Tidak Djati duga, ia akan melihat salah satu lukisannya di rumah ini. Terpajang megah di sisi kanan foto keluarga yang kelihatan harmonis sekali, lengkap dengan tanda tangan dan keterangan tanggal dimana lukisan itu terjual tujuh tahun silam.
Roro Ireng kecekel, nama lukisan itu. Terinspirasi dari salah satu kisah dimana dewi Subadra, adik dari Shri Krisna dan salah satu istri tercinta Arjuna yang mati karena obsesi cinta Raden Buriswara.
"Sembadra larung."
Djati menoleh, melirik Mahesa yang kini berdiri tepat di sebelah kanannya. Membawa gelas tinggi berisi minuman yang kini ia teguk perlahan.
"Seandainya dia mengiyakan ajakan Raden Buriswara untuk bersama, barangkali dia tidak perlu mati dan di larung jasadnya," gumamnya, tersenyum kecut. "Padahal cinta Buriswara lebih agung di banding Arjuna. Sangat di sayangkan dia keras kepala menolak dan berakhir kehilangan nyawa."
Djati membawa kembali tatapannya menuju lukisan, menjejalkan sebelah tangan di saku celana sembari membalas. "Buriswara cuma orang yang menghalalkan berbagai cara dan bersembunyi di balik kata cinta," ujarnya. "Laki-laki yang benar mencintai tidak akan memaksa apalagi membuat wanitanya celaka."
"Menurutku ..." Mahesa menghela napas panjang, menggoyangkan leher gelasnya pelan. "...Subadra akan jauh lebih bahagia dengan Buriswara."
"Nyatanya dia mati."
"Itu ketidaksengajaan."
"Dan di larung ke sungai," tambah Djati, menoleh lagi. "Kalau betul seorang laki-laki mencintai, jasad kekasihnya pun akan kelihatan seperti permata. Bukan malah di biarkan terapung macam itu."
Mahesa mendengus, menunduk sejenak lantas membalas. "Kalau Mahika mati," potong Mahesa sejenak. "Apa mayatnya masih tetap kelihatan cantik di matamu?"
Dan tanpa ragu Djati menjawab. "Ya. Sehelai rambutnya yang jatuh dari kepala pun kelihatan cantik di mataku, apalagi seluruh dirinya," katanya. Kini menyerongkan tubuh, menghadap Mahesa sepenuhnya. "Tapi kalau suatu saat, ku lihat luka setitik saja di tubuhnya ..." Djati melangkah maju, menundukkan kepala mendekati telinga Mahesa. Sembari melirik orang-orang yang ada di rumah besar itu ia berbisik. "Hal yang pertama kulakukan bukan mencari obatnya. Tapi mendatangimu."
"Untuk?"
"Mencekik lehermu, mematahkan tulang-tulangmu, dan menginjak kepalamu."
Mahesa terkekeh. Mundur selangkah dan balas menatap Djati dengan seringai tipis di bibir. "Ceritanya belum selesai. Belum tentu kamu yang berakhir dengannya. Kenapa buru-buru sekali?" Ia balik badan, menoleh lagi untuk berkata. "Ada ruangan yang lebih tertutup dari ini. Barangkali Mas Sedjati tertarik bernegosiasi disana."
Djati tidak menjawab. Tapi ia mengikuti langkah Mahesa memasuki ruangan lain di sisi rumah utama yang jadi titik perkumpulan para relawan partai. Masuk melewati pintu besar yang lekas di tutup kembali setelah ia dan Mahesa duduk di kursi yang bersebrangan. Beberapa orang terlihat berjaga di depan pintu sana. Jadi sudah tentu, Mahesa cukup bersiap untuk kunjungannya hari ini.
Djati memangku tangan di dada. Membiarkan Mahesa berkutat sejenak meraih sesuatu di bawah meja. Mendorong amplop coklat panjang tersebut kearahnya dengan endikan dagu. "Silahkan di buka."
Sepasang mata Djati menyipit sejenak. Sebelum akhirnya ia putuskan mengambil amplop tersebut. Dua detik setelah itu, ia tergelak melihat selembar cek bertuliskan jejeran angka fantastis. Nominal yang menggiurkan, cukup untuk membeli sebuah rumah gedongan di pusat Jakarta beserta mobil dan isinya. "Really?" Djati menunduk geli, mengibarkan cek tersebut menggunakan jari tengah dan telunjuk, menyorongkan tubuh ke meja dan bergurau. "Kenapa kamu menyuapku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomantikPernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
