Setelah merayakan pesta ulang tahun Daehan secara sederhana dan kekeluargaan, anak itu sekarang bersama Rey dan Hana, ketiganya sedang berjalan jalan untuk merayakan bersama, Raisa memilih tinggal di rumah.
Ibu satu anak itu menyenderkan punggungnya pada sofa ruang tamu yang masih berantakan, dekorasi masih belum dia bereskan, mamanya sudah lebih dulu meneleponnya, obrolan yang serius, membuat Raisa sedikit ketar ketir.
Kabar Bella yang keguguran sampai keluarga Ardiethama yang sudah mengetahui keberadaan Daehan, semua tidak bisa terelak sekarang, rasanya baru sebentar Raisa merasa lega karena Jehan sudah tidak mengganggunya tapi sekarang masalah lebih besar ada di depan.
Apa yang akan keluarga mereka lakukan sekarang? Kabar Daehan sudah terdengar nyata di keluarga Ardiethama, Raisa tidak papa jika mereka tau hanya saja waktu yang tidak tepat, Raisa takut Daehan akan di ambil paksa darinya, apalagi dengan keadaan Bella yang sekarang.
Kak Berlian calling...
Raisa melihatnya ada perasaan ragu untuk mengangkatnya, dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi, lalu apa yang selanjutnya akan terjadi, Raisa menyakinkan dirinya sendiri, semua akan baik baik saja, Raisa tau keluarga Ardiethama tidak akan melakukan hal yang dia pikirkan, dia kenal benar keluarga mereka.
"Hallo?" suaranya terdengar berat, namun Raisa berusaha setenang mungkin, terus menyakinkan dirinya.
"Sa, sorry. Gue nggak bisa tepati janji buat keluarga gue nggak tau soal Daehan, sekarang mereka tau siapa Daehan,"
"Ya, gue tau kak, nggak perlu minta maaf, gue juga salah disini, cepat atau lambat semua bakal tau, gue juga tau maksud lo hubungi gue kali ini, gue bakal Dateng tapi nggak dalam waktu deket, gue bakal kenalin Daehan sama keluarganya,"
"Raisa..."
"Orangtua gue tadi udah ngehubungi, mereka emang sempet mau minta kontak gue tapi ayah nggak ngijinin, karena ayah yang bakal hubungi gue dan minta untuk dateng, tapi nggak boleh maksa kalau gue nggak mau, keluarga kalian setuju,"
Raisa tau semuanya, mereka memang sempat meminta kontak yang bisa di hubungi untuk berbicara langsung dengannya, tapi dengan tegas ayahnya menolak dan dirinya sendiri yang menjelaskan semuanya dan meminta untuk pulang, bukan memaksanya datang.
"Maaf, gue beneran minta maaf,"
"Gue tutup kak, gue masih harus kerja," Raisa berbohong, dia hanya ingin ketenangan sekarang, mematikan ponsel tersebut, berjalan ke kamar tidurnya dengan pikiran yang masih sangat penuh.
Raisa membuka laci yang berada di samping tempat tidur, laci paling bawah tempat Raisa menyimpan berkas penting, termasuk akte perceraian dan akte lahir Daehan, Raisa mengambil keduanya, rasanya campur aduk sekarang, kedua berkas itu adalah titik balik seorang Raisa.
"Tuhan, sekali saja aku memohon, berpihaklah padaku," doa Raisa memperhatikan dua berkas tersebut.
"BUNDA!"
Raisa yang mendengar teriakan tersebut buru buru memasukkan kembali ke dalam laci, menghapus air mata yang hampir mengalir, Raisa keluar dari kamar dan menghampiri Daehan dengan beberapa kantong belanjaan, sepertinya anak itu memalak Rey dan Hana.
"Bunda lihat, koko beli banyak mainan dan makanan buat aku, kami juga bermain bersama, seru sekali," ceritanya begitu senang, ketiga orang dewasa itu ikut tersenyum, bagaimana tidak mereka ikut bahagia melihat Daehan yang pelahan seperti biasa, banyak omong dan ceriwis.
"Rey, Hana, makasih ya,"
"Santai kak, kita juga seneng lihat Daehan seneng, ponakan Cece ini gemes banget, nanti kita main lagi ya kalau kokoh free," balas Hana sambil mencubit pipi Daehan gemas.
"Daehan mau ke Jakarta?" Raisa mengalihkan topik, melihat anaknya yang kaget, "ketemu granma, granpa sama keluarga di sana, kita rayain ulang tahun kamu juga di sana," jelasnya membuat Daehan seketika sumringah.
"Mau! Kapan? Kapan kita ke Jakarta," Daehan sungguh antusias, Raisa tidak bisa terus kabur seperti ini, dia bukan pengecut apalagi yang salah di sini, lagipula tidak akan ada yang bisa merebut Daehan darinya, siapa juga yang bisa, sekalipun Jehan tidak akan dia biarkan.
"Nanti tunggu kamu libur sekolah dan cuti bunda, biar kita lama ada di Jakartanya," Raisa mengelus kepala Daehan lembut.
"Kakak, are you oke?" tanya Hana sedikit khawatir, walau Hana tidak mengerti apa yang terjadi dia merasa ada yang aneh dengan kakak tetangganya ini, ada sesuatu yang berusaha di sembunyikan, "Bukan maksud mau ikut campur tapi kakak baik baik aja kan?"
"I'm fine," Raisa menyakinkan, Hana tidak akan bertanya lebih jauh lagi jika Raisa tidak ingin bercerita.
"Kalau gitu kita balik dulu ya kak," pamit Rey sebelum suasana menjadi canggung, menarik Hana keluar dari rumah Raisa, "Bukan ranah kita," sebelum Hana membuka suara, Rey terlebih dahulu memperingati.
▪️▪️▪️
"Raisa akan datang tapi tidak dalam waktu dekat, kita nggak bisa maksa dia kalau dia nggak mau, itu keputusannya, kalau dia udah siap dia bakal datang sendiri ke sini," jelas Berlian pada anggota keluarga setelah bertelepon dengan Raisa tadi.
"Nggak masalah, kita paham. Raisa masih mau datang ke sini setelah semua yang terjadi ke dia karena keluarga kita aja itu baik,"
Keluarga Ardiethama itu sebenarnya baik, apalagi dengan Raisa, mereka telah menganggapnya bagian dari keluarga ini, mendiang orang tua Berlian dan Jehan juga sangat menyayangi Raisa seperti anak mereka sendiri, Raisa dan keluarganya juga sudah banyak membantu saat mereka semua down karena kematian waktu itu.
"Sekarang kalian bisa kembali, Jehan jaga baik baik istrimu agar tidak menyusahkan kami, nanti ketika Raisa datang pastikan istri dan keluarganya itu tidak membuat keributan seperti yang sebelumnya," peringat omnya.
Jehan sejak tadi hanya diam, pikirannya entah kemana, bercabang, memikirkan Bella, Raisa dan Daehan bersamaan, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Jehan pamit dulu," Jehan menjadi yang pertama membubarkan diri, membawa mobilnya ke rumah sakit.
Selama perjalanan ke rumah sakit Jehan tidak berhenti memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti, tapi untuk sekarang kesehatan Bella adalah prioritasnya.
Mereka baru kehilangan calon anaknya dan tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi, Jehan harus menjelaskan pada Bella nanti dan mendampinginya.
"Apa ini karma?"
"Apa kamu sama Bella sudah minta maaf pada Raisa? Mungkin dia emang kelihatan baik baik saja, tapi apa kamu tau sehancur apa dia waktu itu? Nggak ada yang baik baik saja setelah penghianatan, kalau dia baik baik saja dia nggak bakal kabur bawa calon anak kalian waktu itu, mulutnya emang bilang ikhlas tapi kita nggak tau hatinya mungkin memberikan sumpah serapat," teringat kembali ucapan tantenya tadi.
Jehan kembali mengingat pertemuan mereka di pengadilan, waktu itu dia mengira Raisa baik baik saja karena masih melemparkan senyum padanya dan Bella, tanpa sadar ada rasa sakit yang Jehan torehkan, bahkan dia tidak menanyakan keadaan Raisa waktu itu, menganggap baik baik saja dan itu kali terakhir Jehan melihat Raisa sebelum pertemuan kembali mereka beberapa bulan lalu.
"Kak, kak Bella udah siuman," pesan suara dari adik iparnya membuat Jehan semakin cepat melajukan mobilnya agar segera sampai di rumah sakit.
▪️▪️▪️▪️▪️
Dari judul chapter ini ada beberapa hal yang harus di ucapkan selamat datang, kalian bisa tebak?
Jangan lupa tinggalkan jejak vote komen sebanyak banyaknya, love you all
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
RandomDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
