Bab 30

1.1K 101 5
                                    

Happy Reading!!!!

***

Keesokan harinya mereka sudah kembali ke Jakarta. Liburannya berakhir buruk. Mia telah menangani masalah Evan agar tunangan Kara itu tidak membuat masalah dan mewanti-wanti Resti agar mengawasi Senja dengan lebih ketat. Senja membiarkan semuanya tanpa memprotes. Dia tahu Mia melakukan segalanya karena cemas. Dan tanpa bisa dicegah, Saka juga ikut mengawasinya.

Lalu di antara mereka semua Senja bersikap seakan tidak ada yang terjadi. Topengnya kembali terpasang dengan baik.

Saat mereka sedang menuju parkiran bandara, mereka tanpa sengaja bertemu Kara. Kara Kinanti rupanya juga telah mengakhiri liburannya yang tidak menyenangkan. Sungguh kebetulan yang buruk. Senja dan Kara saling menatap malas.

"Sepertinya Evan mencari masalah saat suasana hati lo sedang buruk. Anyway, gue nggak menyangka lo seenggak suka itu dengan Evan." Kara sudah mengetahui bagaimana kondisi Evan yang perlu dirawat di rumah sakit. Sekarang dibanding marah Kara lebih merasa malu.

"I don't have any feeling for him. Ini terjadi karena kamu yang melempar masalah ke arahku. Aku melakukan pembalasan untukmu. Melakukan hal yang nggak bisa kamu lakukan. Wah, aku nggak menyangka aku ternyata sebaik ini."

Kara memutar matanya, Senja memang ahli membuat orang lain kesal. Dia tidak mendebat Senja lebih jauh, masalah Evan memang sedikit banyak dikarenakan olehnya. Senja terlibat tanpa alasan. Kara lalu menatap laki-laki berdiri tidak jauh dari Senja. Dia tersenyum saat laki-laki itu terus menatap ke arahnya.

"Jangan salah paham. Dia nggak melihat ke arahmu. Cari yang sesuai dengan standarmu. Evan terlalu rendah, tetapi yang ini terlalu tinggi. Kamu harus tahu untuk menyesuaikan diri. Jangan serakah." Ucap Senja saat Kara menatap Saka. Tanpa mendengarkan Kara yang hendak memakinya Senja sudah melanjutkan langkahnya.

"Sudah selesai?" tanya Saka.

"Hm." Angguk Senja. Mereka belum banyak bicara sejak kemarin.

"Kamu bisa istirahat hari ini, kamu bisa datang besok pagi."

Senja mendengus, "Aku seperti ART yang sedang mengambil cuti." protesnya.

Saka tidak menjawab, laki-laki itu membukakan pintu untuk Senja, sementara Resti dan Mia yang duduk di depan berpura-pura tidak mendengar percakapan mereka. Mia sepertinya sudah menganggap Saka adalah bodyguard yang tepat untuknya.

***

Seperti yang dijanjikan, Senja memang datang kembali ke apartemen Saka tetapi dia hanya mematung dalam diam. Lagi-lagi dia merasa ragu. Perasaan ganjil yang membuatnya takut bahwa dia sedang berjalan ke arah yang salah.

Aneh.

Bukannya seharusnya dia tidak perlu mencemaskan apa pun? Sejak awal dia tahu momen ini akan berlalu, dia hanya mempersingkatnya saja.

Bukannya tujuan awalnya ke Bali adalah memang untuk memutuskan segala hubungannya dengan Saka? Walau dia sendiri tidak tahu apakah ada yang tersisa.

Kejadian di Bali seharusnya menambah alasan untuk menjauh dari Saka. Jika ada yang dicemaskannya, mungkin bahwa dia sekali lagi akan menyakiti Saka.

Tarikan nafas panjang digunakan sebagai pemupuk keberanian terakhir sebelum Senja menekan bel. Dia mengetuk-ngetukan kakinya saat pintu tidak kunjung terbuka. Apakah Saka tidak ada di apartemen?

Tidak mungkin terjadi sesuatu, kan?

Jika diingat lagi sudah empat hari sejak Saka harusnya mengganti perbannya, tetapi tertunda karena hal yang menimpanya. Jangan bilang luka laki-laki itu semakin parah?

About Us (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang