"Kabari Mas kalo udah sampai rumah ya, Dek." Bhumi mengantar Shani dan Siska menuju bandara.
"Njeh Mas."( Iya mas) Jawab Siska kalem.
Bhumi melirik Shani yang hanya diam saja sambil mendorong kopernya. Entah kenapa calon kakak iparnya itu langsung mengunci mulut sejak sehabis ketemu dengan Vino di rumahnya tadi pagi, mana Gracia juga sekarang lagi sedih dirumah sendirian, abis menyaksikan Vino pelukan sama Shani.
Ya Ampun. Pasti adiknya itu patah hati tingkat kabupaten deh, kalo 17 san nanti, lomba menuai penderitaan, Gracia sudah pasti juara 1. Bayangin aja cintanya kandas sebelum berjuang. Bhumi meringis membayangkan betapa nelangsanya adiknya itu.
"Shan-
"Bhumi, adikmu jangan di bolehin lagi ke tempat maksiat ya." Bhumi mengerjap kaget menatap Shani.
"Tempat maksiat?."
"Ke karaoke mabuk-mabukan." Jawab Shani dengan ekspresi datar. Calon Kakak iparnya itu lagi kenapa sih? Hari-hari bawaanya pengen nelen orang mulu. Bhumi mengangguk paham.
"Iya Shan..Hati-hati ya di jalan, nanti Gracia biar aku urus." Shani menatap Bhumi, bibirnya berkedut seakan bertanya beberapa hal soal Gracia, namun akhirnya Shani memilih bungkam.
"Jangan menyakiti adikmu lagi, Bhum." Hanya itu ucapan terakhir Shani sebelum akhirnya Kakak beradik itu masuk ke dalam pesawat.
Flashback.
Shani sedang menyeduh kopi di dapur rumah Bhumi, ada sang adik yang sedang makan sarapan bersama Bhumi di meja makan. Mereka membahas perkara Gracia mabuk semalam, juga Shani memberi tahu kepada Bhumi jika alasan mabuk Gracia itu karena pertemuan dirinya dan Vino di Caffe, Gracia cemburu buta.
Bhumi juga menjelaskan kenapa sampai Gracia nekat ke bar, itu karena perdebatan keduanya mengenai Shani yang mungkin akan balikan dengan Vino dalam waktu dekat. Shani diam tidak memberi respon soal itu.
"Terus piye, Ci?." (Piye = gimana)Tanya Siska menatap sedih kearah sang Kakak.
Shani mengedikan bahu. "Perasaan kan gak bisa kita cegah Sis, Cici juga ndak tau kalo Gracia bakal senekat itu." Lalu menyeruput kopinya.
"Nanti kalo aku sama Siska udah nikah, pasti perasaan Gracia ke kamu bakalan perlahan terkikis, Shan." Shani menatap Bhumi dengan tenang, tapi ia sedikit terganggu dengan ucapan Bhumi barusan.
"Semoga saja." Jawab Shani lebih mirip gumaman.
Ting tong!
Ketiga manusia di meja makan langsung menoleh kearah pintu.
"Biar aku yang buka." Bhumi beranjak menuju pintu. Bhumi melotot panik kala mendapatkan tamu tak diundang dirumahnya pagi buta .
"Pagi Bhum, Shani udah pulang belum?." Bhumi masih terpaku di ambang pintu, sampai akhirnya Siska menyusul.
"Siapa Mas-...LAH KAMU!." Mata Siska langsung melotot tajam.
Mendengar pekikan Siska. Shani ikutan menyusul kearah pintu. "Sopo, Sis-, Mas Vino?." Ketiganya akhirnya melotot berjamaah menatap seenggok manusia bernama Alvino yang mesem-mesem minta di gampar pake parutan kelapa.
"Hay Dek Shani..Jangan pulang dulu ya, saya mau ngomong penting."
Akhirnya Bhumi mempersilahkan masuk meskipun sudah di larang oleh Siska. Adik Bu Lurah mendelik tajam menatap Vino, seakan mau menguliti habis-habisan laki-laki tersebut.
"Bajingan! Wong koyok ngunu ngopo iseh urep ae, kintir ndek kali sisan mending lah karo bolone sing kuning-kuning kui!." (Orang macam gitu kenapa masih hidup aja, hanyut di kali aja mending lah sama temennya yang kuning-kuning itu) Ucap Siska sambil menatap nyinyir kearah Vino. Yang ditatap santai saja malah memberikan senyum terindahnya. Dasar jancok!!
KAMU SEDANG MEMBACA
MY VILLAGE LADY
FanfictionAku memang berbeda daripada perempuan di luar sana , aku punya cara tersendiri dalam memaknai cinta.
