14. Langkah awal

26K 3.9K 1K
                                        






"Jadi ... gitu?"

"Iya," jawab Djati lembut. Mengetukkan punggung jarinya lagi ke pintu. "Sekarang sudah boleh buka pintunya?" tanya lelaki itu, memegangi ponsel di telinga.

Djati betulan datang malam itu. Hampir pukul sebelas malam, setelah klien terakhirnya pulang. Tapi Mahika yang sudah menyimpan dendam sejak siang tentu tak semudah itu membukakan pintu. Si gadis bertekad jaga jarak sampai setidaknya hatinya lega.

Padahal, hanya butuh beberapa langkah bagi Mahika untuk membuka pintu dan ngobrol langsung dengan Djati. Tapi, ia belum mau. Alih-alih bicara langsung, ia lebih suka menguji kesabaran Djati dengan membiarkannya terlunta-lunta di depan sana. Keduanya saling memegang ponsel di telinga masing-masing sebagai alat penghubung. Aneh tapi ada.

"Enakan ngobrol langsung lho, Diajeng," bujuk Djati lembut. "Buka pintunya. Kita duduk di sini berdua, biar Mas bisa pegang tangan kamu sambil jelasin lagi kalau yang tadi masih kurang."

"Tunggu, aku masih ..." Suara Mahi memelan di ujung kata. "...belum selesai nanya," katanya. "Putusnya kenapa?" Ia duduk di sofa, sementara Djati masih berdiri di depan pintu, menunggu Mahi mempersilahkannya masuk. "Dia kelihatan baik."

"Dia memang baik. Tapi kami nggak sevisi," jawab Djati jujur. Menyandarkan punggungnya pada tembok di sisi pintu sembari meneruskan. "Kami punya tujuan yang beda banget pada saat itu dan kami nggak nemu jalan tengahnya. Jadi, kami memutuskan untuk udahan aja," terangnya. Menghela napas panjang. "Bukan karena salah satu dari kami jahat. Kami selesai ya karena ... memang udah nggak cocok sama-sama. Beda arahnya, nggak bisa dipaksa."

"Gimana perasaan Mas pas lihat mantannya balik lagi?" Kecurigaan masih lekat di kepala Mahika. Pengalaman gagalnya adalah guru terbaik dalam hidup. Ia tak akan melewatkan hal seremeh apa pun lagi di hubungannya kali ini.

"Ya nggak gimana-gimana," jawab Djati pelan. "Kaget sebentar, habis itu biasa aja," katanya. "Emangnya harus gimana," gumamnya.

Mahi menunduk, menatap kuku-kuku jarinya dan meneruskan. "Kalau dia ngajak balikan, Mas mau?"

"Ya enggaklah," jawab Djati segera. "Kan ada kamu."

"Kalau nggak ada aku?"

"Ya tetep enggak," jawab lelaki itu dengan yakin. "Yang udah ya udah. Nggak perlu dicoba ulang kalau tahu akhirnya bakal sama."

Mahi mendongak, menatap pintu rumahnya cukup lama. Mulai tergoda membuka pintu itu dan bersitatap langsung dengan Djati di luar sana. Tapi tunggu ... harusnya nggak segampang itu, kan? Ia sudah menyimpan kesal sejak siang tadi, masak baru dibujuk lima menit langsung luluh, sih?

"Dia cantik," gumam Mahika, masih cari-cari ribut.

Sementara di depan pintu Djati mendesah. "Setiap perempuan cantik dengan versinya masing-masing. Tapi buatku, kamu yang paling cantik saat ini."

Bibir Mahika tertarik tipis, gadis itu menyentuh pipinya yang terasa panas lalu berdekhem salah tingkah.

Kepala bagian kanannya ribut berteriak 'ayo buka pintunya! Ayo buka pintu dan peluk Djati sekarang juga!' Tapi kepala bagian kirinya justru berteriak sebaliknya, 'Jangan turuti si gampangan itu! Ayo jual mahal lagi, begini-begini kita pernah gagal!'

Mahi kan jadi bingung harus menuruti yang mana.

"Dia pesen mobil sama Mas," ujar Mahika setelah lama terdiam. "Berarti dia bakal ke sini lagi sampai urusan mobilnya selesai?" Ia agak tak suka membayangkan Djati dan mantan pacarnya punya banyak waktu berdua ke depannya. Apa pun bisa terjadi ketika laki-laki dan perempuan bersama. Tak ada yang mustahil. Apalagi di sini, kasusnya jelas bahwa mereka pernah saling cinta bertahun-tahun lamanya. Bagaimana kalau perasaan Djati kembali tumbuh pada perempuan itu?

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang