040 "Ayah"

582 79 11
                                        

Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Bella di perbolehkan untuk pulang ketika keadaannya mulai membaik, selama masa pemulihan Jehan selalu berada bersamanya, memberikan semua waktunya agar Bella tidak terus terpuruk dan menyalahkan dirinya untuk semua yang telah terjadi.

Beberapa barang milik Raisa yang ada di kamar utama telah dipindahkan ke apartemen Berlian, beberapa lagi sudah di buang dan di bakar, kamarnya sudah di kunci dan kuncinya berada di Berlian tidak ada yang bisa masuk.

"Mas, maaf," sudah berapa ratus kali Bella mengatakan itu sejak sadar, "Aku nggak bisa jaga anak kita, aku nggak akan pernah bisa di panggil mama,"

"Sayang, kita masih bisa adopsi anak nanti," selama itupun Jehan terus berusaha menenangkan kekhawatiran istrinya itu, tidak membiarkan dia stress.

Adik iparnya juga sering datang ke rumah membawa anak anaknya untuk menghibur Bella, Berlian juga sempat datang saat Bella diijinkan pulang, ikut mengantarkan.

Seperti hari ini mertua dan adik iparnya bersama anak anaknya datang, Bella sedikit terhibur dengan kehadiran kedua keponakannya.

"Bella kamu udah baikan?"

"Iya ma, walau masih sering sedih kalau inget anakku yang udah pergi," balas Bella yang sedang memangku salah satu keponakannya. "Mama tau kan perjuangan aku buat punya anak sampai akhirnya berhasil, tapi sepertinya Tuhan memang tidak akan pernah mengijinkan aku buat itu,"

"Kakak nggak usah sedih terus, anak aku juga anak kakak, kita bakal sering sering main ke sini kalau kakak mau," adiknya ikut menghibur, "Lihat Naya seneng banget kalau sama kakak," tunjuk pada anaknya yang Bella pangku.

"Seneng ya main sama aunty,"

"Bella, jadi benar kalau Jehan punya anak dari pernikahan sebelumnya? Kenapa di sembunyikan selama ini?" pertanyaan dari ibunya itu membuat Bella terdiam, dia tidak tau alasannya kenapa, dia saja baru tau saat sebelum kehilangan anaknya.

"Aku nggak tau pasti ma, aku aja baru tau soal itu," balas Bella, "Padahal kami sudah bertemu saat di Surabaya waktu itu dan mbak Raisa juga nggak cerita, dulu aku ngiranya mbak Raisa udah nikah lagi dan punya anak,"

"Jadi kamu udah ketemu anaknya?"

"Iya, dia emang mirip mas Jehan, mirip banget malah bahkan seleranya juga sama," Bella jadi mengingat saat mereka bertemu di tempat makan dulu, keduanya sama sama tidak suka ikan kalau bukan Raisa yang memasaknya, bahkan selama menikah dengannya tidak pernah sekalipun Jehan menyentuh ikan yang dia masak.

"Kenapa bisa? Maksud mama bukannya pernikahan Jehan dan Raisa itu tidak ada rasa cinta, kenapa bisa sampai punya anak?" keluarga Bella jelas tau bagaimana menantunya itu, bahkan dulu Jehan sendiri yang mengajukan diri untuk menikahi Bella setelah kabar calon suaminya meninggal, "Kalau dia cinta pada Raisa, dia tidak akan mau menikah denganmu waktu itu,"

Bella menunduk, bagaimana menjelaskan pada keluarganya, dia pun bingung dengan perasaan Jehan yang sebenarnya kepada Raisa, dia ingin menyangkal namun barang barang yang di temukan di kamar itu masih tersusun rapi di sana, bahkan foto  pernikahan yang besar masih pada tempatnya, selain itu Bella juga menemukan foto yang mungkin pernah bertengger di meja kerjanya sebelum mereka berdua, foto yang sama dengan yang Berlian temukan waktu itu.

Setelah mengetahui semua kebenarannya itu, Bella jadi ragu apa perasaan Jehan pada Raisa itu murni sayang pada teman seperti yang pernah pria itu katakan atau lebih dari itu.

"Apa Jehan tidak berniat mengambil anak itu? Dia juga anak Jehan kan, Raisa sudah menyembunyikan bertahun tahun, jika anak itu tinggal dengan Jehan, dia akan menjadi anakmu juga,"

▪️▪️▪️

Raisa dan Daehan baru sampai di Jakarta, Raisa butuh pulang, Raisa ingin mengadu pada ayahnya sekarang, bahkan setelah sampai di rumah Raisa langsung memeluk ayahnya, Daehan saja sampai granmanya bawa jalan jalan, jika seperti ini Raisa hanya ingin bersama dengan ayah, tidak ada yang lain.

"Ada apa nak,"

"Ayah, takut, aku takut Daehan—" baru beberapa kata yang keluar Raisa sudah tidak bisa menahan tangisnya, ayah memeluk putrinya itu menenangkannya.

"Ayah pastikan Daehan tidak akan pergi kemana mana, Daehan akan selalu bersamamu, pegang janji ayah," seakan mengerti apa yang Raisa akan katakan, itu bukan hanya sekedar kalimat penenang tapi juga janjinya pada sang putri, "sudah cukup kamu selama ini menangisi hal yang tidak seharusnya, ayah pastikan setelah ini hanya kebahagiaan yang akan kamu dapatkan," ayah memeluk Raisa semakin erat, air matanya juga ikut turun mendengar suara tangis putri kesayangannya itu.

"Granma, bunda kenapa?" tanya Daehan pada granma yang menggandengnya, "Daehan beberapa kali tidak sengaja melihat bunda menangis bahkan juga saat Daehan tidur bunda mengatakan jangan tinggalkan bunda, gitu" ceritanya pada granma.

Granma bingung akan mengatakan bagaimana, bukan kewajibannya itu mengatakan kekhawatiran Raisa pada anaknya tapi jika Daehan tau terakhir dan itu tidak sesuai dengan kebenaran akan membuat anak itu salah pilih nantinya.

"Oh ya granma, apa kita bisa ketemu ayah?" tanya Daehan tiba tiba, apa Daehan sudah tau tentang Jehan, "Ayah tinggal di Jakarta juga kan? Terakhir Daehan ketemu udah lama banget, kemarin pas Daehan ulang tahun ayah juga nggak dateng, cuma kadonya aja yang sampai di anter om Mavin kata bunda,"

"Kamu udah ketemu Jehan?" granma memastikan, Daehan mengangguk, dia jadi mengerti sekarang kenapa Raisa begitu khawatir karena Daehan sudah tau tentang ayah kandungnya.

"Mau dengar cerita granma?" mungkin ini waktunya Daehan tau semua cerita bunda dan ayahnya, mungkin setelah Daehan tau ceritanya, anak itu jadi lebih memilih berpihak pada Raisa, selama ini sudah cukup Raisa menyembunyikan kebenaran tentang Jehan, mengatakan hal baik baik tentangnya yang membuat Daehan selalu berharap pada ayah kandungnya.

"Cerita?"

"Cerita bunda dan ayah Daehan, mau dengar?"

"Mau," seketika Daehan berseru antusias, jika berhubungan dengan orangtuanya anak itu akan sangat senang, apalagi ini kisah keduanya, "Daehan mau dengar, ayo granma ceritakan, Daehan tidak sabar untuk mendengarkan,"

"Kita cari tempat yang nyaman dulu yuk," ajak granma, "Nggak di rumah karena bunda juga lagi cerita sama granpa, rahasia. Jadi ini juga rahasia antara Daehan dan granma, janji?"

"Janji"

"Jangan  cerita pada siapapun, oke?" Daehan mengangguk setuju.

Keduanya saling menaungkan jari kelingkingnya, pinky promise. "Ayo, granma ada tempat yang cocok buat cerita, Daehan pasti seneng nanti,"

▪️▪️▪️▪️▪️

Chapter ini spesial hari ayah, selamat untuk semua ayah dan calon ayah, tolong jangan kasih anak trauma ya terutama anak perempuan

Dua ayah yang berbeda, ayah Raisa dan Ayah Daehan

Jangan lupa tinggalkan jejak, kalau begini tandanya udah mendekati end, moga nggak kena writter blok pas mendekati ending ya, ayo vote dan komen sebanyak banyaknya!

Dan sorry sebenernya mau update sorean tapi draftnya belum selesai dan aku baru balik kerjanya jam segini.

Love you guys

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang