032 "Mavin"

545 71 19
                                        

Raisa yang sudah sampai sekolah meminta untuk melihat cctv, dia harus memastikan siapa yang menjemput Daehan, wali kelas Daehan memperbolehkan, Raisa memperhatikan dengan seksama, orang yang sedang mengobrol dengan Daehan dan gurunya itu di cctv. "Mavin?" gumamnya ketika wajahnya terlihat jelas.

Raisa jelas mengingat laki laki itu, Mavin— sahabat Jehan sejak SMA, yang tau segalanya tentang pria itu melebihi dirinya dulu, ternyata laki laki itu juga yang membantu Jehan selama ini, mengelabui semua agar tak terlihat.

Di tengah pikirannya itu suara ponsel berbunyi menampilkan nama Hana yang meneleponnya, "Kak, Daehan udah sampai rumah, kelihatan sedih dan bukan pak Sahrul yang nganterin," beritahu Hana langsung tanpa berbasa basi.

"Hana, tolong tahan orang itu, gue perlu bicara sama dia," Raisa tidak perlu menebak lagi siapa yang mengantar Daehan jelas Mavin, siapa lagi yang berani, Jehan? Pria pengecut sepertinya tidak akan berani, dia hanya berani main sembunyi sembunyi.

Raisa berpamitan pada guru Daehan dan meminta copy rekaman cctv itu untuk di kirim padanya, segera pulang.

"Jehan beneran nggak mau dengerin permintaan gue," perasaannya campur aduk sekarang namun, kemarahannya jelas mendominasi, apa yang diinginkan pria itu sebenarnya bukannya hidupnya sudah sangat bahagia, kenapa malah mengganggu kebahagiaannya.

Raisa membawa mobilnya dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya, Raisa mengambil ponselnya dan mencari kontak Berlian dan segera menghubunginya.

▪️▪️▪️

Mavin yang akan memasuki mobilnya kembali setelah memastikan Daehan masuk ke dalam rumah urung, ketika seorang perempuan berlari ke arahnya, "Sorry, Kakak siapa? Kenapa kakak yang anterin Daehan, supirnya kemana?"

"Saya om ya, Mavin," Mavin mengulurkan tangannya untuk berkenalan, "Maaf, tadi Daehan berjalan jalan bersama saya jadi pulang agak telat," Mavin jelas tidak mengatakan jujur kalau Jehan yamg awalnya ingin bertemu dengan Daehan.

"Hana," Hana membalas jabatan tangan itu, "Kak Mavin bisa tinggal sebentar? Kak Raisa ingin bertemu, nggak masalah kan? Kakak kan omnya Daehan bukan penculik?" lanjut Hana setelah melepas jabatan tangan itu.

"Raisa?"

"Iya, kakak bisa tunggu di rumah sebelah, rumahku," ajak Hana, Mavin hanya mengikutinya, tidak masalah bertemu Raisa, "Kakak tunggu sini, aku bikin minum dulu, mau minum apa?" Hana mempersilakan Mavin duduk di kursi depan rumah tempat biasanya Hana mengawasi Daehan ketika bermain, dan menerima tamu ketika tidak ada siapapun di rumah.

"Terserah,"

Hana masuk dan meninggalkan Mavin yang memikirkan apa yang sekiranya Raisa bicarakan dan jawaban apa yang akan dia berikan pada wanita itu nantinya.

Belum lama menunggu sebuah mobil datang dan berhenti tepat di sebelah mobilnya, seseorang keluar dan jelas Mavin mengenalnya, rambut blonde menjadi ciri khasnya sejak mereka masuk kuliah.

Raisa yang juga melihat ke arah Mavin langsung menghampirinya dan duduk di sebelahnya yang terhalang oleh meja kecil.

"Apa kabar," basa basi Raisa membuka topik pembicaraan, "terakhir ketemu pas hari pernikahan," yang Raisa maksud adalah hari pernikahannya dan Jehan dulu.

"Baik, lo?" Mavin membalasnya dan menanyai balik.

"Seperti yang lo lihat, gue baik sebelum lo dateng ke sini," Raisa sedikit sarkas di akhiri tawa kecil. "By the way gue boleh tanya sesuatu nggak? Gue sama lo emang nggak sedekat itu buat nanya hal ini tapi karena ini bersangkutan sama gue dan lo tau maksud gue kan?"

Mavin tidak bodoh dengan pertanyaan Raisa itu, dia jelas paham sekali apa yang perempuan itu maksud.

"Kak Raisa udah dateng? Ini aku bawain minum sama cemilan, silakan kak Mavin. Aku masuk dulu ya, kalian ngobrol aja nggak papa," Hana datang dengan nampan yang berisikan minuman dan camilan.

Setelah Hana masuk tersisa Raisa dan Mavin yang masih saling diam untuk beberapa saat, "Gue tau lo sama Jehan sangat bersahabat baik, lo bakal selalu bantu dan mendukung semua keputusan dia, bahkan lo tau juga kan soal keinginan Jehan waktu itu?"

Mavin diam, Raisa sudah mengetahui semuanya, Mavin jelas mengetahui semua juga, Mavin mungkin jadi orang pertama yang tau segalanya tentang Jehan. "Apa lo dulu juga dukung dia?" Raisa memang bertanya dengan santai namun, itu membuat Mavin tidak berkutik.

"Gue udah tau jawabannya, gue emang nggak deket sama lo sampai harus minta tolong soal ini, tapi bisa nggak untuk kali ini lo nolongin gue, bukan cuma gue tapi sahabat lo juga, Jehan. Pertolongan lo ini bisa buat semua pihak terselamatkan, gue, jehan, Daehan bahkan lo juga,"

"Selama ini lo yang selalu bantu dia tanpa tau apa perbuatan kalian akan merugikan orang lain, lo tau nggak, dari semua kejadian ini gue yang paling dirugikan di sini atas perbuatan kalian berdua, gue cuma minta tolong buat lo berhenti ikut campur dan jelasin sama sahabat lo itu buat nggak ganggu hidup gue, dari semua orang yang ada di dekat Jehan, dia selalu dengerin lo kan?"

"Raisa, Jehan cuma mau ketemu Daehan, itu aja gue jamin dia nggak bakal ngambil Daehan dari lo,"

"Lo boleh ngomong gitu hari ini, kedepannya nggak ada yang tau, Jehan ketemu sama Daehan itu juga bisa bikin keluarga Ardhietama juga tau, keluarga itu sangat mementingkan pewaris,"

"Gue juga tau perjanjian antara Jehan dan keluarganya tentang pewaris itu, mereka kasih Jehan waktu satu tahun bukan? Kalau dalam satu tahun belum ada pewaris lo pikir Jehan nggak bakal ambil Daehan apalagi kalau Bella juga tau soal ini, Jehan bakal lakuin apapun buat bikin Bella tetep ada di sisinya termasuk ambil anak gue!"

Raisa sudah tidak bisa menahan semuanya, untuk pertama kalinya Raisa mengeluarkan semua rasa sakitnya di depan orang, Raisa yang kuat dan tenang seketika hilang, air matanya juga mulai keluar begitu membayangkan hal itu jika terjadi.

"Apa perlu gue harus sujud di depan lo buat bantu gue kali ini biar Jehan nggak mendekati Daehan lagi? Kalau iya, gue bisa lakuin itu," tubuhnya dia jatuhkan di depan Mavin bersiap untuk bersimpuh di depan laki laki itu.

"Raisa, apa yang lo lakuin!" Mavin berdiri dan menjauh dari Raisa, ikut berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Raisa, "Harusnya gue yang minta maaf karena ikut andil atas luka lo, harusnya gue yang bersimpuh ke lo minta ampun, maafin gue, harusnya gue ingetin Jehan bukan malah dukung perbuatan dia, maafin gue,"

Mavin menyesali perbuatannya yang selalu mendukung semua kemauan Jehan tanpa memikirkan orang lain yang mungkin saja dirugikan, akhir akhir ini Mavin juga menyadari hal itu namun, hari ini dia benar benar merasa sangat bersalah terutama pada Raisa yang merupakan orang paling terdampak di sini.

▪️▪️▪️▪️▪️

Hello semuanya yuk yuk ramein, aku seneng banget liat komen kalian yang sangat emosional itu, ini baru awal ke brengsekan seorang Jehan guys, jadi tolong bersabar masih belum penuh nih tangki brengseknya.

Dari chapter ini apa kalian sudah menebak bakal di bawa kemana nih cerita, please sabar guys aku udah mikir mau gimana, cuma masih agak bingung eksekusinya.

Tolong kasih banyak cinta kalian untuk cerita ini, dengan tinggalin jejak, vote and komen sebanyak banyaknya, aku nggak nentuin target asal ada draf pasti aku upload, serius aku udah nggak ada draf juga, emang sejak awal nih cerita nggak sih karena nulis langsung upload, kadang aja nggak sempet baca ulang buat revisi kalau ada typo maafin ya.

BROKEN FAMILYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang