Semua orang berkata, Djati adalah sosok yang kaku, membosankan dan kurang hangat sebagai pria. Djati keras kepala dan tak mau mengalah. Djati galak. Djati tidak romantis. Djati blablabla. Tapi dalam kacamata Mahika, Djati justru kebalikan dari semua yang orang-orang katakan padanya.
Luisa bilang, Mahika kena pelet. Sementara Djiwa berkata, Mahika hanya kurang pengalaman saja. Tapi Mahi sendiri menganggap, ia sudah memberikan penilaian yang akurat, tidak kurang dan tidak lebih soal Mas Djati-nya.
Djati memang agak kaku, ia tak akan menyangkal fakta itu sebab setengah tahun saling kenal pun, lelaki itu baru sekali menciumnya. Djati keras, tapi lembut pada Mahika. Bersamanya, Djati tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya keras kepala, apalagi tak mau mengalah. Djati selalu bilang 'Iya, Diajeng' , 'Siap, Diajeng' , 'Oke, Diajeng' , dan 'Ya udah, aku minta maaf ya, Diajeng' padanya tiap saat tanpa jeda. Di mana letak tak mau mengalahnya?
Soal galak ... ini subjektif. Tergantung siapa yang berhadapan dengannya dan dalam keadaan macam apa Djati kala ditanya. Kalau misal, ia sedang bersama Djiwa, maka ya. Djati memang galak sekali dengan adiknya. Lelaki itu sendiri telah mengaku, bahwa sulit baginya bicara pelan saat bersama Djiwa. Tapi, bukankah semua saudara begitu bentukannya? Hei, bukan hanya Djati. Mahika juga begitu pada Mahima. Benar atau pun salah, ia selalu memandang adiknya macam nyamuk kecil yang berisik dan harus ditepuk supaya berhenti membantah. Normalnya, seakur-akurnya saudara, pasti lebih banyak bertengkarnya. Jadi pernyataan mengenai Djati galak ini, tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah. Menurut Mahika, Djati bukannya galak. Ia hanya tegas. Itu saja.
Soal Djati yang katanya tidak romantis. Balik lagi, romantis adalah suatu kata yang penafsirannya akan berbeda dari satu orang dengan orang lainnya. Ada yang merasa seseorang romantis dengan selalu memberi bunga, ada pula yang merasa pasangannya romantis hanya dengan perhatian-perhatian kecil yang jarang ternotice. Kalau Mahika, jujur ia adalah tipe yang terakhir.
Ia tidak butuh bunga. Ia hanya butuh Sedjati di sampingnya sebanyak yang ia dan lelaki itu bisa.
Ia suka dengan gerak-gerik kecil yang Djati tunjukkan tiap bersamanya. Ia suka ketika Djati membantu memasang dan melepas helm di kepalanya ketika mereka motoran berdua. Ia suka tiap kali Djati sigap mengambil sedotan untuk dimasukkan ke gelasnya, juga membersihkan sendok dan garpu yang hendak Mahi pakai tiap kali mereka makan di luar bersama. Mahi suka saat Djati diam-diam membawa kipas kecil dalam ranselnya untuk selalu memastikan ia tak kegerahan di mana pun mereka kencan. Ia suka dengan semua yang Djati lakukan. Ia suka semuanya, sungguh. Mahika tak peduli apa patokan romantis, tapi Djati sudah sangat sempurna untuknya.
Gombalan-gombalan lelaki itu barangkali sangat garing dan membuatnya geli. Tapi hari Mahika bisa sangat hampa kalau sehari saja tak ada chat dari Djati untuknya.
"Aku harus pose gimana?" tanyanya. Terduduk di samping jendela ruang melukis, sementara lelaki itu ada beberapa langkah jauhnya. Tengah menggoreskan sesuatu di kanvas besarnya.
"Nggak perlu pose. Kamu ngapain aja bakal kelihatan sempurna," jawab Djati, mengulum senyum santai. "Duduk aja senyaman kamu." Ia beralih mengambil papan tempat ia mencampurkan warna-warna cat sebelum dipakai. Lelaki itu sibuk menata meja. Meraut pensil sambil sesekali memandangi Mahi yang duduk gugup di depannya dengan geli.
"Katanya Mas nggak suka ngelukis orang?" tanya Mahika lagi.
"Emangnya kamu orang?" tanya Djati balik. Mengambil seputung rokok untuk dinyalakan. "Kamu kan bidadari," gombalnya. Menghisap rokok di bibir lalu meletakkan batang kretek itu di meja.
Mahika memicingkan bibir, berlagak geli sedang Djati terkekeh santai menanggapi.
"Judulnya nanti apa, Mas?" tanya Mahi yang penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomancePernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
