"Bahagia diatas penderitaan orang lain?Maksudmu apa? Aku tidak mengerti!!" Jawab Fania
Andrapun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya menujukkan foto Sandi dan juga Silsilia dengan posisi Sandi memeluk Silsilia dari belakang dengan sama sama tersenyum Faniapun mengambil ponsel Andra untuk melihatnya lebih jelas.
"Dia yang aku maksud adalah Silsilia, Mereka sudah menjalin hubungan hampir dua tahun lamanya, Silsilia pergi dalam hubungannya yang baru satu tahun karna keadaannya yang membuatnya harus ke luar kota mencukupi kebutuhan keluarganya dan mencari biaya untuk pernikahannya dengan Sandi mereka berdua juga berjanji akan menikah pada tahun ini setelah satu tahun lamanya Silsilia pergi"
Dengan menghela nafas pendek, Andrapun melanjutkan perkataannya. Faniapun mendengarkan sambil terus melihat foto Sandi dan juga Silsilia seketika membuatnya ingin menangis tapi dia tahan dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Andra.
"Tapi Sandi bosan harus menunggu kepulangan Silsilia dan akhirnya berhubungan denganmu, Entah karna apa kedua orang tuaku malah menyuruh Sandi untuk bertunangan denganmu"
Faniapun masih tetap mendengarkan Andra berbicara tanpa menjawabnya dia ingin mengetahui lebih banyak apa yang belum diketahuinya.
"Kau ingat!! Saat Sandi memutuskanmu? Karna dia kembali bersama Silsilia waktu itu tapi tak berapa lama Sandi memutuskannya karena mencintaimu jadi aku mengatakan kau adalah orang ketiga dalam hubungan Sandi dan juga Silsilia jika saja kau tidak hadir kau tidak akan merusak semuanya!!" Bentak Andra menatap tajam Fania
"Aku heran dengan kakakku yang tampan itu apa yang dilihatnya darimu kau bahkan gadis berwajah biasa saja tapi kakakku bisa sampai meninggalkan berlian demi batu kerikil sepertimu!!" Ejek Andra
"Cukup!! Kau tidak berhak membanding bandingkan aku dengan Silsilia!!"
Dengan perasaannya yang hancur mendengar kenyataan yang baru diketahuinya, Faniapun beranjak dari duduknya mengembalikan ponsel Andra lalu pergi dari sana dengan berjalan terburu buru sembari menghapus air matanya yang telah keluar membasahi pipinya, Faniapun segera pergi dari tempat itu dengan membawa motornya.
Pemandangan itu disaksikan kembali oleh Silsilia yang tersenyum bahagia.
"Fania bagaimana rasanya sakit bukan itulah akibatnya jika merebut apa yang aku miliki, Benar benar adegan yang sangat dramatis sekali kau menangis dengan wajahmu yang jelek itu uuu sangat menggemaskan"
Gumam Silsilia terkekeh licik melihat Fania menangis merasa bangga akan keberhasilannya.
Dengan menangis membawa motornya, Faniapun pergi menuju rumah Lusi untuk menceritakan segala masalah yang dia hadapi. Dengan Lusilah Fania ingin bercerita karna rumahnya tidak jauh dari rumah Fania sendiri begitu sampai Faniapun mengetuk pintu. Lusi yang mendengar ketukan dipintu rumahnya segera membukanya.
"Fania kau"
Ucap Lusi seketika terhenti karena Fania sudah memeluknya terlebih dahulu melihat Fania menangis dalam pelukannya, Lusipun segera membawanya masuk dan mengajaknya masuk ke kamar.
"Fania kau tenang dulu ada apa? Kau bisa menceritakan masalahmu padaku tapi berhenti menangis dulu yah"
Dengan hati hati Lusi mengajak Fania untuk duduk diranjangnya lalu menenangkannya.
"Baiklah kau tunggu dulu disini aku akan membawakanmu minum tunggu sebentar yah"
Ucap Lusi segera mengambilkan minum agar Fania lebih rileks lalu bisa menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Dengan terburu buru melangkah Lusipun membawa air minum yang langsung diberikannya padanya Fania menerimanya dan langsung meminumnya.
"Kau sudah merasa lebih baik sekarang?" Tanya Lusi yang dibalas anggukan Fania walau masih mengeluarkan air mata.
"Baiklah kau bisa menceritakan masalahmu aku akan mendengarkannya, Ceritalah"
Dengan menghela nafas panjang Faniapun mulai menceritakan semua masalahnya yang sedang dia hadapi dia seakan merasa bersalah pada Silsilia karna telah membuat Sandi mencintainya akhirnya Faniapun berfikir untuk meninggalkan Sandi saja.
"Tapi kau mau pergi kemana Fania? Semua ini bukan kesalahanmu ini semua salah Sandi kau tidak boleh pergi!!"
"Aku harus pergi biarlah aku bawa rasa cinta ini biarkan mereka bersatu aku tidak bisa berada ditengah tengah mereka berdua Lusi"
"Fania fikirkan baik baik Sandi sangat mencintaimu buktinya dia masih menginginkan kau kembali kau jangan gila Fania dia hanya menginginkanmu sekarang bukan Silsilia!!"
"Maaf Lusi tapi aku harus melakukan ini"
Masih dengan berderai air mata, Faniapun pergi meninggalkan Lusi yang berteriak memanggilnya tapi Fania tak menghiraukannya diapun langsung membawa motornya untuk pulang ke rumah. Begitu sampai Faniapun menyampaikan niatnya untuk pergi berlibur kerumah neneknya yang berada dikampung pada Temmy dan juga sang Ibunda.
Lalu dia menitipkan cincin pertunangan pada ibunya untuk dikembalikan pada Sandi dia berkata tidak ingin melanjutkan pertunangannya dengan Sandi. Faniapun tidak memberi alasan apapun tentang kejelasannya mengapa memutuskan pertunangan tapi sang Ibunda tidak memaksa Fania untuk bercerita dia juga mengatakan pada ibunya jika Sandi menanyakan keberadaannya ibunya tidak boleh memberitahukannya.
Masih dengan perasaan sedihnya, Faniapun mengemas semua barang yang akan dibawanya. Setelah selesai berkemas Faniapun berpamitan dengan ibunya terlebih dahulu, memeluknya cukup erat karna perginya Fania mungkin bisa cukup lama sampai batas yang tidak bisa ditentukan. Fania ingin menenangkan diri dan menurutnya tempat terbaik dari semasa kecilnya hanya kampung halaman sang nenek.
Jam sudah menunjukan pukul 19.00 malam Faniapun pergi menaiki mobil bersama Temmy yang mengantarkannya begitu berada didalam mobil, Faniapun terdiam membisu tanpa sepatah katapun termenung memikirkan hubungannya yang rumit.
Begitu mobil berjalan meninggalkan rumah Fania, seketika membuatnya menangis kembali .
"Maafkan aku Yara kita harus berpisah aku tidak mau menjadi duri dalam hubunganmu dengan Silsilia aku juga kecewa padamu, Kenapa kau menyakiti Silsilia dan juga diriku dan sekarang biarkan aku mengalah aku akan memendam rasa cinta ini sampai takdir menentukan dengan siapa aku akan berlabuh"
Gumam Fania meneteskan air mata kembali. Temmy yang melihatnya mengelus rambut adiknya dengan sayang karna posisinya sedang menyetir, Dia hanya bisa memegang rambutnya saja dia bahkan sampai bertanya tanya ada masalah apa Fania dengan Sandi sampai Fania memilih untuk mengakhiri pertunangannya dan pergi dengan alasan merindukan neneknya. Temmypun tidak memaksa Fania untuk menceritakan masalahnya dia hanya menuruti keinginan Fania yang ingin menemui sang nenek.
"Fania sudah kesekian kalinya aku melihatmu menangis aku tidak sanggup melihatnya dengan aku mengantarkanmu kerumah nenek, Semoga kau bisa merasa lebih baik disana dan aku berharap kau bisa menemukan kebahagiaanmu yang bisa menghapus air matamu"
Gumam Temmy sembari menyetir mencium rambut Fania sedetik lalu memegang tangan Fania mengelusnya dengan lembut. Mendapati perlakuan sayang sang kakak Faniapun diam dan tidak menoleh sekalipun dia hanya terus memandang kaca jendela mobil saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Jodohku
FanfictionFania Sari dan Ruis Adrian adalah sepasang kekasih yang menjalin hubungan hampir lima tahun lamanya. tapi takdir cinta mereka berdua harus kandas. Ruis Adrian telah meninggal dunia dalam hubungannya yang hampir lima tahun, meninggalnya Ruis membuat...
