21. Api-api yang terpercik

24.8K 3.6K 632
                                        







Mobil itu remang-remang dengan suara musik yang mengiringi perjalanan pulang. Tidak ada suara selain musik itu, juga gerakan tangan Djati tiap kali memutar kemudi. Keduanya amat tenang, sekian lamanya.

Mahika sejak tadi terdiam, membiarkan tangannya aman dalam genggaman Djati yang juga tak memaksanya bicara. Ia masih menatap jalanan yang padat malam itu, dengan rintik-rintik hujan yang mulai deras perlahan. Becek dimana-mana, membuat para pengendara motor tak punya pilihan kecuali berteduh di emperan-emperan toko yang tutup dini. Mahika termenung, memikirkan banyak hal bersamaan. Kepalanya penuh sekali hingga rasanya mau meledak. Jika bisa di copot dan di pasang ulang, Mahika ingin mencopot kepalanya sejenak karena rasanya sangat berat. Ia baru sadar sekarang, rupanya dirinya terlalu cengeng jadi perempuan. Ia jarang memvalidasi perasaannya selama ini.

Mengeluarkan unek-uneknya pada Mahesa dan mengutarakan rasa kecewanya secara gamblang memang sedikit melegakan. Tapi, mendengar tanggapan lelaki itu pada kemarahannya justru menimbulkan tekanan baru di kepala dan hatinya. Ia kesal karena baru sadar, sosok lelaki yang pernah ia kagumi setengah mati dan nyaris ia jadikan ayah untuk keturunannya ternyata seburuk itu. Ia lebih patah hati mendengar Mahesa mengancamnya di banding saat mendapati lelaki itu berselingkuh dengan Dani. Ia sangat marah pada dirinya sendiri karena tak menyadari ini lebih awal.

"Tissue-nya ada disitu, ya."

Mahi menoleh, menatap Djati yang masih fokus menyetir dengan sebelah tangan, sementara dirinya kini ribut mengusap pipi yang basah menggunakan tangan kirinya yang bebas. Geleng-geleng kepala. "Nggak mau tissue," jawabnya dengan suara parau lagi sendu.

Mahika suka sekali dengan respon Djati sekarang. Lelaki itu tak seperti orang lain yang selalu berkata 'jangan nangis' tiap kali melihatnya meneteskan airmata. Djati membiarkannya menangis sepuas hati, tak sedikitpun menginterupsi. Tidak bertanya pula. Djati membuatnya merasa aman dan tidak khawatir kelihatan lemah di saat begini.

"Mau nyari yang manis-manis sebelum pulang, nggak?" tawar Djati lembut. "Depan ada indomaret. Mas beliin eskrim mau?"

Mahika geleng-geleng lagi. "Mau pulang aja."

Djati menoleh sejenak, mengangguk pelan. "Oke, Diajeng. Kita pulang," ujarnya, membawa tangan kanan Mahika yang ia genggam ke bibir, mengecupnya kilat.

Melanjutkan perjalanan lagi sementara Mahika kembali menatap ke jendela. Mengamati kaca yang mengembun tanpa suara. Begitu lama, sampai akhirnya mobil yang mereka naiki memasuki halaman Pawon Simbah. Terhenti di depan patung pengantin selamat datang dan Djati  lekas melepas sabuk pengaman di tubuhnya, juga di tubuh Mahika tanpa diminta.

"Sudah sampai," katanya. Menarik tissue dan mengusap wajah Mahi yang lembab bekas airmata dengan telaten. Tidak bicara apa-apa lagi hingga Mahika yang lebih dulu bergumam.

"Kadang-kadang aku cengeng," akunya.

Djati tersenyum simpul dan membalas. "Menangis itu tanda bahwa hati kita masih lembut. Dan hati yang lembut itu berkah."

Ibunya selalu bilang menangis adalah kelemahan. Tapi Djati justru bilang menangis merupakan berkah. Ia lebih suka percaya Djati kali ini.

"Aku sedih karena aku hampir aja nikah sama laki-laki macam itu," katanya pelan. "Aku marah banget karena orang yang kupikir hebat ternyata sejahat itu," cicitnya, belum selesai. "Aku juga sebel di bilang kucing manis sama orang kayak dia."

"Nggak apa-apa," jawab Djati lembut. Melipat tissue di tangannya sebelum di buang ke tempat sampah kecil di bawah mereka. Mengusap pipi Mahika dengan jari-jarinya yang besar lagi hangat selagi meneruskan. "Kucing kan lucu?"

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang