Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

018 "Terimakasih, Tolong dan Maaf"

1.1K 152 50
                                        

"Aku ada di Surabaya sama mbak Berlian, temen aku pake jasanya buat bantu dia di perceraiannya, jadi aku temenin, nggak papa kan kalau aku ada di sini untuk beberapa hari lagi? Iya maaf, aku nggak bilang dulu sama kamu, aku buru buru tadi. Iloveyou"

Jehan menghela napas setelah panggilan telepon terputus, dirinya terpaksa berbohong pada Bella soal keberadaannya di Surabaya. Jehan berpikir sekarang bukan waktunya Bella tau sebenarnya, tunggu sampai semua membaik dan hubungannya dan Raisa juga Daehan membaik.

Terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak sadar ada yang masuk ke dalam ruang rawatnya, "Gue ganggu?" tanya Raisa saat melihat Jehan terkejut dengan kehadirannya.

"Enggak, gue kira mbak Berlian tadi," balasnya canggung. Sedangkan Raisa hanya mengangguk dan duduk di samping ranjang, Jehan sendiri duduk di atasnya.

Kecanggungan meliputi mereka, untuk pertama kalinya sejak sekian lama mereka tidak duduk berdua begini, rasanya campur aduk. Keduanya berusaha menetralkan perasaan masing masing.

"Terimakasih," ucap tiba tiba Raisa membuat Jehan yang masih fokus dengan segala pikirannya kebingungan, "Karena sudah menolong Daehan," lanjutnya sambil bertemu tatap dengan ayah Daehan.

"Daehan gimana?" Jehan menanyakan keadaan Daehan untuk mengurangi rasa canggung diantara keduanya.

"Semua sudah baik, Daehan udah tidur juga," balas Raisa dan kemudian menjadi hening kembali, tidak tahu lagi apa yang ingin dibicarakan, ragu dan takut.

"Raisa kenapa lo nggak pernah bilang soal Daehan?" Jehan melontarkan pertanyaan yang sangat membuatnya penasaran dengan alasan mantan istrinya itu, apa Raisa begitu sangat membencinya hingga menyembunyikan kehadiran seorang anak diantara mereka. "Apa lo sangat membenci gue?  Gue sadar kalau gue emang brengsek di masa lalu tapi kenapa lo nggak bilang soal Daehan? Gue udah gagal jadi suami lo, haruskah gue gagal juga jadi seorang ayah?" Jehan melanjutkan ucapannya membuat Raisa tertohok mendengarnya.

"Nggak, gue nggak maksud begitu. Hanya saja waktunya nggak tepat, gue tahu kalau hamil setelah bercerai, gue mau bilang sama lo waktu itu tapi nggak bisa, lo udah bahagia sama Bella, gue nggak mau ganggu kebahagian yang selama ini lo harapkan, menikah dengan perempuan yang paling lo cintai,"

"Kalaupun gue bilang saat itu hamil, apa yang bakal lo lakuin? Balik sama gue dan ninggalin Bella demi anak yang gue kandung? Nggak! Nggak akan ada yang berubah, semua bakal jadi lebih rumit. Bukan cuma gue yang bakal ngerasa sakit kalau itu terjadi, Bella, keluarga kita dan Daehan juga ikut ngerasa sakit, anak itu bakal jadi korban yang paling sakit, Jehan!"

Sudah lama Raisa menahan semuanya sendirian, sekarang sudah waktunya dia berani  mengungkapkan semua perasaan yang selama tujuh tahun dia pendam sendirian, demi kebahagiaan diri sendiri juga putra semata wayangnya, Daehan.

"Jadi lo pikir dengan nggak bilang soal Daehan akan jauh lebih baik? Bayi itu juga anak gue harusnya lo bilang juga sama gue, lo sama gue emang berpisah tapi anak itu tetep anak gue, darah daging gue! Kalau kayak gini lo sama gue sama aja!"

"Iya, terbukti kan? Lo jauh lebih bahagia sekarang, begitupun gue juga bahagia sama Daehan, coba kalau gue bilang? Semua akan sangat rumit, gimana perasaan Daehan nantinya? Bakal ada banyak pertanyaan tentang ayah dan bundanya, keluarga kita juga akan merasa terbohongi kalau sampai itu terjadi,"

"Jadi gue minta tolong sama lo, setelah ini gue mohon lo pergi jauh dari Daehan, anggap aja Daehan nggak pernah ada diantara gue dan lo, anggap aja Daehan itu anak dari temen masa kecil lo, hidup seperti tujuh tahun ini, tolong jangan kasih sedikitpun harapan sama Daehan soal seorang Ayah, karena gue pastiin Daehan nggak bakal kekurangan kasih sayang sekalipun tanpa sosok ayah, gue bisa jadi apapun untuk anak gue. Lo bener kita emang sama jahatnya, gue nggak peduli apapun asalkan Daehan tumbuh dan bahagia semestinya tanpa harus berpikir masa lalu orangtuanya, itu beneran nggak enak, gue udah ngalamin,"

Jehan speechless mendengar ucapan Raisa, perempuan yang dia kenal tujuh tahun yang lalu sangat berbeda dengan perempuan di depannya ini, dirinya merasa kehilangan teman masa kecilnya yang tenang dan tidak gegabah dalam memutuskan.

"Tapi kalau gitu lo bikin gue jadi orang paling jahat, Raisa! Gue nggak bisa kalau acuh sama Daehan setelah tau semua ini. Gue sadar gue emang bajingan selama ini, tolong maafin gue, tolong jangan hukum gue dengan jauh dari Daehan lagi," mohon Jehan tapi ucapan tersebut jelas tidak menggoyahkan pertahanan Raisa Daeline.

"Kenapa nggak bisa? Gue udah bilang kan Daehan anak gue, anggap dia cuma anak gue! Bokap gue bisa ngelakuin itu, lupa sama anaknya dan milih keluarga dan anak barunya, begitupun lo jelas mudah bagi laki laki kayak lo!" jawab Raisa yang sudah tidak bisa menahan semuanya. "Setelah lo sembuh total, kembali ke Jakarta dan jangan temui Daehan lagi bahkan selama pemulihan. Orangtua gue juga bakal datang, jangan nunjukin diri kalau mau selamat dati ayah gue,"

Raisa bangkit dari tempat duduknya dan akan keluar namun, baru membuka pintu dirinya berhadapan dengan Berlian. "Raisa..."

"Kak, gue minta tolong sama lo buat bawa Jehan kembali dan jangan ada yang berusaha deketin Daehan dari keluarga lo," minta Raisa pada Berlian, "Satu lagi, jangan jadi makin brengsek dengan nyakitin wanita lain," tambahnya melirik Jehan dan pergi dari ruangan Jehan.

Raisa menang mendengar sedikit pembicaraan Jehan dan Bella di telepon tadi, dirinya tau Jehan telah berbohong pada Bella soal keberadaannya di Surabaya.

"Lo ditolak mentah mentah kan sama Raisa?" Berlian jelas tau, dirinya hanya memastikannya. "Lo denger kan apa yang Raisa bilang tadi? Dia nggak mau kasih kesempatan buat bisa deket sama Daehan,"

"Gue nggak bisa mbak, gimana gue jauh dari Daehan?" tanya Jehan yang mulai putus asa, Raisa jika sudah memutuskan sesuatu pasti tidak akan tergoyahkan, "Daehan anak gue mbak..."

"Bohong, lo bisa hidup tanpa Daehan selama tujuh tahun ini, sejak awal lo memang udah nggak peduli tentang Raisa, tapi kenapa sekarang lo malah pengen ngerebut kebahagiaan orang yang lo sakiti dulu? Jehan, jangan egois! Dunia nggak berputar di lo doang, Raisa punya hak penuh atas Daehan, sekalipun lo adalah ayahnya lo nggak punya hak itu, lo udah menelantarkan seorang anak!" jelas Berlian panjang lebar.

"Kalau lo pinter dulu, lo nggak bakal pernah ninggalin Raisa, perempuan yang lo pilih sendiri untuk dinikahi, tapi apa lo malah mau nikah sama perempuan lain karena mencintainya dan menjaga kehormatan mereka, tapi sadar nggak lo? Lo nggak menjaga kehormatan istri lo saat itu, lo malah bikin dia dipandang jelek oleh masyarakat, membuat kembali berkubang pada rasa traumanya dan sekarang lo mau recokin kebahagiaan dia? Waras lo?!"

Berlian menjadi yang terdepan untuk menegur dan memberi peringatan pada Jehan, kalau bukan dia siapa lagi? Mereka hanya punya satu sama lain. Berlian adalah perempuan dia paham betul sangat berat menjadi Raisa selama ini, kalau dirinya atau orang lain yang berada di posisinya belum tentu mereka akan sekuat wanita itu.

Berlian sudah banyak menemukan kasus serupa dan kebanyakan pihak perempuan yang menanggung bebannya, bukan hanya dari keluarga namun, juga dari masyarakat.

"Lo udah bisa keluar besok, gue udah pesan tiket, kita harus balik, jadi asing dan jangan sampai keluarga kita tau soal Daehan itu bakal makin rumit, jangan bikin Raisa menderita lagi," putus Berlian mutlak.

"Mbak..."

"Gue ada di pihak Raisa! Karena memang lo yang salah di sini, nggak usah berlagak paling tersakiti!" final Berlian dan keluar dari ruangan itu membiarkan Jehan memikirkan semuanya, dirinya sendiri yang memilih semua ini, dia juga yang harus menanggung konsekuensinya dari pilihan tersebut.

***

Maaf banget baru update, beberapa hari ini aku kurang fit, buat nulis males banget, ngapa ngapain males bahkan buat update aja nggak ada mood.

Tolong komen banyak banyak aku kangen baca komen kalian yang seru seru itu, jangan lupa vote komen dan follow!

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang