Chapter 27 : Time Well Spent

3.4K 61 0
                                        


Ash mengerjapkan kelopak matanya yang masih terasa berat. Wanita itu tidak sengaja terbangun karena ia mendengar kericuhan di kamarnya. Ia mempertanyakan, apa yang dilakukan Eugino? Kemana pria itu pergi. Sampai pandangannya menuju ke arah Eugino yang berjalan mondar-mandir di dekat pintu balkon seraya menelfon seseorang.

Mata Ash sedikit menyipit untuk memperhatikan lebih jelas apa yang terjadi pada pria itu. Well, terlihat dari wajahnya pria itu terlihat sangat kesal. Namun Ash tidak bisa memahami apa yang membuat pria itu terlihat sangat kesal.

"Aku memiliki ide. Dan aku akan mengatakannya secara langsung padamu. Malam ini aku akan menyiapkan penerbangan ke Italy"

Dan ucapan Eugino membuat Ash mendadak terasa seperti tidak baru bangun tidur. Tubuh Ash mendadak membeku mendengar ucapan pria itu. Dan kini Eugino menghadap kepadanya sementara dirinya tidak sadar jika ia menatap pria itu dengan tatapan bingung.

"Hey are you okay?" Tanya Eugino seraya menghampiri Ash yang masih di atas kasur.

Pria itu merengkuh bahu Ash dan membiarkan istrinya bersandar sejenak di dadanya.

"Aku minta maaf, namun aku benar-benar harus pergi ke Italy lagi. Urusan ini sangat penting" Pria itu mencoba menjelaskan pada Ash yang masih terdiam.

Eugino berusaha memberikan kenyamanan pada Ash dengan memberikan wanita itu kecupan-kecupan kecil yang hangat. Bisa diakui jika cara tersebut cukup berhasil membuat Ash menjadi nyaman dan tenang, namun hati Ash terasa pedih mengingat fakta bahwa Eugino harus pergi kembali meninggalkannya sendirian di rumah yang terlalu besar ini. Ash bahkan tidak tau kali ini pria itu akan pergi berapa lama tanpa kabar.

"That's fine" Balas Ash dengan suaranya yang parau.

Eugino tersenyum hangat mendengar respon istrinya itu. Pria itu sangat tau jika istrinya tidak suka dengan keputusan yang ia buat, namun wanita itu tetap berani untuk melakukan apa yang menurutnya benar. Eugino semakin jatuh cinta setiap harinya pada wanita ini.

"Aku tau masalah ini sangat penting bagimu. Aku tidak akan meminta kau untuk menjelaskan bagaimana kau bekerja di dalam mafiamu atau sebagainya. Aku hanya ingin meminta satu kepadamu" Ash menarik dirinya dari rengkuhan pria itu dan menatap Eugino dengan tatapan yang sendu.

Eugino juga menatapnya dengan tatapan penuh cinta yang tulus. "Katakan kepadaku sayang" Mendadak suara pria itu terdengar parau.

"Kau tau aku sudah tidak memiliki apapun di dunia ini. Ayahku dan ibuku juga sudah meninggalkanku. Namun aku percaya jika aku masih memiliki kesempatan untuk memiliki sesuatu yang mungkin sangat berharga dan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku berharap kau melindungiku apapun yang terjadi. Aku ingin kau selalu berada di sisiku apapun yang terjadi. Aku akan mempercayaimu akan segala hal Eugino. Karena aku mencintaimu, Eugino Ernest"

Ucapan-ucapan indah yang baru saja dilontarkan oleh Ash merupakan ucapan terindah yang pernah Eugino dengar. Bagaikan alunan lagu lembut yang dimainkan dengan halus oleh pemain professional yang handal. Hingga arus rasa kenyamanan yang tadinya mengalir di seluruh nadi kini tergantikan oleh rasa bahagia yang bahkan tak mampu Eugino reaksikan menjadi sebuah emosi yang muncul di wajah tampan pria itu.

"Ma..m...ma...maaf jika ucapanku semakin mengganggu pi-"

Mata Ash membelalak kala ia merasakan bibir pria itu menempel pada miliknya dengan secara tiba-tiba dan kasar. Ash tidak mengerti bagaimana cara pria itu bisa menyalurkan emosinya melalui banyak hal. Seringkali ketika pria itu emosi pelampiasannya adalah dengan berhubungan seks yang kasar dan panas, namun terkadang pria itu memilih untuk berendam di bathup selama berjam-jam, dan selainnya ia tidak tau.

ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang