Chapter 29 : Between Life & Death

3K 75 0
                                        


Jika memang ini adalah akhir dari hidup Ash, dirinya belum siap. Mungkin jika hal seperti ini terjadi 5 bulan yang lalu saat ia tidak memiliki tujuan dalam hidupnya, ia akan siap. Namun ia belum siap kehilangan kesempata merasakan cinta Eugino. Ia tidak siap meninggalkan Eugino disaat pria itu menjadi satu-satunya alasan ia hidup.

Wanita itu benar-benar akan gila sebentar lagi. Bahkan saat Jerry mengendarai mobil dengan kecepatan yang di atas rata-rata, wanita itu tidak lagi merasakan apapun seolah dirinya lumpuh oleh situasi tertekan ini. Bahkan ia tidak lagi kepikiran untuk menghubungi Eugino. Ia hanya bisa duduk dan menunggu, entah menunggu kematiannya atau keberuntungannya.

"Fuck!" Jerry membanting tangannya di setir.

Ash menoleh ke arah pria itu. "What! What happen!"

Rahang pria itu menegang terlihat jelas kekesalan dari bola mata yang kini berapi-api itu. "Alessio bilang dia akan menyusul dalam 20 menit. Kita tidak punya waktu sebanyak itu"

Ash benar-benar tidak tau harus melakukan apa dalam situasi seperti ini. Dan 20 menit pertolongan dalam perjalanan? Ia pun tidak yakin jika mereka memiliki waktu sebanyak itu. Ash dapat melihat di layar yang terdapat di mobil tersebut menyatakan pertahanan mobil itu hanya tersisa 45 persen.

Ash kini sedikit lebih tenang entah kenapa. Ia melihat sekeliling dengan suara tembakan yang masih bergemuruh. Ia sedikit bingung sekaligus kagum betapa kuatnya mobil ini menahan serangan beruntun dari peluru. Dan bagaimana jika mereka menembakkan ban mobil ini? Apa ban mobil ini juga anti peluru?. Siapapun yang membuat ini mendapatkan penghargaan darinya.

Oke Ash merasa dia harus menghentikan basa-basinya. Karena Ash sadar bahwa terdapat cahaya yang semakin lama mendekati mereka. Hingga saat cahaya itu semakin dekat ia dapat melihat dengan jelas mobil merah tanpa plat yang mengikuti mereka. Dan terdapat seseorang yang keluar dari atap mobil tersebut dan membawa senjata.

"OH FUCK. ADA MOBIL YANG MENGIKUTI KITA JERRY!" Teriak Ash.

Jerry melirik ke arah spion belakang dan melihat mobil sedan merah yang berjalan dalam kecepatan yang hampir sama dengan mereka. Dan tanpa pikir panjang pria itu menambahkan lagi kecepatannya. Sangat beruntung mereka berada di jalur yang sangat sepi. 

"Holy fuck, fuck, fuck, fuck. I'm gonna die" Lirih Ash dengan matanya yang terpejam.

Jerry masih fokus dalam menyetir. Pria itu sedikit kebingungan kenapa mobil itu mampu mengimbangi kecepatan mobil yang ia kendarai. Karena yang pasti, Jerry tau betul mobil dengan kecepatan tinggi ini hanya diproduksi oleh perusahaan Eugino dan hanya digunakan untuk keperluan mafianya.

"It's 18 percent, what do we do Jerr?!" 

Jerry tidak menyautkan wanita itu. Sejujurnya ia sudah bingung untuk melakukan apalagi selain berharap Allesio dapat menyusulnya dalam waktu yang lebih singkat dari perkiraan. Dan jika mereka tidak tertolongkan sama sekali, ia hanya berharap dirinya yang mati daripada ia selamat namun Ash mati atau tersandra. Mati di tangan bos adalah hal terakhir yang Jerry inginkan.

"Wait it stopped. It stopped!" Ash menoleh sana-sini kebingungan.

Lalu terdengar suara ledakan yang sontak mengalihkan perhatian mereka berdua.

"Holy Fuck"

"Holy Fuck"

Dan ledakan tersebut berasal dari mobil merah yang sebelumnya mengikuti mereka dari belakang. Setelah itu asap dan api ledakan terlihat diserap oleh sesuatu yang Ash pun tidak mengerti apa itu. Sampai akhirnya Ash mendengar Jerry membuang napasnya lega. Pria itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ash mengerutkan dahinya meliihat pria itu kini bersandar dan bernapas terengah-engah.

ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang