8. Ternyata, Djati pantang menyerah

27.9K 4.5K 1.1K
                                        


Tiga kali ketukan membuat pria itu mengakhiri panggilan, meletakkan gagang telpon kembali pada papannya. Ia masih duduk di sofa tunggal sembari memangku buku ketika menoleh, mempersilakan putranya yang mengintip di pintu untuk masuk, duduk di depannya.

"Sudah pulang kerja, Mas Djati?" sapanya, tersenyum simpul.

Sementara si anak mengangguk pelan. Kedua tangannya otomatis tertumpu di atas pangkuan kala ia berdekhem, membalas. "Kata Mama ... Papa mau ngobrol?"

Saleh mengiyakan. "Gimana kerjaanmu?" tanyanya lagi, terdengar macam basa-basi ayah anak yang jarang bersua. "Papa sudah lama nggak dengar kamu mengeluhkan sesuatu. Terakhir kamu ngeluh waktu masih SMP, setelah itu Papa berasa kamu jadi bujang lebih cepat dari adikmu." Senyumnya kembali dengan lebih hangat.

"Kerjaan lancar, Pa. Alhamdulillah. Nggak ada masalah."

"Mm, nggak ada masalah," ulang Saleh manggut-manggut, menatap putranya cukup lama sampai lelaki muda itu mengerjap.

"Aku ... ada salah ya, Pa?" tanya Djati ragu. Seingatnya, ia tidak habis melakukan sesuatu. Tapi mengingat kesibukan ayahnya yang padat merayap, tidak mungkin sekali ia dipanggil semalam ini tanpa alasan.

"Salah? Enggak. Nggak ada," sahut Saleh santai. Namun masih menatap Djati tanpa henti. Mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum akhirnya membuka buku yang ada di pangkuan dan menyodorkan beberapa lembar foto ke paha putranya. "Ini kamu bukan, Mas Djati?" tanyanya.

Djati menunduk, menatap gambar-gambar dirinya dan Mahika beberapa waktu lalu satu persatu. Ia menghela napas panjang, mengamati angle foto yang membuat mereka kelihatan intim sekali, jauh dari realita yang ada. Namun pertanyaan ayahnya bukan 'apa yang kamu lakukan' , melainkan 'apakah benar itu kamu?' Jadi, tentulah Djati harus mengangguk. Sebab sepanjang ingatannya, itu memang benar dirinya.

"Iya, Pa. Ini Mas Djati."

Saleh ber'oh' pelan. Menarik sebelah kakinya yang tadi saling silang kemudian lanjut bertanya. "Lama kenalnya, Mas?"

Djati mendongak, geleng-geleng kepala. "Baru sebulan, Pa."

"Lama itu," kata Saleh segera. "Papa kenal Mamamu sebulan langsung menikah," lanjutnya.

"Kalau begitu nasib Papa mujur. Sekali tangkap langsung dapat Mama," sahut Djati dengan senyum tipis. "Jaman sekarang, anak muda maunya pendekatan dulu sebelum sampai ke tahap sana."

Saleh mendengus, mengetuk-ngetukkan telunjuk di lengan sofa seraya menatap anaknya lagi. "Kamu tahu dia siapa?"

"Namanya Mahika," jawab Djati dengan nada kalem. "Diajeng Mahika Lakshmidevi Haryokusumo. Nama Bapaknya, Raden ngabehi Soeroso Djatmiko Haryokusumo. Nama kakeknya Raden Mas Soemoyo Haryokusumo. Lebih banyak yang aku tahu atau yang Papa tahu, kira-kira?" tanyanya balik.

"Nama mantan calon suaminya?" tanya Saleh santai, memainkan sebelah alis. Ditanggapi tak kalah santainya oleh Djati yang tengah meletakkan foto-foto dirinya dan Mahika ke sisi tubuh.

"Mahesa Notoseno," ujarnya. "Salah satu yang menggerakkan massa dari daerah Surakarta untuk Papa di pemilihan pertama dulu, bukan?"

Saleh mengiyakan. "Sekarang juga masih."

"Oh," gumam Djati paham. "Tapi nggak ada urusannya denganku ya, Pa? Yang nyalon kan Papa, bukan aku."

Saleh mendengus. "Nggak usah khawatir, Papa bukannya mau ikut campur urusan asmaramu, Mas."

"Tapi aku dipanggil malam-malam?"

"Soalnya kamu susah dicari kalau siang," balas Saleh kalem. "Papa dapat foto itu waktu rapat timses minggu lalu."

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang