Perhatian : Tulisan ini hanya fiksi. Tokoh, tempat, kegiatan, dan segala bentuk yang disebutkan dalam cerita dibuat berdasarkan imajinasi penulis, tidak ditujukan untuk pihak mana pun. Tidak memuat konten dukungan terhadap siapa pun. Tidak bertujuan apapun selain menghibur. Terimakasih atas pengertiannya.
****
Paris, Prancis.
"Gue mau balik Jakarta."
"Kapan?"
"Malam ini juga."
Perempuan itu sontak menoleh, mengerjap kaget. Meninggalkan manekin dan kain-kain yang ia bentuk di atasnya untuk bergegas menuju meja. Rambutnya tergelung dengan pensil, meteran kain terkalung di leher, dan puluhan jarum tertusuk di gulungan kecil yang kini ia lilitkan sebagai gelang. "Kenapa?" tanyanya, berdiri di depan muka Djati, membingkai wajah lelaki itu serius. "Bokap lo di kudeta? Ada pemberontakan besar-besaran di sana? Iya?"
Sedjati mendengus. "Ucapan adalah doa, Kalila. Jangan sembarangan." Lelaki itu meletakkan cangkir kopinya. Mengibaskan tangan Kalila dari pipi, membuat perempuan itu tergelak santai.
"Bercanda," guraunya. Menarik kursi untuk diduduki. Perempuan itu menopang dagu dengan sebelah tangan, mengamati Djati sekian lama sebelum menawarkan. "Mau bobok sama gue dulu nggak, sebelum balik?" Seringai jahil tampak nyata di bibirnya yang tipis. "Yuk sini. Kasur gue udah lama dingin." Tentu guyon-guyon seperti ini tak bisa dipakai pada sembarang orang. Hanya saja, karena mereka memang sudah lama berkawan, maka ia seringkali melontarkan candaan-candaan serupa tanpa sungkan. Bukan berarti sungguhan. "Barangkali nanti lo kangen kelonan sama gue."
Djati memutar mata. "Shut up."
"Galak," cibir perempuan itu, menjawil lengan Djati pelan. "Kenapa buru-buru baliknya, sih?"
"Disuruh nyokap," jawab Djati pendek. "Lo kapan balik Indo?"
Kalila mengendik. "Gue denger Mas Ka punya mainan baru. Jadi mungkin ... mmm, gue balik nanti, kalau Mas Ka udah bosen sama mainannya yang sekarang."
"Nggak baik doain orang berpisah," sahut Djati lagi. "Harusnya doain biar langgeng."
"Kocak lo. Kalau Mas Ka langgeng sama cewek lain gue yang mewek, tolol." Ia ketawa-tawa geli. Menjentikkan jari ketika teringat sesuatu. "Lukisan lo jadinya gimana?"
"Nah, itu. Sementara gue balik, itu barang-barang niatnya mau gue kost-in sama lo. Boleh, kan?" Ia menoleh ke belakang, melirik dua lukisan dan satu kotak berisi hasil fotonya selama beberapa bulan di sini. "Paling tiga atau empat bulan bakal gue ambil lagi. Tolong simpenin dulu."
Perempuan itu mengangguk tanpa banyak pikir. "Taruh aja di studio dua. Di sana juga banyak barangnya Luis, nggak tahu deh, kapan diambilnya," ujarnya. "Si brengsek itu tiap kali dateng selaluuuu aja bawa cewek yang beda-beda. Peninggalannya dititip sini semua, menuh-menuhin studio. Udah lah nggak pernah bantu gue bayar sewa, nitipin barang aneh terus, emang bangsat."
Senyum Djati terkulum tipis. "Ngomel langsung ke orangnya, jangan ke gue." Ia berdiri dan lekas mengangkut barang-barang bawaannya ke tempat yang Kalila sebutkan tadi. Letaknya tak jauh. Ia hanya perlu berbelok sekali setelah masuk studio yang penuh dengan aneka busana cantik buatan perempuan itu. Bicara soal bakat mendesain baju, Kalila memang tak bisa diremehkan. Karirnya yang cemerlang di negara orang lebih dari cukup dijadikan bukti, tentang betapa besar kerja keras yang ia bangun selama ini. Sudah banyak koleksi-koleksinya yang ikut tampil di event besar, atau bahkan berkolaborasi dengan desaigner kondang lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomancePernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
