27. Bersinggungan

23.2K 3.6K 853
                                        










"...mereka ketemu di galeri. Anaknya Bimantara dan anak komandan yang Mas maksud itu." Asap rokok menari-nari dari udara yang Djati hembuskan barusan. Lelaki itu menarik asbak di meja, menyentil ujung bara rokok yang telah jadi abu dan meneruskan. "Jualan Morfin."

Raffan menoleh, mengerjap pelan. "Kamu lihat jelas barangnya?"

"Barangnya nggak di bawa, tapi transaksinya jelas disana," gumam Djati lagi.

"Yakin?" tanya Raffan serius. "Masalahnya, ini kasus spesial. Anak yang kita bicarakan ini nggak bisa sembarangan di tangkap. Pengaruh bapaknya terlalu kuat disini," bisiknya. "Salah sedikit saja, semua tuduhan bisa di putar balik."

"Yakin," jawab Djati mantap. "Di tukar sama satu lukisan Ernest. Si anak komandan yang beli, tapi atas nama anaknya Bimantara," paparnya sambil menghisap rokoknya lagi. "Waktu kami salaman, kulihat tangannya lebam-labam bekas suntikan. Pasti dia lagi sakau karena barangnya habis," tambahnya, membuang asap tembakau di mulut seraya tersenyum simpul. "Kelihatannya mau mati."

"Tapi barangnya nggak ada, kan?"

"Barangkali dia lagi pre order. Tapi bayar di muka," kekeh Djati lembut.

"Kenapa nggak beli di Mudiharjo kayak biasanya?" gumam Raffan curiga.

"Marvel Chou kan masih di penjara," gumam Djati tenang. Memainkan asap yang mengepul dari mulutnya. "Lagi sibuk banding biar cepet keluar. Jadi, kemungkinan besar lapaknya yang ada di Surabaya tutup dulu," ujarnya, ketawa-tawa santai. "Kalau lapaknya tutup, artinya pasokan di Bar-nya juga kena setop," analisanya. "Sedangkan si bocah itu udah kebelet, makanya dia nekat ngejar produsen utama langsung, meski harus ngintilin ke Paris. Pikiran orang-orang sakau susah di tebak, Mas."

"Berpengalaman, eh?" goda Raffan lirih.

"Lumayan," jawab Djati kalem. "Hampir sebagian besar temanku pakai begituan, aku tahu sedikit mana yang sedang waras dan mana yang halu." Ia menatap kakaknya dengan seringai jahil. "Mata nggak bisa bohong."

"Pergaulanmu jelek," kritik Raffan pedas.

"Pergaulan jelekku memberi Mas banyak informasi," sahut Djati seenaknya. Mengangkat sebelah alis dan menambahi. "Sama-sama."

Raffan berdecih. Menyipit dengan bibir yang siap mengkritik lagi. "Memang, pacarmu mau di cium pakai mulut bau rokok begitu?"

"Ada teknologi bernama sikat gigi dan odol. Jangan primitif, deh," kritiknya balik. "Lagipula ..." Ia mengulum senyum manis. Menyeringai tipis pada sang kakak dengan gurat menggoda. "...Diajeng-ku bukan tipe perempuan bawel macam adik ipar Mas yang terakhir."

"Mungkin belum."

Djati mengendik. Buru-buru memadamkan ujung tembakau yang tinggal sekelingking ke asbak saat Mahika muncul lagi dari arah depan bengkel. Berlari-lari memeluk genggaman tangan di dada. Djati tersenyum manis, menyambut gadisnya yang terengah-engah. "Sini, Sayang."

"Aku duduk situ aja. Kan mau ngomongnya sama Mas Raffan," tolaknya, menarik kursi di sebelah Djati dengan susah payah. Di bantu Raffan yang akhirnya ikut menarik kursi itu ke depannya. "Makasih," gumam si gadis santun. Duduk di kursinya dengan anggun lalu meletakkan kartu memori kecil yang sudah terbungkus rapi dalam plastik ke meja. "Videonya disana," tunjuknya. "Ada bukti chat, screenshot-an pesan yang isinya pengakuan Mas Esa juga, sehari setelah aku mengkonfrontasi perselingkuhan mereka."

"Kamu punya semua ini dan tetap anteng sampai sekarang?" tanya Raffan kaget.

"Iya," jawab Mahika, balas menatap mata Raffan dengan senyum lugunya.

Narasi patah hatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang