Tinggalkan jejak sebelum membaca dengan jangan lupa Vote dan Comment, Ya!
And Happy Reading For Everyone!!!!!
***
Senja berjalan ke sofa, duduk bersandar dengan lelah. Tanpa menatap ke arah Saka, dia mulai bicara, "Apa yang ingin kamu dengar? Kamu ingin tahu hubunganku dengan Vian? Nggak ada yang spesial. Seperti hubungan pria dan wanita pada umumnya, kami putus. Dan seperti hubungan kita sebelumnya, kami berhenti saling mencintai."Lancar sekali.
Entah berapa banyak kebohongan yang akan terus mulutnya gaungkan. Dia bisa menebak di sebelahnya malaikat sedang mencatat lagi satu buah dosanya. Karena sudah terlanjur maka tinggal lanjutkan saja kebohongannya.
"Aku ternyata lebih mudah bosan dari yang kubayangkan. Semudah aku jatuh cinta, semudah itu pula aku lupa."
Terus lanjutkan Senja.
"Aku juga masih berteman dengan Vian, dan kami menyikapinya dengan cukup santai. Sesederhana itu. Aku juga menyadari cinta nggak seistimewa itu. Hubungan tanpa ikatan juga lebih cocok untukku. Jadi hentikan ketertarikan apa pun yang kamu miliki karena menganggap aku adalah Senja yang kamu temui di atap dulu. Aku bukan lagi gadis polos yang kamu ingat."
Apa ada lagi yang perlu ditambahkannya? Senja rasa cukup.
"Bisa lihat ke arahku?" Pinta Saka.
Senja mendengus, memiringkan tubuhnya, melihat ke arah Saka, "Kenapa? Jangan bilang kamu mau mengetes aku berbohong atau tidak dengan melihat mataku?" Masih dengan kepala bersandar pada punggung sofa, dia membalas tatapan Saka tanpa berkedip.
Saka tersenyum melihat upaya Senja untuk membuktikan kata-katanya. Dia ikut menyandarkan kepalanya pada punggung sofa. Memiringkan tubuhnya agar bisa melihat jelas wajah Senja. "Untuk apa? Aku hanya ingin melihat wajahmu. Itu adalah salah satu alasan aku datang sejauh ini." Jarak antara mereka sebenarnya tidak terlalu dekat. Satu ruang kosong di tengah masih bisa memuat satu orang lagi. Tetapi itu cukup untuk Saka. "Baik apa yang kamu katakan adalah kebohongan atau pun kejujuran, aku nggak mempermasalahkannya lagi."
Mungkin karena ucapan tidak terduga dari Saka, Senja sulit merespon dengan benar, mata Senja mengerjap beberapa kali. Dia bisa merasakan debaran yang dia tahu hanya milik satu orang. Begitu kuat hingga terasa menyakitkan. Saka bisa mengatakan itu karena Saka tidak akan pernah menduga betapa kotornya dirinya. "Jangan tersenyum,"
Tidak tersinggung, Saka masih mempertahankan senyumnya. "Kamu membencinya?"
Sebaliknya. Dia sangat menyukainya. Tetapi bibir Senja memiliki kemampuan berdusta dengan sangat baik. "Hem. Aku benci melihatnya. Sangat membencinya. Aku benar-benar tidak ingin melihatnya. Jadi, jika ingin tersenyum jangan di depanku."
Berhenti melakukan upaya apa pun yang membuatnya goyah. Senja benar-benar ingin meneriakkan itu di depan wajah Saka. "Jangan lihat aku terus menerus. Katakan sesuatu."
"Senja,"
"Apa?"
Saka menatap Senja intens, "Tidurlah. Kurang istirahat akan mempengaruhi kesehatanmu." mengulurkan jarinya di depan wajah Senja. Terlihat akan mengelus tetapi gerakan tangannya berubah menjadi jentikan pelan di dahi Senja. "Jangan lupa kamu masih harus merawatku."
Banyak pertanyaan yang tertahan di ujung lidahnya. Sesuatu yang ingin Saka tahu tetapi saat melihat mata Senja, seperti sebuah peringatan dia tidak berani mengutarakannya. Rasanya jika dia menuntut jawaban atas segala pertanyaannya, Senja benar-benar akan melarikan diri.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Us (Tamat)
Literatura FemininaSenja dan Saka sudah lama menyerah, bagi mereka hidup hanya tentang bertahan, ada dinding batas yang sulit untuk mereka runtuhkan. Mereka pernah bahagia bersama, namun perpisahan menyakitkan terjadi ketika mereka hanya memiliki satu sama lain. Bert...