Raisa yang sudah lebih tenang berniat untuk kembali bekerja, di kagetkan dengan kedatangan Daehan yang sudah berada di depan pintu, "Hello bunda," antusiasnya.
"Daehan, kenapa nggak kasih tau bunda mau ke sini?" mood Raisa yang sebelumnya mulai membaik semakin senang mendapati Daehan ada di depannya. "Pak Sahrul mana?
"Daehan suruh pulang, Daehan mau pulang sama bunda,"
Putranya itu selalu membuatnya kuat setiap kali dirinya merasa down, seakan tau bundanya sedang tidak baik baik saja, Daehan akan selalu hadir di tengah ricuhnya pikiran.
"Daehan masuk dulu ya, bunda mau periksa pasien dulu sebentar, nanti bunda balik oke prince?" Raisa menyuruh Daehan masuk karena ini waktunya untuk dia memeriksa beberapa pasien.
"Oke," Daehan memberikan gestur jempol sebagai persetujuan.
"Bunda bakal cepet baliknya," Raisa meninggalkan ruangannya setelah berpamitan, meninggalkan Daehan sendirian di sana.
Baru saja lima belas menit Daehan duduk di dalam ruangan bundanya yang penuh dengan aroma obat dan barang barang kedokteran membuat anak itu merasa bosan.
Daehan memilih melangkah membuka pintu perlahan, melihat banyak orang berlalu lalang, dengan langkah kecilnya dia mulai keluar, tidak mengerti tujuannya yang jelas dia hanya ingin berjalan jalan, ada sesuatu yang seperti menariknya.
Langkahnya pelan membaca setiap petunjuk yang ada di sekitarnya, beberapa orang merasa aneh sebab Daehan seperti anak sekolah nyasar dengan baju seragam yang masih melekat di tubuhnya.
"Atas nama ibu Varaina Bella dan bapak Jehan Rajasthan,"
Daehan yang sebelumnya sedang sibuk dengan dunianya seketika kembali ke realita, mendengar nama yang tidak asing membuatnya menoleh dan mencari cari sumber suara tersebut.
"Adek, ada yang bisa suster bantu?" Daehan belum menemukan sumber suara itu karena banyak sekali suara suara yang terdengar, menoleh ke arah suster yang berjongkok di depannya, "Orangtua kamu kemana? Apa kamu kehilangannya?"
"Nggak,"
"Benar?"
"Daehan?" Daehan mendongak melihat seorang pria dengan pakaian khasnya, "Maaf, ini putra saya," tambahnya melihat suster yang terlihat kebingungan.
Suster tersebut mengangguk dan meninggalkan ayah dan anak itu berdua, orang itu berjongkok mensejajarkan tingginya agar sama dengan Daehan, "Daehan kenapa ada di sini?"
▪️▪️▪️
"Atas nama ibu Varaina Bella dan bapak Jehan Rajasthan, anda bisa menunggu dokter Candrik di dalam, sebentar lagi beliau akan segera kembali," asisten dokter Candrik mempersilakan untuk keduanya masuk terlebih dahulu.
"Kamu masuk duluan ya," Jehan merasa ada yang menahannya untuk masuk, sampai dia meminta untuk Bella duluan.
Setelah Bella masuk kakinya seperti tergerak sendiri melangkah begitu saja, sampai matanya menemukannya, "Daehan," Jehan menangkap manusia kecil duplikat dirinya sedang berdiri diam, menoleh ke sana ke sini, kalinya yang akan kembali melangkah untuk mendekat urung saat melihat orang lain yang terlebih dahulu menghampiri anaknya,
"Maaf, dia putra saya,"
Kalimat itu cukup membuat Jehan merasa sakit, mendengar orang lain mengakui anaknya sebagai anak orang lain.
"Daehan, kenapa pergi sendiri?" suara lain terdengar khawatir, Jehan menoleh menemukan Raisa yang juga datang dengan sedikit berlari dan wajah khawatirnya, "Bunda kan udah nyuruh kamu diem di ruangan, bunda nggak akan lama,"
Untuk pertama kalinya Jehan melihat bahkan merasakan apa yang dulu Raisa rasakan, melihat Raisa bersama anak mereka berbicara dan tertawa bersama orang lain, mungkin ini belum seberapa, karena masih ada hal yang jauh lebih menyakitkan di depan sana.
Jehan merasa iri karena tidak bisa melakukan hal seperti Candrik lakukan bersama anaknya, dia juga menginginkan hal yang sama, di panggil ayah seperti Daehan memanggil Candrik dengan papa di depan semua orang, pelukan itu juga harusnya dia dapatkan.
Jehan berjalan mundur dan berbalik tidak ingin melihat terlalu lama yang membuatnya jelas sangat tersakiti, memilih menyusul Bella sebelum dia mencarinya.
Selama sesi konsultasi Jehan tidak benar benar fokus, pikirannya bercabang, "pak Jehan, ada yang ingin anda tanyakan?" Canu berusaha menetralkan ketegangan itu, sebab sejak Canu masuk Jehan terus menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Seperti yang saya katakan tadi, selama anda menuruti apa yang saya ucapkan kemungkinan akan segera hamil sangat tinggi," Canu mengakhiri sesi konsultasi itu, bersalaman dengan keduanya tetap bersikap profesional.
Canu mencondongkan badannya ketika bersalaman dengan Jehan, berbisik tepat di telinganya, "Saya tau anda tadi melihat saya bersama Raisa dan Daehan tadi, saya meminta setelah tugas saya berhasil anda harus menjauhi Raisa dan Daehan, jangan pernah menampakkan diri pada mereka,"
Canu mundur dan melepas jabatan tangannya, "Setelah program kehamilan ini berhasil, saya akan pindahkan ke teman saya di Jakarta, agar kalian tidak perlu bolak balik datang kemari,"
"Terima kasih dok," Bella mengatakan itu dengan senyum senang, berbeda dengan Jehan yang tetap diam tanpa tersenyum sedikitpun.
Jehan paham betul maksud Canu mengatakan semua itu, dengan memindahkan ke temannya di Jakarta membuatnya tidak ada alasan untuk datang ke kota ini dan melihat Daehan lagi.
"Kami permisi dok, sekali lagi terima kasih,"
Jehan dan Bella keluar dari ruangannya tersebut dengan sangat sumringah, Bella sangat menanti momen ini sejak lama, "Mas, kita bakal punya anak," senangnya.
"Iya," Jehan ikut senang walau sedikit tidak antusias, mungkin karena dia menyadari sudah ada anak lain yang bisa dia sebut darah daging, "Sayang, kamu ke mobil duluan ya, Mavin tadi telepon, aku telepon balik dulu takut ada apa apa di kantor,"
"Oke," Bella berjalan terlebih dahulu menuju parkiran, Jehan mengambil ponselnya yang ada di saku, mencari kontak Mavin untuk dia hubungi.
"Gimana? Lo udah dapet?" Jehan langsung to the point tidak ingin berbasa basi, "Langsung aja deal, biar gue nanti yang handle, lo cukup kasih laporan buat selanjutnya biar gue yang kerjain semuanya, kalau bisa juga lo dateng ke sini sekarang untuk lebih menyakinkan,"
Setelah telepon terputus, Jehan tersenyum, senyum senang, lebih senang daripada mendapat kabar bahwa Bella bisa memiliki anak, "Dokter itu pikir bisa jauhin gue dari Daehan? Gue udah satu langkah di depan,"
Jehan sengaja mencari proyek di kota ini, dengan ini dia bisa punya alasan untuk selalu datang, menengok proyeknya tentu saja, dan secara langsung Jehan sendiri juga yang akan menghandle, cukup masuk akal agar seolah semua terjadi karena kebetulan.
Jehan juga akan segera menemui Daehan, mengakui sebagai seorang ayah, seperti yang sudah pak Sahrul laporkan, anak itu sudah tau tentangnya bukan, jadi ini akan lebih mudah.
Selama kelakuannya tidak di ketahui Raisa ataupun kakaknya Berlian, semua rencana akan berjalan semestinya, Daehan akan segera memanggilnya ayah seperti keinginannya sejak lama.
▪️▪️▪️▪️▪️
Welcome back Jehan era blackflag🏴🏴🏴 bukan eranya redflag lagi ini tapi blackflag
Perlahan tapi pasti juga karma akan datang, entah itu akan membuat dia atau semua orang merasakan sakitnya, begitupun kebahagian walau harus melewati banyak badai terlebih dahulu
Percayalah buah kesabaran tidak akan menghianatimu, mungkin tidak hari ini, tapi bisa jadi besok, lusa, dan hari hari lainnya, perjalanan masih panjang bukan?
Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan komen semuanya, love you all😘
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
AcakDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
