12. Lembar-lembar usang

24.2K 3.9K 628
                                        







"...baik pemirsa, saat ini kami telah terhubung dengan saudara Imelda, yang berada di tempat untuk menanti pidato dari Capres Saleh Gustipradja untuk hasil konsolidasi dengan para pemimpin parpol koalisi atas kemenangan dari quick count."


Mahika berlarian ke bengkel, meninggalkan restoran hanya untuk bergabung dengan Yono cs yang tengah duduk berjejer di depan televisi, menonton berita bersama-sama. Gadis itu melepas sendal sembarangan, lalu ikut duduk di atas tikar yang telah digelar. Mendongak guna melihat layar datar di atas meja dengan tak sabaran.

"Es lilin, Mbak Mahi?" tawar Karto, menyodorkan es warna-warni dalam plastik panjang yang langsung digebuk oleh Boy.

"Yang bener aja lu, masak Mbak Mahika dikasih es lilin!"

"Emang nggak boleh?"

Kris menyahut. "Orang cantik makanannya yang sehat-sehat."

"Lah," Rusdi mengerjap heran. "Emang es lilin nggak sehat?"

"Gue makan es lilin dari esde sampai setua ini, nggak pernah tuh, kena penyakit apa-apa?" tambah Karto lagi. Membuat Rusdi manggut-manggut setuju.

"Ya lak-lakan lo sama punya Mbak Mahi kan beda. Tenggorokan lo dimasukin gergaji mesin juga masih hidup saking badaknya," decak Boy sekenanya.

Yono menoleh, berdecak galak. "Diem nggak kalian!" bentaknya, membuat teman-temannya bungkam seketika.

Mahi nyengir, kembali menatap depan lagi saat wajah pria yang beberapa waktu lalu muncul di Pawon Simbah tampak di layar kaca bersama para jajarannya. Yono mengambil remote tv, menaikkan volume suara ketika Pak Saleh mulai bicara.

"...hari ini penghitungannya sudah mencapai hampir seratus persen, quick count dari dua belas lembaga survei menyatakan bahwa Saleh Gustipradja dan Gustav Ahmad mendapatkan presentase kemenangan sebesar 60,2 persen suara."

Sejujurnya, Mahika tidaklah fokus menatap pria berkemeja putih tersebut. Seluruh perhatiannya justru tersedot dengan keberadaan lelaki tinggi yang berdiri dengan tampang ogah-ogahan di belakang bapaknya. Mahika nyaris tergelak melihat muka malas Djati yang macam makhluk kurang motivasi hidup. Wajahnya datar sekali, kedua tangannya diikat di belakang dan matanya sesekali berputar. Ya ampun.

Dia pasti dipaksa agar mau berdiri di sana. Entah sogokan macam apa yang Saleh berikan untuk Djati hingga ia bersedia ikut serta siang itu.

Mahika menunduk, mengulum tawanya mati-matian, sementara Yono menunjuk bosnya dengan bangga.

"Mas Djati masuk tivi!"

Boy dan Karto tak kalah antusiasnya. Mereka segera mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen-momen di mana wajah Djati disorot secara individu sepersekian detik oleh awak kamera. "Weh, rambut gondrongnya Mas Djati ilang!"

Mahika juga sudah tahu tentang itu. Djati sudah wadul padanya kemarin malam, bahwa Mira memaksanya memangkas rambut agar terlihat lebih rapi, katanya. Serba-serbi potong rambut ala Djati sungguh dramatis dan menghibur sekali. Mahika bahkan masih ketawa tiap kali ingat suara nelangsa Djati ketika berkata, "Aku manjanginnya tiga tahun. Mama motongnya nggak butuh waktu lima menit." Kemarin malam.

"...kami mengucapkan terimakasih kepada TNI dan Polri yang telah menjaga ketertiban dan keamanan selama pemilihan berlangsung. Kami mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi dan menggunakan hak suaranya sebaik mungkin. Kami juga berterimakasih sebanyak-banyaknya pada seluruh partai dan koalisi,"

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang