16. Kayu bakar dan perapian

24K 3.7K 567
                                        


"Hah?!"

Mahika bergegas meletakkan kembali botol kecap yang baru akan ia buka ke kardusnya. Mengapit ponselnya di pundak dan telinga guna mencuci tangannya sebelum keluar dari gudang penyimpanan bahan makanan. Mengurungkan niatnya membuka stok bahan-bahan yang baru saja datang sebab telpon mendadak dari adiknya. Ia bergegas pergi sembari mendengar suara tidak jelas Mahima di seberang sana. "Ngomong apa kamu ini?"

"Mahi, ini bon-- lho, mau ke mana?" tanya Luisa yang berpapasan dengannya di depan gudang. Gadis itu berlarian mengikutinya dengan kertas tagihan panjang dari barang-barang yang baru saja datang ke Pawon Simbah.

"Cha, tolong handle tagihan dulu," ucap Mahi, berhenti sejenak. Menutup ponselnya dengan sebelah tangan dan berujar. "Adekku nelpon. Kayaknya lagi ada masalah. Aku pulang ke belakang sebentar buat ngobrol," katanya. "Kamu bisa ambil kartu debit Pawon Simbah di dompetku, ada di ruang kerja. Tolong, ya!" pintanya.

"Oh, oke-oke." Luisa mengacungkan jempol. Membiarkannya pergi setelah itu.

Mahika kembali berjalan tergesa-gesa melewati para kru yang sibuk mondar-mandir melayani pelanggan. Jam makan siang adalah jam tersibuk menyusul jam makan malam di Pawon Simbah. Tapi ia harus pergi sejenak sebab feelingnya tak enak setelah mendengar aduan sang adik yang ia yakin masih di sekolah.

Mahi melewati pintu penghubung Pawon Simbah dan rumahnya, menutupnya lagi rapat-rapat sebelum berlarian untuk duduk di kursi terasnya. Kembali bertanya. "Ngomong pelan-pelan. Mbak nggak begitu dengar jelas omonganmu tadi." Dan ia rasa ia memang salah tangkap.

"Keluarga Notoseno, Mbak." Mahima bicara dengan nada jengkel. "Mereka bikin gosip yang enggak-enggak soal Mbak!" katanya. "Ibuknya Mas Esa bilang ke semua teman arisannya, kalau Mbak diputuskan sama anaknya karena Mbak hamil dari laki-laki lain. Dia bilang ke semua orang kalau sekarang Mbak tinggal serumah sama laki-laki asing, kumpul kebo."

Mahi mengernyit. "Hamil? Kumpul kebo?" ulangnya tak mengerti. Jadi, ia bukannya salah dengar tadi?

"Tadi pagi waktu Hima nunggu Pak Mujib ngeluarin mobil, Bude Sundari datang ke rumah. Bude juga ngobrolin masalah ini sama Ibuk. Para tetangga udah ribut ngomongin Mbak sekarang," adunya panjang lebar. "Dibilangnya, Mbak sudah mau lahiran di Jakarta, Mbak punya anak di luar nikah dan lain-lain. Hima bilang ke Bude kalau itu semua bohong, tapi Ibuk malah marahin Hima. Katanya Hima nggak sopan karena nyelak omongan orangtua, padahal mau orangtua atau bukan, kalau omongannya salah kan memang sepantasnya harus dibenarkan. Iya to, Mbak?"

Gadis itu menyandarkan punggungnya di kursi, menghela napas panjang dengan mata terpejam. Ketakutannya terbukti. Rupanya, keluarga Mahesa benar-benar tidak membiarkannya tenang setelah drama yang panjang ini.

"Bapak juga nggak kerja pagi tadi. Hima takut Bapak sakit gara-gara kepikiran masalah ini," ujar Mahima risau. "Hima takut Bapak sakit lagi kayak waktu dulu, Mbak."

"Bapak nggak bilang apa-apa?" tanya Mahi pelan. Mengurut pelipisnya sendiri.

"Mbak kan tahu, Bapak nggak pernah ngomong apa-apa," sahut remaja itu lirih. "Masalah Mbak kemarin aja Bapak diam terus. Nggak pernah nanggepin, apalagi yang ini."

Ciri khas Bapaknya sekali. Memendam isi kepalanya sendiri sampai jadi penyakit.
Dulu, empat tahunan yang lalu juga begitu. Ada sebuah masalah di keluarga, berkaitan dengan warisan ibunya yang diperebutkan oleh saudara-saudara yang lain. Cukup besar masalahnya hingga melibatkan hukum. Njelimet dan tak cukup satu-dua bulan rampung. Hampir setahun mereka bolak-balik pengadilan sampai akhirnya Bapak memutuskan, agar Ibuk mengikhlaskan seluruh haknya meski itu sama sekali tak adil. Lepas perkara tersebut, Bapaknya masuk rumah sakit karena stres. Berbagai macam penyakit yang tak pernah ada jadi muncul mendadak di tubuhnya. Bapaknya tak berdaya di ranjang rumah sakit berbulan-bulan lamanya, menjalani operasi ini-itu hingga akhirnya dinyatakan sembuh.
Orang-orang 'tua' berkata itu semua 'kiriman' dari sanak saudara Ibuk yang tak menyukai Bapak, tapi  Mahi pribadi percaya bahwa semua itu adalah buah dari rasa stres yang ditekan sedemikian rupa oleh Bapaknya.

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang