Part 37

5.1K 358 56
                                        

Rani sudah berdiri didepan Kedua anak dan menantunya.Terlihat sangat sedih dari raut wajahnya .

"Ma..Makasih Ma." Gracia gantian memeluk Rani.

"Makasih Ma, maaf Gege ngecewain Mama." Rani mengangguk dan mencium kening Gracia dengan sayang.

"Kondisi Shani sudah sangat riskan, dia bisa depresi kalo di biarin sendiri terus, semangat hidupnya sudah lama mati, dia bertahan sampai saat ini karena kalian . Dia harus selalu ditemani, dan nanti harus sering-sering Mama pantau." Siska kembali nangis di pelukan Bhumi mendengar ucapan Mama Mertuanya.

"Kasian Ci Shani Mas."

"Gak perlu kawatir Sis, Mama nanti urus Shani." Kata Rani sambil mengusap bahu menantunya.

"Makasih ya Ma."

"Shani itu suka ngerasa cemas berlebih, ada goresan di lengan sebelah kiri, kita semua nggak boleh abai sama kondisi dia yang sekarang." Gracia dan Siska terbelalak kaget. Rani menatap keduanya bergantian, "Mama serius?." Tanya Gracia, "Iya, kamu nggak nyadar? Dia pasti nyembunyiin itu." Gracia menggeleng frustasi.

"Mama boleh ya aku sama Ci Shani?." Gracia menatap memohon kepada Mamanya.

Rani tersenyum "Kamu sudah sampai nyusulin dia ke Flores kenapa masih minta izin segala?." Gracia nyengir dalam tangisnya.

"Maaf Ma, Gege sayang banget sama Ci Shani, Gege bakalan rawat Ci Shani biar nggak depresi lagi."

"Iya, semoga dia nggak punya pikiran buat akhirin hidup lagi " Siska, Bhumi dan Gracia mengaminkan sambil menatap Shani yang masih menangis di pelukan Bu Gendis.

"Ibuk , maafin Shani ya, Shani gak bisa menjadi apa yang ibuk harapkan ."

"Gak papa nduk, ibuk yang salah, ibuk yang gak tau keinginan kamu." Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan , terdengar Isak tangis dari keduanya, sangat memilukan , Shani terlihat sangat rapuh .

"Kenapa ngeliatin aku terus?." Shani melarikan matanya ke sembarang arah, nasi di mulutnya baru saja ia telan. Gracia mengusap noda di bibir bawah Shani, keduanya duduk di kursi samping kolam, dengan Gracia yang menyuapinya nasi.

"Gapapa, aku seneng liat Ci Shani dari jarak deket lagi."

"Kamu tadi denger semua pas aku ngobrol sama Mama kamu?." Shani menatap lurus kedua mata Gracia.

"Iya, jangan di ulangin lagi ya Ci, kamu sekarang punya aku, kamu bisa cerita apa aja, jangan ada yang di pendem." Kata Gracia. Shani tersenyum tipis.

"Kamu masih mau sama aku yang terlanjur rusak dan mau gila ini?."

Gracia menggeleng, lalu menaruh piringnya di samping. Gracia mengambil kedua telapak tangan Shani

"Kamu nggak rusak dan gila, dimata aku Ci Shani itu sosok yang sempurna, kalaupun ada yang rusak aku ikut andil di dalamnya ."

"Jangan ngeliat aku dari luarnya aja, Ge."

"Lho, kalo gak ngeliat dari luarnya dulu ya munafik lah aku..Aku suka Ci Shani kan emang dari muka dulu, baru ke hati." Gracia nyengir. Kepala Shani maju untuk mengecup kening Gracia sekilas ,"Makasih sudah mencintai saya apa adanya." Ucap Shani tulus. Ia bisa lihat sorot kebahagiaan di kedua mata Gracia sekarang. Shani mengucap syukur dalam hati setelah itu.

"Aku yang makasih, aku nggak ngira Ci Shani bisa punya cinta yang luar biasa untuk aku."

"Kamu pantas saya cintai Gracia."

"Begitu juga kamu Ci Shani, kamu pantas aku cintai." Keduanya saling pandang penuh cinta.

"Saya nggak punya harapan apapun lagi kemarin, bahkan diantara ketakutan saya waktu kamu ajak saya pulang..Saya sudah siap jika harus di caci maki sama Mama kamu, saya sudah siap di tolak sama keluarga aku, saya lebih takut kalo kamu yang di caci maki sama mereka semua." Sorot mata Shani berubah khawatir.

MY VILLAGE LADYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang