Oke. Baiklah.
Mari lupakan tentang kebiasaan tidak sopan Djati padanya beberapa waktu lalu, sebab Djati sudah dengan tulus minta maaf padanya. Selain itu, Luisa dan Djiwa juga memberi pembelaan yang meyakinkan, bahwa Djati memang punya kebiasaan 'nyemek-nyemek' Djiwa sejak kecil dulu. Jadi clear, Djati memang tak berniat melecehkannya. Itu hanya sebuah kebetulan, dan apesnya Mahi yang kena. Mahi sudah memaafkan Djati. Tidak apa-apa.
Sekarang, biarkan Mahika membanggakan diri sejenak.
Rupanya, minggat dari rumah bukanlah akhir dari kehidupan Diajeng Mahika Lakshmidevi Haryokusumo. Oh ya, terimakasih banyak pada manusia baik manapun yang telah mendoakannya. Mahika tak semenyedihkan apa yang ia bayangkan, ketika pertama kali meninggalkan rumah hanya dengan sebuah koper dan duit pas-pasan. Ini semua berkat Bapaknya dan orang-orang dari bengkel sebelah.
Renovasi besar-besaran Pawon Simbah berjalan lancar sejauh ini. Lima puluh persen sudah progress-nya. Mahika mulai bisa mencium bau uang ketika melihat bentuk Pawon Simbah yang jauh lebih baik sekarang. Beda sekali dengan Aon Ah yang membuatnya frustasi bulan lalu. Tidak. Tidak salah. Hari ini memang tepat sebulan ia menginjakkan kaki di Jakarta.
Hidup Mahi memang tak senyaman dulu. Tapi, hidup sederhana macam ini juga tidak seburuk itu.
Gadis itu masih sering wara-wiri ke bengkel, meski sekarang Luisa dan Djiwa telah tiada--oh, bukan tiada yang begitu maksudnya. Tapi, mereka memang sedang bepergian ke luar negeri untuk liburan. Djiwa baru saja menyusul seminggu lalu. Keduanya tampak bahagia dari foto-foto yang Luisa kirim untuk Mahi sesekali. Romantis sekali, bukan?
Kalau tidak gagal menikah, mungkin saat ini Mahi juga tengah leha-leha di Maldives, atau Swiss, atau minimal Jepang. Sialan Mahesa.
"Ck!" Gadis itu berdecak sebal ketika nama Mahesa lagi-lagi muncul di kepala. "Dia bahkan nggak merasa bersalah sama sekali," gumamnya. Meniriskan ayam goreng dari wajan, menyiapkan lauk lain untuk di masukkan ke rantang lebih dulu selama menunggu minyak di ayam goreng itu sedikit berkurang. "Orang kalau punya hati, minimal ngomong makasih karena udah ditutupin aibnya. Ini enggak. Malah lanjut liburan sama pacar cowoknya. Kurang ajar!" amuknya, menutup rantang berisi nasi, sayur asem, serta sambal tomat dan menumpuknya dengan emosi. "Kalaupun nggak bisa ngomong makasih, seenggaknya dia minta maaf," gumamnya. Menghentikan pergerakannya lantas menunduk, memejamkan mata sejenak dan mengatur napas panjang. "Astagfirullah," bisiknya lirih. "Udah. Jangan dipikirin lagi." Ia mengusap-usap dada. Mengerjap lalu geleng-geleng kepala.
Tidak bisa dipungkiri. Asmara dua tahun yang kandas dengan pengkhianatan bukan lah kenangan yang mudah ia hapus dari ingatan. Sesekali, Mahika akui ia masih mendendam. Sesekali juga ia rindu. Sesekali menyayangkan. Dan sesekali ia berharap terbangun di kasurnya lalu mendapati semua tragedi ini hanya mimpi belaka. Ia harap Mahesa tidak menghianatinya. Mahesa tidak menipunya. Dan Mahesa betul-betul mencintainya seperti ia mencintai lelaki itu selama ini. Ia harap rencana hidupnya bersama Mahesa berjalan sesuai rencana, seperti apa yang telah mereka rancang jauh-jauh hari.
Tapi tentu, 'sesekali-sesekali' dan 'harapan-harapan' yang ia inginkan itu tak pernah terjadi. Faktanya adalah apa yang tengah ia jalani sekarang. Nyatanya, ia selalu terbangun di kasurnya yang baru. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dan jauh dari lelaki yang pernah sangat ia cintai. Seperti inilah keadaannya. Tidak ada yang boleh disesali.
Barangkali cinta pertamanya memang berakhir menyedihkan. Tapi bukankah putus cinta yang menyakitkan ini pada akhirnya menuntun ia bergerak melewati zona nyaman? Menemukan tempat berpijak baru, mimpi baru, harapan baru, dan teman-teman baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Narasi patah hati
RomancePernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan menca...
