"Selamat pagi."
Sapaan itu manis sekali, seperti madu yang ia icip ketika berbuka. Dan pemiliknya jauh lebih manis lagi, menawan dan tak tergambarkan sempurnanya meski hanya berdiri di samping ran-- huh? Tunggu dulu ...
"Diajeng?" Djati mengernyit, mengerjap kaget melihat sesosok gadis dengan terusan abu selutut tanpa lengan tengah berdiri di sisi kasur. Rambutnya yang panjang di tekuk ke belakang sembarangan, tapi sumpah demi apapun, itu tak mengurangi sedikitpun pesonanya. "Diajeng?" ulang Djati, belum percaya dengan apa yang ia saksikan.
Otot-otot tubuhnya masih malas di gerakkan ketika gadis itu mendekat, menimbulkan suara decit reot pada kerangka ranjang tua yang ia tempati, sebab satu tubuh lagi naik ke kasur, berbaring miring di sebelahnya yang masih mengumpulkan nyawa.
Seingat Djati, ia baru saja memejamkan mata di kamar sehabis memimpin sholat subuh di rumah ini tadi. Tapi tunggu ...
"Dalem," jawabnya lembut. Menumpu kepala dengan sebelah tangan, tersenyum manis sekali. "Sudah bangun?"
Djati menggersah, menutup mata sejenak sambil bergumam nelangsa. "Bangsat, mimpi begini lagi," rutuknya, ribut mengumpat alam bawah sadarnya yang kotor macam tempat sampah. Entah apa yang salah dari otaknya. Bisa-bisanya ia mengulang mimpi tak senonoh ini lagi ketika sedang bertamu ke rumah orang. Benar-benar sial.
Ia harap ketika mengerjap, mimpinya akan berakhir dan ia tak perlu bermain-main dengan gadis yang siap meluluhlantakkan kewarasannya bahkan dalam tidur ini. Ia harap Mahika menghilang saat ia membuka mata. Tapi bedebah, keinginan lugunya tak terjabah. Bahkan setelah Djati mengerjap-ngerjap lebih dari tiga kali, Mahika masih setia berbaring di sebelahnya. Memanjakan penglihatannya dengan wajah segar nan jelita, dan kini Djati siap menerkamnya kapan pun jika saja tidak do ... Oh, tunggu. Bukankah ini mimpi? tanya Djati dalam hati. Akhirnya memutuskan membuka mata.
Ya. Ini cuma mimpi. Kalau disini ia menyentuh Mahika sedikit ... bukankah tak apa?
"Bangsat," gumam Djati, antara takjub dan jengkel dengan isi kepalanya.
"Hum?" Mahika di mimpinya itu mendekat lagi, mengulurkan tangan dan menyisir rambutnya dengan jemari. "Habis subuhan bobok lagi. Nggak baik, tahu."
Djati melenguh. Putus asa mengusir mimpinya dan berakhir jadi pecundang. Ia dengan senang hati hanyut dalam alam bawah sadarnya yang menggila. Persertan lah. Mau mimpi mesum, mau mimpi basah, terserah. Bukankah lebih baik jika ia bermimpi begini? Toh dalam keadaan nyata, ia tak mungkin punya nyali menyentuh Mahika sejauh ini.
Ya. Tentu saja. Mari manfaatkan mimpi gila ini dan bangun sebagai Sedjati si lelaki penakluk gairah di depan Diajeng-nya. Lagipula Mahika tak akan tahu apa yang ia lakukan di dalam mimpi. Hanya Djati yang tahu soal ini. Tentu.
"Sayang," panggilnya manja. Menarik pinggang gadis itu mendekat. Mempertemukan detak-detak jantung mereka yang berpadu seirama. Aroma bebungaan yang feminin lagi lembut langsung menyergap penghidu-nya kala Djati mengadu jidat mereka. Mengecup pipi yang merah merona tersebut dengan khayal nakal yang merajalela. Terlanjur basah, berenang saja sekalian. Toh ia akan bangun nanti, pikirnya. "Cintaku," pujanya, mengecup pipi gadis itu lagi dengan mesra.
"Tumben," bisik si gadis, terkekeh gugup. Menarik selimut dan bergabung dalam kehangatan tubuh Djati yang sebentar lagi berkobar. Ralat. Djati tak hanya hangat sekarang, Djati sedang panas membara. Matanya yang tajam menyala, memamerkan api-api imaji pada Mahika yang lantas bersemu lagi, makin salah tingkah. "Kenapa?" tanyanya, memainkan telunjuk di rahang, mengusap bulu-bulu tipis di sekitar wajah Djati dengan perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomansaPernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
