39. Kuda hitam

25.8K 3.4K 648
                                        












"Dinner sama Om Sumarji lagi?" tanya Mahika saat Djati datang dengan setelan rapi. Kemeja putih yang di masukkan dalam celana bahan warna hitam. Sepatu pantofel, jam tangan mewah. Rambutnya lebih tertata dari biasanya, dan Mahika bisa mengendus aroma parfum mahal yang jarang Djati kenakan apabila bukan untuk kegiatan bersama orang-orang penting.

Lelaki itu mengangguk, menutup pintu ruang kerja Mahika pelan sebelum berjalan mendekat dengan dekhem tak enak. "Papa baru pulang dari Dubai semalam, badannya masih capek. Jadi Mas di minta gantiin," katanya. "Cuma acara makan malam biasa."

Mahika menghela napas panjang, berdiri dari kursi lalu bertanya. "Di liput, nggak?"

"Belum tahu," ujarnya. "Kalau dinner sih, biasanya enggak. Cuma, karena beberapa hari ini lagi banyak berita nggak enak, jadi Mas nggak janji disana nggak akan ada media resek yang diam-diam ngambil gambar." Ia meraih tangan Mahika untuk di kecup. "Kalaupun ada ... nggak apa-apa, ya?"

Mahi menyandarkan pinggulnya di ujung meja, menatap lelaki itu lama sebelum menghela napas lagi, menundukkan kepala dan membisu, belum memberi jawaban.

"Diajeng," panggil Djati lembut. Melangkah lebih dekat, menumpu sebelah tangan di sisi pinggang Mahika. "Nggak berantem lagi, ya?" bujuknya. "Hm?" Mengusap pipi Mahi dengan sebelah tangan yang bebas. "Besok kan kita pulang ke Solo buat minta restu?"

"Makanya itu," gumam Mahi lirih. "Kenapa harus di saat-saat begini, sih?" Ia mendongak. "Orangtuaku baru luluh soal berita Mas yang datang ke acara partai beberapa bulan lalu. Kalau muncul berita lagi besok, rencana kita gimana?" tanyanya lembut. Cukup hati-hati menyuarakan protes, khawatir pertengkaran pecah lagi setelah ia berusaha meredam ego berbulan-bulan lamanya.

Barangkali Mahika akan dianggap tukang mengeluh setelah ini. Tapi sungguh, ada saja masalah dalam hubungan mereka. Entah kenapa, satu perkara hilang, satu perkara muncul lagi. Orangtuanya baru sebentar lupa, sudah mau ada masalah lainnya. Pertanyaannya, kenapa selalu di saat-saat mereka hendak minta restu, Djati selalu diutus datang ke acara-acara begitu?

"Mas udah bilang sama orang rumah apa belum sih, kalau kita besok mau pulang ke Solo?"

Djati mengangguk. "Papa bilang, kalau besok dapat restu, lusanya Papa sama Mama langsung nyusul buat silaturahmi."

"Bukan masalah nyusulnya. Tapi kenapa sih, harus Mas terus yang di suruh ke acara begituan? Mas nggak bilang ke beliau kalau orangtuaku nggak suka Mas ikut politik?"

Djati mengerjap dan menggeleng. "Mas khawatir penilaian Papa ke orangtuamu jadi jelek kalau tahu itu," gumamnya. "Mas berusaha hati-hati biar keluarga kita nggak bentrok," gumamnya. "Mas bisanya bantu Papa di saat-saat begini," lanjutnya. "Mas nggak tega nolak. Papa kasian banget, di tekan sana-sini. Kalau Mas bisa bantu meringankan, kenapa enggak?"

"Tapi kita yang jadinya nggak ringan, Maaas," rengeknya, memegangi bagian dada kemeja Djati seraya menggersah. "Udah mau tiga tahun." Suaranya merendah. "Kita masih begini-begini aja. Tiap kali situasi agak tenang, Mas disuruh datang ke acara begitu, nanti orangtuaku kumat rewelnya. Kita harus mulai lagi semuanya dari awal. Muter-muter gitu terus, nggak ketemu jalan keluarnya," keluhnya. "Bisa nggak, Mas bilang ke Papa ..." penggalnya, memelas. "...tunggu sampai kita nikah. Kalau kita udah sah, sesekali Mas bolehlah datang buat gantiin beliau. Toh orangtuaku nggak akan bisa ngapa-ngapain lagi. Nggak mungkin juga mereka narik balik restunya," ujarnya. "Kita urusin diri kita dulu. Rampungin dulu masalah restunya. Kalau nggak gitu, sampai tua kita bakal begini terus," gumamnya. "Aku udah pengen banget nikah tahun ini."

Djati mendesah berat. "Mas juga, Sayang."

"Ya makanya ..." ucapnya, menghentakkan kaki dengan sendu. "Jangan malam ini. Besok kan kita mau pulang Solo minta restu," bujuknya. "..ya? Jangan ya, Mas? Jangan kesana."

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang