005 "Usaha lagi"

1.5K 208 48
                                        

Usaha tidak akan menghianati hasil, apa itu juga berlaku untuk pasangan yang satu ini?

♾♾♾


Pasangan yang tidak muda lagi, baru saja sampai di rumah, setelah mengikuti acara keluarga perempuan, cukup melelahkan apalagi menjawab pertanyaan yang cukup sensitif. 

"Mas, aku udah hubungi temenku dan katanya dia yang bakal bikin janji temunya," ucap Bella saat keduanya berjalan memasuki kamar, keduanya sangat berharap dengan usaha kali ini, semoga berhasil.

"Semoga kali ini berhasil ya Mas," Jehan mengangguk dan mengelus rambut Bella, dirinya juga berharap seperti itu, agar keluarga mereka tidak meremehkan lagi. "Aku takut, takut ini karma buat aku,"

"Kenapa kamu terus pesimis begini? Kalau kamu pesimis begini gimana bisa berhasil? Pikiran kamu negatif terus!" Jehan sudah kepalang kesal tanpa sadar meninggikan nada bicaranya, pergi meninggalkan Bella yang terdiam.

Jehan muak dengan Bella yang terus saja mengatakan hal hal yang membuatnya ikut pesimis, sadar atau tidak hal itu juga jadi pemicu kegagalan mereka selama ini, pikiran negatif.

"SIALAN!" teriak Jehan frustasi, kepalanya serasa penuh dengan semua yang menekannya, keluarga yang tidak lagi mendukungnya sejak tujuh tahun lalu, tekanan yang menyuruhnya segera memiliki anak.

Bella bukannya memberikan semangat, malah semakin menekan dengan kalimat kalimat pesimis membuat Jehan seperti tidak memiliki dukungan sama sekali.

Jehan berjalan menuju kamar di lantai atas, kamar yang hanya ada satu di lantai itu, kamar yang selalu terkunci selama tujuh tahun belakangan ini, hanya Jehan yang punya kuncinya. Membuka pintu dan yang pertama terlihat adalah sebuah foto pernikahan dengan ukuran besar yang berada di atas kepala ranjang.

Tata letak semua masih sama Jehan tidak pernah mengotak atiknya, barang barangnya saja masih selalu ada, bahkan di meja rias masih lengkap walau sudah kadaluarsa pasti, sudah tujuh tahun tidak pernah tersentuh.

Jehan merebahkan diri diatas ranjang menutup mata dengan satu lengannya, tempat ini menjadi tempatnya melepaskan tekanan, walau penghuninya sudah tidak ada namun, rasanya seperti masih sama, tempatnya pulang dan mengadu, nyaman.

"Jehan, gue pastiin lo nggak akan pernah dapet cewek kayak gue, sebanyak apapun nggak bakal nemu gue di orang lain!"

Jehan teriang dengan kalimat itu, benar Jehan tidak mendapatkan sosok mantan istrinya di orang lain. Menikah dengan orang yang dirinya cintai belum tentu membuatnya punya tempat ternyaman untuk segala sesuatu.

Jehan menengok pada lemari kaca yang menyimpan segala sesuatu yang Raisa tinggalkan, baju pernikahan dan segala aksesoris yang wanita itu gunakan dulu, album foto mereka juga ada disana.

"Jehan, buat baju pernikahan, Tante udah sempet nyiapin sebelum pergi, kita pake itu aja ya,"

Baju pernikahan hadiah terakhir dari Mamanya untuk pernikahannya, sepertinya orangtuanya akan sangat bahagia mendapati Raisa adalah menantu mereka.

"Ma, beneran Raisa yang pake gaun yang udah Mama siapin," monolog Jehan sambil tersenyum membayangkan senyum sang Mama.

Berlama lama disana Jehan merasa tenang dan membuatnya mengantuk, hingga tanpa sadar dirinya tertidur di dalam kamar tersebut.

♾♾♾


"Mas, kamu dari tadi ada dimana?" Jehan yang  baru turun dari tangga, mendapat pertanyaan dari istrinya yang menyiapkan makan siang, "Maafin aku," sesalnya saat Jehan menarik kursi dan ingin duduk.

"Duduk!" perintah Jehan dan mengambil makanan, tidak bersuara sama sekali setelahnya karena fokus dengan makanannya.

"Mas, temen aku udah bikin janji minggu depan, dokternya nggak bisa kesini jadi kita yang kesana, bisa?"

"Kapan tepatnya? Aku bisa, setelah peringatan kematian Papa sama Mama," sahut Jehan tanpa memandang Bella, "Aku ke kantor, masih ada kerjaan," Jehan menyelesaikan makan siangnya  dan  pergi dari rumah.

Bella merasa bersalah karena ucapannya tadi, pasti Jehan marah padanya terbukti dengan tidak Jehan yang tidak meresponnya, Jehan tipikal manusia yang akan diam saat marah.

Mendongak melihat satu ruangan yang selalu terkunci, Jehan datang dari sana tadi. Ruangan apa sebenarnya itu, kenapa Jehan begitu menjaganya. Dari semua ruangan yang ada disini hanya ruangan itu yang tidak boleh dirinya masuki, dulu Bella pikir ruangan itu akan menjadi kamar utama untuk mereka karena terletak sendirian disana, ternyata bukan, Jehan membuat kamar baru di bawah yang sekarang menjadi kamar utama.

Ingin bertanya tapi entah pada siapa, Ardiethama? Mereka bahkan enggan mengakuinya sebagai menantu, bahkan semua pekerja rumah ini di ganti yang baru supir, tukang kebun dan asisten rumah tangga yang sudah tidak di kerjakan lagi, karena Bella yang sendiri yang menghandle pekerjaan rumah, berbeda saat dengan Raisa dulu yang memang harus bekerja di rumah sakit, jadi memerlukan asisten rumah tangga.

Ardiethama sering meremehkannya, tak jarang Bella merasa sakit hati saat harus dibandingkan dengan Raisa, kenyataannya memang dia berhasil mendapatkan hati Jehan tapi tidak dengan anggota keluarga yang lainnya, kedekatan Raisa dengan Ardiethama sejak kecil membuatnya kalah jauh.

Drtt.. drtt.. drtt...

Lamunan Bella buyar saat ponselnya berdering, dengan segera mengambil ponsel yang berada meja dapur, melihat nama kontaknya lalu tersenyum dan langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Ya...?" kata pertama yang Bella katakan saat tersambung dengan orang yang ada di seberang telepon.

"Bella, gue udah kasih tau dokternya, lo bikin janji sendiri aja ya, takut lo sama Jehan ada urusan kalau gue yang nentuin. Gue kasih nomer asisten dokternya aja," 

"Ah ya, makasih ya. Nanti biar gue sendiri yang hubungi, soalnya minggu minggu ini mau ada acara peringatan kematian mertua gue juga,"

"Semoga berhasil, gue udah nggak sabar punya keponakan dari lo,"

"Makasih doanya, nama dokternya siapa?"

"Candrik Nugroho, dia tugas di Sidoarjo, gue kirim kontaknya sekarang,"

Baru beberapa detik panggilan terputus, satu pesan masuk dari temannya itu yang mengirimkan nomer  asisten dokter Candrik, Bella tersenyum dan sangat berharap dokter kali ini bisa membantunya dan Jehan segera mendapatkan keturunan.

"Kasih tau Jehan dulu," monolognya sambil mencari kontak suaminya itu dan mengatakan jika dirinya sudah mendapatkan nomer dokter kandungan tersebut.

Bella melupakan rasa penasarannya pada kamar di lantai atas dan terus tersenyum, tidak sabar bertemu dengan dokter Candrik yang akan membantu mereka nanti, reputasi dokter Candrik begitu bagus, hampir semua pasangan yang datang untuk program hamil hasilnya berhasil.

○ Mas Jehan

Aku masih ada rapat, nanti aku hubungi lagi

Pesan masuk dari Jehan memberitahu jika lelaki itu masih ada rapat, pantas saja tadi teleponnya tidak diangkat.

Langsung hubungi aku selesai rapat, aku udah dapet nomer asisten dokter kandungan itu

Bella membalas pesan Jehan untuk segera menghubunginya nanti jika sudah selesai dengan rapatnya.

♾♾♾

Bahagia kah pak Jehan?

Orang yang lo cinta nggak bakal mengerti seperti orang yang mencintai lo dan nggak bakal nemu orang itu di diri orang lain.

Kita lihat seberapa bertahannya cinta mereka setelah tahu keberadaan Daehan nanti? Apa masih sebesar itu atau memudar bahkan hilang?

gercep bener ya kalian, aku naikin ya tagetnya jadi 70 vote dan 15+ komen, hehehe

KOLOM HUJATAN DAN MAKIAN!

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang