Chapter 8 : Dinner

5.4K 133 3
                                        


Matahari perlahan terbenam dari sisi kota london. Langit oranye yang indah disertai balutan awan yang menghiasi ukiran tersebut menjadi lebih indah. Burung-burung perlahan mulai terbang di langit. Hal itu tak menutup kepadatan manusia yang berlalu-lalang di kota terbesar di inggris ini.

Setelah selesai dengan segala urusan pernikahan yang dituntut oleh Eugino tentu saja, Ash mendapati dirinya yang lelah dan kelaparan. Eugino bajingan itu lupa untuk membawanya ke restoran terdekat atau setidaknya membelikannya makanan melalui bawahannya. Dan Ash tetaplah menjadi Ash yang meninggikan egonya untuk tidak memohon sesuatu kepada Eugino.

"Aku ingin membawamu ke restoran milik temanku, kudengar disana memiliki lobster yang sangat enak" Ucap Eugino.

Ash menggedikan bahunya acuh tak acuh. "Terserah" Balas Ash seadanya.

Kini mereka berdua berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan toko yang baru saja mereka hampiri.

Selama diperjalanan rasanya Ash bisa bernapas lega akhirnya ia dapat mengisi perutnya yang kosong ini. Meskipun diperjalanan ia tetap merasakan perutnya yang terus-menerus berbunyi. Dan selama diperjalanan itu Ash hanya mendiamkan pria itu apapun yang pria itu katakan, ia tidak peduli jika hal itu membuat Eugino merasa seperti orang tolol yang berbicara pada dirinya sendiri tapi yang hanya Ash bisa pikirkan saat ini adalah perut, perut, dan perut.

"Kita sudah sampai boss" Ucap Sopir yang tak lain adalah bawahan favorit Eugino.

Eugino berdeham sebagai jawaban.

Ash melihat tempat dimana terlihat layaknya seperti gaya bangunan eropa klasik nan menawan. Bangunan bercat putih tersebut sudah menunjukkan aura ekslusif dan menawan bahkan disaat orang menginjakkan kaki di halaman depannya. Namun yang membuat Ash bingung dan baru sadar adalah, mengapa ada orang yang ingin membangun restoran secantik ini di bagian ujung London. Padahal jika restoran ini terdapat di tengah kota pasti akan menjadi pusat perhatian yang menarik.

"Kau suka tempatnya?" Ucap Eugino yang membuat Ash sadar bahwa pria itu berdiri tepat di sebelahnya.

Bangunan dengan interior megah dan menaungi gaya eropa klasik? Tentu saja Ash menyukainya. Bahkan Ash sudah menyukai pilihan pilar yang digunakan untuk bagian depan tempat tersebut.

Ash mengangguk dan tersenyum. "Ya, sangat cantik" Balas Ash.

Eugino menatap gadis itu dan tersenyum setelah mendengar balasannya. "Then, let's go" Ucapnya seraya menggenggam telapak tangan Ash dengan sangat tegas namun lembut.

"Selamat datang tuan Morte dan nyonya Leonard, silahkan masuk. Kami sudah menyiapkan meja yang anda pesan" Sang kepala chef menyambut kedatangannya mereka berdua.

Setelah masuk ke dalam restoran tersebut, Ash semakin takjub dibuatnya. Detik pintu restoran itu dibuka langsung terdengar alunan musik klasik yang memanjakan telinga serta menenangkan pikiran. Dan yang menurut Ash lebih hebatnya lagi adalah, mereka memilik kepala chef yang akan menyambut pelanggan. Belum mencoba makanannya saja, Ash sudah akan memberikan restoran ini bintang 5.

"Siapa temanmu yang memiliki restoran seindah ini?" Tanya Ash.

Pria itu berjalan mengikuti arahan Chef sembari menjawab. "Nicholas Xander" Jawabnya.

Ash mengangguk. Ia mengenal Nicholas Xander. Akhir-akhir ini pria itu memang sedang menjadi topic yang panas di kalangan para pembisnis dan wanita. Triliuner dan tampan, dua hal itu akan membuat pria manapun menjadi hot topic di dunia.

Ash menggedikan bahunya seolah ia tidak kaget mengetahui faktanya. "Temanmu memiliki selera yang bagus" Ucap Ash.

Eugino berdeham mengiyakan. "Ya, dia juga memiliki selera berteman yang baik"

ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang