"Mas Djati, jujur sama aku."
Itu adalah awal dari bom yang meledak besar-besaran di kepala Djati malam itu. Sehari setelah ia nyaris mencium Mahika dan menghancurkan semuanya. Sepertinya, Mahika memang tak akan berhenti berburuk sangka padanya. Entah muka Djati memang patut dicurigai, atau mungkin Mahika memang jenis perempuan yang suka berkhayal kelewat batas. Intinya, selalu Djati yang dituduh tidak-tidak.
"Apa?" tanya Djati hati-hati. Melangkah maju ketika Mahika menatapnya serius sekali.
"Aku pernah punya pengalaman pribadi ..." gumam gadis itu pelan. "...sama orang-orang yang berorientasi ... mmm ..." ia memenggal perkataanya sendiri dengan ragu. "...kita sebut aja berbeda."
Djati mengernyit. Sementara Mahika melanjutkan.
"Aku nggak akan membenarkan orang-orang macam itu. Tapi aku juga nggak akan menghujat mereka. Maksudku ... aku paham kalau kaum seperti Mas ini memang betulan ada. Jadi, Mas nggak perlu malu," katanya. Mendongak dan menatap Djati dengan kerjap yakin sekali, sebelum pada akhirnya menembakkan tanya. "Mas suka laki-laki, kan?"
Djati mengerjap shock. "Ha?" Saking shocknya ia sampai tak bisa berkata-kata.
"Iya. Mas ... aslinya suka laki-laki, kan?" Mahika mengangguk yakin, menyimpulkan dini. "Udah kuduga," katanya. Mundur selangkah, mengusap wajahnya sembari mengoceh. "Aku pernah ketemu laki-laki macam Mas Djati. Kalian itu memang cenderung suka menggombal dan membuat perempuan kepedean. Aku nggak ngerti kenapa selalu aku yang kaum kalian incar. Apa karena tampangku kelihatan gampang di tipu?" tanyanya. "Mas, aku mungkin nggak sepintar itu. Tapi aku juga nggak sebodoh itu."
"Tunggu-tunggu--"
"Mas berusaha menutupi kekurangan itu dengan cara mendekatiku? Iya?" Tapi cerocosan Mahika sulit dihentikan. Sekali gadis itu sudah menyimpulkan, maka ia akan terus mengoceh, dan tak akan ada satu halpun yang bisa menghentikannya, kecuali gempa bumi. Mungkin.
"Aku tuh berpengalaman, Mas. Maaf, tapi aku bisa tahu dari gelagat Mas hari itu," katanya. Berkedip yakin, seolah ia manusia paling pintar sedunia. "Mas pura-pura mau cium aku, tapi pas aku merem, Mas jadi jijik, kan? Itu dia!" serunya.
"Apa?" tanya Djati was-was. "Itu dia apa?"
"Aku juga sering di gituin dulu," katanya. "Aku pikir ... dia selalu nahan diri karena mau menjagaku tetap suci sampai kami sah nanti. Aku pikir ... dia nggak mau merusakku. Tapi ... ya ampun, aku ngerti sekarang. Ternyata begitu."
Djati mengerjap kaget. Sadar telah ada kesalahpahaman besar diantara mereka, iapun bergegas meluruskan.
Enak saja. Selain tak mau usahanya gagal, ia juga tak sudi dianggap melenceng. Sial. Begini-begini dia masih doyan wanita.
"Mahika," panggilnya. Menyentuh kedua bahu si gadis sembari menelan kasar saliva. "Aku bisa jelaskan."
Tapi gadis itu justru menganggapnya sedang mengaku. Ia mengangguk dan menatap Djati penuh keprihatinan seraya berkata, "Aku akan jaga rahasia, Mas."
"Enggak-enggak, bukan gitu."
"Aku nggak akan ngomong sama siapa-siapa. Tenang aja," jawab Mahi sok tahu. "Aku mungkin agak kecewa karena udah salah sangka sama perhatian Mas selama ini. Tapi aku akan mencoba ngerti. Oke. Aku akan coba buat paham, aku memang nggak bisa memaksa semua orang untuk ... kamu tahu? Normal, punya orientasi yang sama."
"Heh, enggak gitu." Sahut Djati panik. Geleng-geleng kepala. "Aku--"
"Punya pacar cowok?" tebak Mahika makin ngawur. "Di sekitar sini?" Ia celingukan dengan wajah sebal bercampur penasaran. "Kurang ajar, aku kalah saing sama laki-laki lagi," gumamnya. "Siapa dia, Mas? Anak bengkel? Mas Boy? Mas Yono? Mas Karto?" Semakin ia menebak-nebak, semakin cenat-cenut kepala Djati. "Siapaaa?" tanyanya tak sabaran. "Aku nggak akan ganggu hubungan kalian, kok. Cuma ... ya paling ... aku jadi nggak suka aja sama dia setelah ini," tambahnya pelan sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
عاطفيّةPernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
