24. Tali-tali yang terikat

21.5K 3.6K 813
                                        







"Om Handoko ngomong gitu??"

Djiwa manggut-manggut. Masih membantu melipat dan memasukkan baju-baju yang akan Djati bawa besok dengan senyum masam. Sementara Djati yang terduduk di depannya hanya bisa menghela napas berat, menepuk bahunya pelan sebagai bentuk support.

"Jangan tersinggung apalagi dendam," ujar Djati, menasihati. "Posisikan aja diri lo sebagai beliau. Kalau lo punya anak perempuan kesayangan yang seumur hidupnya selalu lo kasih fasilitas terbaik dan serba mewah, terus suatu hari ada laki-laki biasa mau minta anak lo, lo pasti juga mikir-mikir kan?" lanjutnya. "Meskipun tetep aja, ngatain orang kere dan nggak becus itu jahat banget." Djati menghela napas panjang. "Harusnya sebagai orang berumur, beliau lebih bijak dalam milih kata. Di banding kere, lo lebih cocok di sebut fakir aja."

"Bangsat," sahut Djiwa sok kalem. Terkekeh-kekeh demi menghibur dirinya sendiri.

"Jangan marah," ulang Djati lagi, tersenyum tipis, coba menghibur. "Jadiin kata-katanya sebagai cambuk, biar ke depannya lo jadi makin rajin kerja."

Djiwa mengangguk. "Gue nggak marah," jawabnya nyengir pahit. "Nggak dendam juga. Biasa aja," tambahnya. "Yang penting Icha nggak denger bokapnya ngomong gitu."

Djati tahu itu bohong. Tak enaknya punya kembaran adalah, ia bisa tahu apa yang Djiwa rasakan tanpa Djiwa bicara terus terang padanya. Ia tahu saat ini adiknya memendam rasa dongkol dan sakit hati, sebab iapun merasa demikian. Saat Djiwa sakit, iapun ketularan meski saat itu mereka sedang terpisah benua. Serba-serbi anak kembar yang sulit di jelaskan. Intinya, mereka tidak bisa menyimpan rahasia satu sama lain karena pasti ujung-ujungnya ketahuan.

"Mau pake duit gue dulu nggak?" tawar Djati pengertian. Menaikkan kedua kaki di kasur dan menatap Djiwa serius. "Gue ada duit dikit, bisa lo pake dulu kalau butuh."

"Ntar lo kawin pake apa?"

"Ya pake yang ada di dalam celana gue, lah," jawab Djati sekenanya. "Tinggal gue keluarin doang, main, selesai."

"Djiancuk! Cocote koyok asu!" Djiwa terkekeh sembari mengumpat beruntun, sedang Djati meneruskan.

"Apa resto gue yang di Mall itu mulai sekarang lo aja yang pegang? Nggak banyak banget sih omsetnya perbulan. Tapi lumayan lah, bisa buat nambah-nambahin omongan kalau lo ngobrol bareng bokapnya Luisa lagi lain kali," sarannya. "Bilang aja lo lagi merintis, Wa. Siapa tahu di kasih keringanan."

Djiwa geleng-geleng kepala.

"Terus gimana?"

"Ya nggak gimana-gimana," jawab Djiwa sok santai. "Mau gimana lagi. Yang penting gue udah ngomong jujur kalau sekarang ini, gue memang belum bisa punya sepuluh persen dari total asetnya," katanya. "Boro-boro sepuluh persen aset Roestam. Suruh ngejar sepersen aja gue megap-megap. Gila kali," tawanya pelan.

"Sepersen-nya mereka emang berapa, sih?" tanya Djati penasaran.

"Puluhan em lah, atau ratusan mungkin," jawab Djiwa tak yakin. "Total aset mereka aja puluhan triliun sekarang."

"Kalau seratus gue ada, Wa," sahut Djati lagi. "Ya meskipun habis itu gantian gue yang melarat. Nggak masalah, gue kan pinter, pasti gampang nyari lagi. Lo boleh pake tabungan gue dulu buat ngelamar Icha," tawarnya, belum menyerah. "Ya?"

"Ogah. Ngapain gue kawin pake duit lo. Kayak kurang akal aja," jawab Djiwa lagi, masih slengean. "Gini-gini gue juga punya harga diri, tahu!" tambahnya. "Lagian, gue paham taktiknya si Om Handoko. Doi emang sengaja ngejar anaknya buat cepet-cepet. Soalnya dia tahu kalau duit gue masih belum nyampe," katanya. Menutup koper Djati dan menurunkannya ke bawah kasur. "Di sangka gue bakal mundur kali setelah di kata-katain. Padahal mah enggak," kekehnya muram. "Sori aja, gue nggak punya malu kalau soal Icha."

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang