32. Tangguh bersama

21.2K 3.2K 497
                                        











"Biar Mas yang bawa. Kamu pamitan aja dulu ke Bapak sama Ibuk."

Mahika mengangguk, menyerahkan kopernya untuk kemudian berpindah ke tangan Djati, menggumam kata terimakasih pelan sekali. Ia mengekori langkah lelaki itu sambil berpegangan pada ujung jaketnya, mendongak, mengerjap dengan sedih. Teringat percobaan mereka yang gagal kemarin.

"Gimana dong, Mas?" tanyanya lirih. Kini menjatuhkan kepala ke punggung, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Djati, memeluk dari belakang sambil jalan.

"Hm? Apanya yang gimana?" Djati menoleh sejenak. Tangan kanannya menggeret koper Mahika sedang tangan kirinya mencangklong ransel yang ukurannya lebih besar dari si gadis yang kini menggelayut manja di punggungnya. "Eh, jangan peluk-peluk gitu. Nanti kelihatan Ibuk, kamu di marahin lagi. Minggir," bisik Djati pelan. "Lakshmidevi Haryokusumo," peringatkannya. "Sana."

Mahi mengerucutkan bibir, melepaskan pelukannya dan menatap senyum di bibir Djati yang melengkung santai.

"Nanti aja peluknya. Pamit dulu sama Bapak Ibuk," suruhnya. "Ngomongnya yang baik, nggak boleh pakai nada tinggi. Mm?"

Mahi manggut-manggut. "Mm."

Jika ada daftar manusia paling sabar semuka bumi, maka Mahi jelas akan memasukkan nama Djati di dalamnya. Entah hati seorang Sedjati ini terbuat dari apa. Setelah lamarannya di tolak oleh kedua orangtuanya, ia masih bisa bersikap sebegini baik dan tulusnya.

Ya. Djati di tolak kemarin. Bukan hanya Djati, melainkan Mahika juga. Keinginan mereka masih terganjal restu. Kata 'iya' dari mulut Bapak dan Ibuk belum mereka kantongi meski kemarin, Djati sudah bicara panjang lebar, berputar-putar dengan banyak janji manis macam politisi yang sedang berkampanye di depan para pemilih. Semua perkataan Djati masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri kedua orangtuanya. Alih-alih mengiyakan, Bapak justru berkata,

"Berteman saja kalian. Untuk saat ini, cuma itu yang bisa Bapak perbolehkan."

Dan Ibuk menambahi, "Jalani saja dulu yang sekarang kalian mau. Nanti cepat atau lambat kalau ketemu ketidakcocokan satu sama lain, semoga bisa berpisah baik-baik dan kalian bisa langgeng melanjutkan hubungan sebagai saudara jauh."

Lah. Orang Djati dan Mahika-nya ngebet kawin, Ibuk malah mendoakan mereka berpisah. Mahika masih berdecak sebal kalau mengingatnya. Jelas-jelas kedua orangtuanya hanya sedang menolak dengan cara mengulur waktu. Nanti-nanti, mereka hanya berharap hubungan Djati dan Mahika kandas di tengah jalan agar tak perlu vokal mengatakan tidak. Dan Djati yang seratus kali lipat lebih pintar darinya, tentu saja langsung paham tentang itu.

Mereka tahu perjalanan mereka masih panjang. Keduanya bicara lagi dari hati ke hati sampai akhirnya sama-sama sadar, bahwa saat ini, mungkin memang belum saatnya bagi mereka menginjak garis finish. Harus ada beberapa langkah lagi yang perlu di kejar dengan gigih bersama.

Yang membuat Mahika kagum adalah sikap Djati yang tak terpengaruh sama sekali. Bahkan setelah di tolak pun, lelaki itu masih bisa tersenyum dan menganggukkan kepala, menerima jawaban menyebalkan dari kedua orangtuanya dengan lapang dada. Djati masih sempat-sempatnya mengurus administrasi kepulangan Bapak dari rumah sakit. Membantu membopong Bapak ke kursi roda, menaikkan dan menurunkannya dari mobil, segala macam. Mengisi posisi anak lelaki yang tak pernah keluarga mereka miliki sebelumnya. Bahkan ketika jaman Mahesa dulu pun, Bapak dan Ibuk segan memintanya datang berkunjung ke rumah saat sedang pulang dari Singapura. Tapi dengan Djati ... entah perasaan Mahika saja atau bagaimana. Tapi kedua orangtuanya tampak santai menerima semua kebaikan Djati tanpa sedikitpun rasa tak enak.

Djati itu sungguh .... idaman sekali. Mau cari dimana menantu lurus, nggak neko-neko, pekerja keras dan rajin ibadah macam ini? Heran. Kenapa sih, orangtuanya tak satset menerima seperti Mahika yang satset jatuh cinta?! Apa kurangnya Djati, coba?

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang