"Bu Weni, Bu Yem sama Bu Tin mulai hari ini sampai minggu depan fokus ngelihatin Simbok masak." Briefing pagi itu Mahika mulai dengan menjelaskan pada tiga dari lima kru baru lagi yang ia rekrut untuk memperlancar jalannya bisnis. Jadi sekarang, ia punya total sebelas tim yang bisa membantunya. Plus satu, Luisa, yang akan bergabung sebagai manajer ketika pulang nanti.
Keputusan ini ia ambil setelah melihat antusias pengunjung yang lumayan sejak Pawon Simbah dibuka. Rupanya, kedatangan orangtua Djati beserta para staff khususnya memang membawa dampak sebesar itu hingga semakin banyak yang tertarik datang untuk mencoba sendiri pengalaman makan di sini. Masalahnya, para simbok tidak akan selamanya bisa membantu. Jadi sebagai pegangan, ia mulai mencari tiga lagi orang yang berpengalaman di dapur untuk menggantikan tugas para simbok, jika nanti Ibunya tiba-tiba meminta kedua wanita itu pulang ke Solo. Setidaknya ia tak akan gila sendiri karena harus mengatasi pesanan demi pesanan tanpa kawan.
"Di sini, ngikutin resep aja nggak cukup. Beberapa makanan harus dimasak dengan step yang persis untuk mempertahankan cita rasa otentiknya. Jadi, saya tidak akan membiarkan Ibu bertiga membuat pesanan sebelum saya yakin kalian sudah paham betul bagaimana caranya memasak, dan memastikan rasanya sama," lanjutnya. "Saya bukan menyepelekan. Saya tahu Ibu bertiga sudah kenyang pengalaman di dapur. Tapi saya juga yakin, setiap dapur tidak sama. Saya mau kalian beradaptasi dengan dapur ini dan membuang semua pengetahuan kalian sebelumnya untuk mempelajari semua menu yang kita punya."
"Baik, Mbak."
Mahika beralih pada dua gadis yang masih mengenakan kemeja putih dan kain jarik, lalu meneruskan. "Beta mulai hari ini bantu Mbak Okta di kasir. Kamu sudah tahu caranya pakai mesin EDC belum?"
Gadis itu mengangguk. "Sudah, Mbak."
"Bagus. Kalau begitu, nanti tinggal ngikutin Mbak Okta untuk mengoperasikan mesin kasir, Pos transaksi sama closingan. Minggu depan saya lihat lagi, kalau sudah bisa semua, baru kamu akan dapat pembagian shift dan bergantian sama Mbak Okta."
Beta mengangguk paham.
"Mia, ya?"
"Iya, Bu--eh Mbak," sahut satu lagi kru baru di samping Beta. "Maaf, Mbak. Name tag saya ketinggalan di kosan." Ia mengusap bagian dada kemeja putihnya yang kosong, harusnya ada tanda pengenal di sana.
"Saya punya cadangan nama semua kru di laci ruangan saya. Nanti kamu ambil," kata Mahi pelan. "Hari ini, kamu hafalin semua menu sambil bantu-bantu Mbak Nisa, Safa, Laila, dan Umi nerima pesanan. Kalau lagi sepi atau kamu nggak tahu harus apa, kamu bisa ke belakang, bantu Mbak Ruri sama Afi cuci piring."
Mia manggut-manggut.
Mahika menatap semua kru yang berjajar di depannya. "Hari ini ada reservasi di bale besar dua kali. Yang pertama jam sebelas, dari tim film yang lagi syuting di kompleks belakang, dan yang kedua jam tujuh malam, dari perusahaan konstruksi Diamantara," beritahunya. "Jadi kalau ada yang telpon atau ada pelanggan yang nanya bisa pakai bale besar di jam-jam segitu atau enggak, kalian arahkan saja ke bale kecil kalau berkenan," katanya. "Bale besar baru bisa dipakai lagi sekitar pukul satu sampai pukul empat sore, setelah itu, jangan terima pesanan ke bale besar."
Semuanya mengangguk paham.
"Kalau ada yang reservasi bale besar, kalian datang ke Mbak Okta dulu, tanyakan, bisa atau enggak. Semua catatan reservasi bale besar dipegang sama Mbak Okta."
Begitu semuanya kompak mengiyakan, Mahi mengangguk puas. Memulai doa bersama pagi itu sebelum membubarkan semuanya ke posisi masing-masing. Begitu pun dirinya yang masih harus membuat beberapa konten untuk dimasukkan ke social media Pawon Simbah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomancePernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
