22. Samar-samar yang mendekat

22.9K 3.4K 796
                                        








Kabarin Mas kalau ngambeknya udah selesai,  ya? 


Djati mengirim pesan itu seraya mengusap-usap handuk di rambutnya yang basah. Ia terduduk di tepi kasur, mendesah pendek dan mengetik sesuatu lagi.

Besok kalau mau di jemput telpon.
Mas nggak ke bengkel.
Nungguin kamu di rumah aja.

Ia mengirimnya. Lalu mengetik lagi.


Mas sayang kamu.


Di tambah emot hati, kirim. Selesai. Ia letakkan ponselnya di sisi bantal. Melempar handuknya ke keranjang baju kotor di sudut kamar lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Masih bertelanjang dada, menatap langit-langit kamarnya lama. Djati menghela napas panjang dengan mata terpejam, mengurut pelipisnya sendiri beberapa saat hingga sesuatu bergerak di bawahnya, membuat ranjang berdecit pelan.

Awalnya Djati mengabaikan kejanggalan itu. Masih konsisten menutup matanya hingga sebuah panggilan membuat keningnya berkerut-kerut terganggu. Takut salah dengar, iapun mengerjap, menurunkan pandangan dan detik itu juga tubuhnya terlonjak melihat gadis dalam pikirannya kini terduduk diatas perutnya!

"HAAAHH!!?--" Mata Djati membeliak, membulat penuh kejut mendapati gadis berkebaya maroon itu tersenyum manis. Menggigit bibir bawahnya lalu menundukkan tubuhnya. Menopang kedua tangan di dada Djati yang tak berbusana lantas berbisik manja.

"Aku disini," katanya.

"Mahika?" Kening Djati mengernyit serius, mengerjap, mengucek-ngucek matanya dengan sebelah tangan demi memastikan pandangannya tak keliru. Detik-detik berlalu amat lambat hingga ia cukup yakin yang diatasnya memang benar gadis itu. Mahika, ada di dalam kamarnya! Mahika berbaring diatasnya!

"Kamu--" Djati menoleh ribut, menatap pintu yang masih tertutup dengan kaget. "...kenapa bisa disini?!"

Bibir gadis itu merekah merah muda ketika terbuka dan lembut bertanya. "Kenapa? Mas nggak suka?" godanya. Menyugar rambut panjangnya dengan wajah mempesona. "Aku suka," bisiknya lagi. "Berduaan sama Mas disini."

Djati mengerjap-ngerjapkan mata dengan panik. Mulai tak fokus melihat jemari lentik itu bermain di dadanya. Mengusap kulitnya seduktif, menatapnya penuh undangan untuk balas meraba. "Diajeng--"

"Husshh," Mahika berdesuh lembut memintanya diam. Tersenyum lagi seraya mendekatkan kepala, membelai rahang Djati dan mengecupi pipinya. Berbisik tepat di depan bibir Djati yang masih terbuka. "Mas nggak bisa lari lagi sekarang."

Lalu setelah itu, Mahika yang ada diatasnya menunduk, mempertemukan bibir mereka dalam pagutan yang sama sekali tak mesra. Kasar dan buru-buru. Djati tak ingat pernah mengajari Mahika berciuman seperti ini. Entah dari siapa dia belajar.

"Mahi--" Ia coba dorong gadis itu, tapi matanya yang sayu juga bibirnya yang bengkak membuat niat Djati terhenti seketika.

Mahika menunduk lagi, memberi kecupan-kecupan lembut di bibir Djati berulangkali. "Aku pergi apa disini?"

Djati menelan ludah. Tidak berkutik saat Mahika melanjutkan ciuman mereka dengan senyum terpatri bangga.

Panas. Seluruh tubuh Djati mendadak panas ketika bibir manis itu menyesap bibirnya. Ia yang awalnya kaget perlahan terbawa suasana, mengulurkan kedua tangan ke pinggang, meraba lekuk tubuh yang sempurna itu dengan dada berdegup kencang ketika gadis diatasnya memperdalam pagutan.

Suara napas mereka berpadu jadi satu ketika Mahika membuka bibirnya dan Djati memiringkan kepalanya, membiarkan lidah mereka saling menyapa, bertemu dan bermain dengan nafsu yang melambai-lambai di ujung kepala. Decak-decak erotis dari bibir mereka memenuhi pendengaran Djati hingga kewarasannya minggat entah kemana. Tubuh Djati makin terbakar kala tangannya bergerak tanpa komando ke depan, menarik kancing-kancing kebaya itu hingga terbuka lalu merabai bagian tubuh Mahika dengan tangannya yang kasar. Masih melumat dan menggigit sementara sebelah tangannya menyentuh dan meremas apa yang ada dalam genggamannya.

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang