Part 30

4.8K 340 112
                                        


Sekarang Siska sedang mengantar Gracia ke bandara. Setelah sesi perpisahan yang menyakitkan antara Shani dan Gracia, Ibu lurah cantik itu tidak mau mengantarnya.

"Kamu sama Ci Shani gimana Gre?." Gracia melirik sang calon kakak ipar sebentar, muka Gracia sembab, dari tadi nangis gak berenti.

Gracia mengusap air matanya.

"Aku sama Ci Shani gak pernah ada hubungan Sis."

Mata Siska mengerjap kaget. "Lho, iyakah? Tak kirain kalian wes pacaran." Gracia menggeleng,

"Kita zona nyaman adik-kakak."

"Tapi kamu kayak abis putus cinta lho Gre..Ibuk sampe ikutan nangis to tadi, ngiranya Ibuk kamu ndak mau pulang ke Jakarta lagi, milih di kampung."

"Kalo boleh sih mau..Tapi Cici mu yang nggak ngebolehin, jahat banget Cici mu Sis..Ngusir aku." Air mata Gracia luruh lagi, satu tangan Siska mengusap lengan Gracia. Tak bisa di bayangkan oleh Gracia setelah hubungan keduanya sudah seperti kekasih, sudah saling mengetahui berapa ukuran bh masing-masing beserta isinya, kenapa Shani malah tega mengusirnya secepat ini?

"Maaf ya Gre, aku sama Mas Bhumi mempersulit jalan kalian."

Kepala Gracia menggeleng.

"Kalian nggak salah, aku seneng kalian mau nikah, jangan nyalahin hubungan kalian..Abang beneran cinta banget sama kamu." Gracia meloloskan gumpalan nafas kasar.

"Ya emang udah takdirnya aja aku sama Ci Shani gak bisa bareng." Suara Gracia kian tercekat.

"Ci Shani itu udah sayang sama kamu Gre, aku bisa lihat sendiri..Dia tuh suka diem-diem merhatiin kamu, terus yang paling aneh itu, Ci Shani sampai beli parfum punya kamu, dia ndak bilang, cuma pas ada paket dateng atas nama aku kan..Ternyata itu paket Cici, kata dia aku di suruh diem, terus bilang gini. 'Biar nggak kangen kalo jauh dari Gege'..Tak pikir Gege itu sopo, taunya kamu ya..So sweet banget weh Ci Shani ki."

Gracia tersenyum haru. Perihal parfum ia tidak tau kalo Shani suka sama bau parfumnya, padahal dulu Shani pernah ngebuli dirinya kalo parfum miliknya baunya eneg kayak ketek kambing. Wuu.. Taunya nyaman juga kan.

"Aku juga nyuri parfum Ci Shani, ada di tas..Dia kan kang koleksi parfum, aku ambil satu yang udah sisa... Gini amat ya nasib kita hahaha." Gracia tertawa hampa. Siska hanya meringis, ia jadi makin nggak tega dengan kondisi kedua nya.

"Kalian masih bisa berteman baik Gre..Jangan benci Cici ya, aku yakin kalopun Ci Shani mau, dia bakalan nerjang semuanya, tapi Ci Shani ndak bisa melawan Ibuk, meskipun Ibuk ndak tau hubungan kalian, ya."

Gracia tergamang, lalu bercedih lirih. "Aku tau kog Sis, jalan kita itu emang nggak mudah."

"Kalian pasti bakalan dapetin laki-laki yang terbaik."

"Kalo aku keknya susah sih Sis, kamu tau nggak kalo aku udah mengagumi Ci Shani dari sejak dia di Swiss?."

"Tau kog, makanya aku sama Mas Bhumi diem, ngebiarin kalian bersama biarpun sesaat.. Cinta kamu ke Cici itu suci meskipun salah..Setidaknya, kalian pernah bahagia bareng, apapun yang kalian lakuin kemarin, bisa di jadikan kenangan terindah."

Dada Gracia kembali sesak mendengar ucapan Siska, ia teringat moment 3 hari dirumah Bu Gendis bersama Shani. Juga satu kejadian hanya dirinya dan Ibu Gendis yang tau, Gracia berjanji tidak akan membiarkan siapapun tau mengenai hal ini, sekalipun itu Shani.

Di dalam kamarnya. Shani terpaku menatap foto paraloid dirinya bersama Gracia yang ia simpan di lembaran buku diary. Gigi Shani beradu karna menahan ledakan hatinya, kedua sudut mata Shani sudah berair, telaga bening itu siap jatuh, namun sekuat tenaga. Shani tidak akan membiarkan airmatanya membasahi kedua pipinya, habis ini ia harus ke kantor.

MY VILLAGE LADYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang