan langsung dipercaya."

Djati tentu tahu. Ia sering dengar ayahnya menyinggung keloyalan keluarga Notoseno selama masa pencalonannya yang pertama dulu. Ia tidak menyangka, putra dari keluarga yang mendukung pemerintahan ayahnya habis-habisan rupanya seorang bajingan yang beraninya mengancam perempuan.

"Dia orang yang baik, dulu." Mahika membasahi bibirnya dengan gusar, meneruskan. "Jadi aku masih berharap, kemarin itu dia cuma bicara begitu karena terbawa emosi. Menurut Mas--"

Djati meraih tangan Mahika. Mengambil alih botol yang sedari tadi gadis itu remas dengan gelisah untuk kemudian menggantikan dengan telapak tangannya. Tersenyum manis seraya menenangkan. "Dia nggak akan menyakitimu."

"Iya, kan?" Seperti biasa, ia sedang minta diyakinkan. Sorot ketakutan itu masih berkobar ketika Djati mengecup punggung tangannya.

"Iya, Diajeng. Dia nggak akan berani ke sini lagi."

Mahika mengangguk dengan senyum kaku. "Dia pasti mikir seribu kali kalau mau jahat, mengingat nama baik keluarganya yang bisa tercemar. Iya kan, Mas?"

Djati mengiyakan.

"Kalau gitu ... aku nggak perlu khawatir, kan?"

Djati tersenyum dan mengangguk lagi. "Dia masih nelpon kamu?"

"Sesekali," jawab gadis itu gusar. "Tapi nggak pernah kuangkat. Aku nggak mau ngomong sama dia," akunya. "Aku ... nggak mau ngobrol sama laki-laki selain Mas," tambahnya dengan kedua pipi bersemu. "Aku cuma bicara sama Mas Djati aja meskipun kita masih begini." Gadis itu menggigit bibir lalu melengos saat Djati terkekeh menggoda. "Jaga-jaga kalau Mas salah sangka. Aku betulan cuma sama Mas. Sumpah."

"Mmm," Djati manggut-manggut jahil. "Jadi, Diajeng cuma mau ngobrol sama Mas Djati aja?" godanya. Mencium punggung tangan Mahika lagi dengan lembut. "Aku juga, Diajeng. Jangan khawatir, aku juga cuma begini sama kamu sekarang," beritahunya serius. "Meskipun masih digantung dan dikacangin, tapi ini ..." Ia membawa telapak tangan Mahika ke dadanya. "Cuma kamu isinya."

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang