36. Segenggam pasir

21K 3.3K 545
                                        











"Makanya kalau di kasih tahu tuh dengerin baik-baik. Jangan malah pidato pakai bahasa Thailand. Beneran apes kan sekarang? Lo makan tuh nongspraya longlingmao kha-kha-kha," ledek Djati dengan tawa puas, terbahak-bahak sambil melipati bajunya, melirik si adik yang tidak menjawab. Masih khusyuk mendalami kegagalannya. "Pongo," imbuhnya. "Utekmu anget bisnis kilat, melarat kilat yang ada," ejeknya tak henti-henti.

"Pulang, Mas?"

Djati sontak menoleh kearah pintu. Menyambut ayahnya yang masuk ke kamar dengan senyum tipis.

"Ngambil baju, Pa. Besok nggak pulang, soalnya. Mau nginep di galeri buat gladi."

Saleh manggut-manggut pelan, mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, menepuk punggung Djiwa yang masih tengkurap di kasur si kakak, malas beranjak. "Kamu, lik?"

"Anggap aja aku nggak ada, Pa. Aku lagi banyak pikiran, tolong jangan di ganggu."

"Habis ketipu dia, Pa. Duitnya di gondol temennya," jawab Djati, masih sibuk memasukkan baju-baju ke ransel. Menghentikan gerakannya ketika sadar tatapan sang ayah sejak tadi lurus padanya. Djati menoleh, balas menatap ayahnya heran. "Papa ada yang mau di omongin sama Mas Djati?"

Saleh mengangguk. Menepuk-nepuk tempat di sisinya lembut. "Minta waktumu sebentar."

"Aku keluar nggak?" tanya Djiwa, angkat kepala.

"Boleh," jawab Saleh. "Kalau tidak mau pun nggak masalah. Yang penting tutup telinga."

Djiwa manggut-manggut. Meraih earplug dan menyumpalkan benda itu ke telinga, kembali menyurukkan kepala di bantal. Pura-pura mati sebentar.

"Kenapa, Pa?" tanya Djati, duduk di sebelah ayahnya, menanti pria itu bicara.

"Papa butuh bantuanmu sedikit," ucap Saleh mengawali. "Mas Arman kemarin bilang ke Papa, banyak sekali yang berharap kamu datang ke hari jadi partai minggu depan. Cukup datang dan duduk saja, Mas. Tidak perlu melakukan apa-apa."

Djati mendesah. "Pa," gumamnya berat hati. "Di acara itu bukannya akan ada banyak media, ya?" tanyanya. "Sama aja aku mengiyakan terjun kesana."

"Enggak, Mas. Wong ini cuma perayaan saja, anggaplah kamu sedang hadir di acara ulangtahun Mbahkungmu. Biar Mas Arman yang nanti mengurus media supaya tidak ada berita apapun." Saleh meyakinkan. "Nggak perlu lama-lama. Lima menit saja cukup, Le."

Djati terdiam, belum juga menolak atau mengiyakan.

"Ada sedikit konflik internal dalam partai beberapa bulan terakhir setelah pergantian  menteri dalam kabinet kerja Papa," desah Saleh pelan. "Kalau Mbahkungmu masih ada, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi," gersahnya. "Barangkali benar kata orang-orang selama ini, Papa tidak sekuat itu sampai kurang di segani oleh anggota sendiri."

"Nggak gitu, Pa," sergah Djati, tak setuju. "Pemimpin yang terlalu kuat juga nggak akan bagus buat kedaulatan masyarakat. Kita pernah punya sejarah buruk soal pemimpin yang seperti itu," ucapnya. "Papa udah sesuai porsi. Memang nggak akan ada yang sempurna, sedikit kurang bukannya justru tanda kemanusiaan, Pa?" tanyanya.

Saleh mengulum senyum tipis.

"Orang yang punya dua anak aja pasti ada salah satu yang merasa di perlakukan kurang adil, apalagi Papa yang punya jutaan anak? Mustahil jadi sempurna untuk semua orang," belanya. "Lagipula kenapa Papa harus khawatir soal orang-orang partai yang nggak pernah puas? Keberadaan mereka harusnya membantu Papa, bukan malah sebaliknya. Jangan sering di suapi. Sesekali biarkan kelaparan supaya mereka tahu susahnya nyari makan. Aku justru bangga waktu dengar beberapa orang titipan partai itu Papa ambil paksa kursinya demi orang lain yang lebih mumpuni. Banyak lagi orang yang memuji keputusan Papa di luar sana."

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang