Happy Reading!
***
Sekali lagi sebuah bola kertas dilempar ke lantai. Berisi not-not yang dirangkai menjadi sebuah nada. Dinilai tidak cukup layak untuk diabadikan. Itu menurut sang pencipta yang sedang duduk dengan memeluk gitar di pangkuannya. Sudah berjam-jam Senja berada dalam posisi yang sama, di dalam studio musik yang terletak di apartemennya. Ruangan yang berisi berbagai jenis alat musik, walau gitar mendominasi. Ada banyak gitar dengan berbagai merk dan jenis yang diletakkan di berbagai sudut ruangan, dari yang mudah ditemukan hingga yang sudah tidak diproduksi lagi. Meski yang menjadi kesayangan Senja masihlah gitar tua yang harganya paling murah.
Studio ini adalah tempat di mana Senja banyak menghabiskan waktunya, kedua setelah sofa tidurnya.
Saat dia tidak harus tampil di mana pun atau jadwalnya lumayan kosong, Senja akan berdiam diri di dalam studio musiknya. Seperti saat ini. Tadi pagi dia hanya harus bertemu dengan sutradara sebuah film yang rencananya akan menjadi film yang dibintanginya setelah sekian lama. Satu-satunya film yang tidak meminta Senja sebagai pemeran utama. Sutradara menginginkan Senja sebagai karakter antagonis dalam film tersebut. Mia memperingatkan bahwa ada banyak risiko saat menerima peran itu. Ada banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi. Orang-orang akan membicarakannya, menilai kelayakannya. Selain itu, akan banyak ekspektasi yang jika tidak terpenuhi hanya akan mengundang banyak cercaan.
Memangnya sejak kapan Senja peduli?
Ketukan terdengar. Senja memutar matanya malas, "Apa lagi?"
Resti membuka pintu, "Kak Senja mau makan?"
"Aku baru makan siang sama kamu satu jam yang lalu."
"Kalau gitu Kak Senja mau minum jus apel? Atau stroberi?"
Senja menatap jengah Resti, "Kamu sudah menawarkannya 30 menit yang lalu."
"Tadi jus mangga." Resti mencicit.
"Berhenti keluar masuk setiap 30 menit atau kamu yang akan kujadikan jus. Aku kehilangan inspirasi karena kamu terus menggangguku. Tunggu di luar dengan tenang atau pulang saja." Usir Senja kesal.
"Kak Senja boleh kok menjadikan saya inspirasi." Ucap Resti menyarankan. Lagi-lagi Senja tidak tahu apakah perkataan Resti itu serius atau bercanda.
"Oke. Judulnya my annoying assistant." Sarkas Senja.
"Kayaknya lebih mirip judul novel, tapi nggak apa-apa deh, siapa tahu saya nanti bisa muncul di video klipnya." Angguk Resti senang.
Senja menatapnya tajam.
"Atau nggak usah?"
"Keluar saja sana." Senja memijat keningnya menghadapi tingkah Resti. Entah sudah berapa kali Resti mengganggunya. Senja ingin mengusirnya dari apartemen tetapi tahu bahwa Mia mungkin akan memaksakan datang di tengah kesibukannya jika dia melakukan itu. Kekhawatiran Mia bukan tanpa alasan.
Mengingat hal bodoh yang Senja lakukan tadi malam. Kompromi paling maksimal yang bisa Mia berikan hanya membiarkan Resti menemani Senja. Dia tidak bisa membiarkan Senja seorang diri. Resti bahkan sudah membawa pakaiannya dan bersiap untuk menginap.
Senja menyerah memprotes saat menyadari dia tidak berhak menolak pengawasan Mia. Dia tidak ingin lagi mengingat kejadian tadi malam.
Ada baiknya juga Resti berada di apartemennya.
"Kak."
Atau tidak?
Pintu yang baru saja ditutup kembali terbuka.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Us (Tamat)
ChickLitSenja dan Saka sudah lama menyerah, bagi mereka hidup hanya tentang bertahan, ada dinding batas yang sulit untuk mereka runtuhkan. Mereka pernah bahagia bersama, namun perpisahan menyakitkan terjadi ketika mereka hanya memiliki satu sama lain. Bert...