Dimata orang yang tepat kamu akan diusahakan dan diprioritaskan kenyamanan dan kebahagiaannya
▪️▪️▪️
Maxime Luke Grayson, duda anak satu yang di tinggal meninggal istrinya, selama kurang lebih delapan tahun hidup sendiri bersama anak laki lakinya Justin Junior Grayson dan menetap di Amerika.
Perkenalan Maxime dan Raisa terjadi karena bisnis, saat mereka masih sama sama lajang, Raisa yang sering menemani ayahnya datang ke undangan bisnis di sanalah mereka bertemu dan berkenalan, awalnya mereka berteman baik dan Maxime kembali ke negara asalnya dan menikah begitu pula dengan Raisa yang menikah dengan Jehan.
Setelah bertahun tahun mereka kembali bertemu karena bisnis juga yang membawa keduanya memilih menikah, awalnya ayah Raisa yang menawarkan keduanya karena melihat Justin dan Daehan yang sama sama cocok dan bahagia ketika bersama, awalnya sedikit ragu tapi akhirnya keduanya yakin setelah melihat respon Justin dan Daehan yang sama sama senang.
"Beneran? Aunty Eline bakal jadi mommy Justin?" Justin yang selama delapan tahun tidak mengenal yang namanya mommy sangat senang, "Justin boleh manggil mommy?" Raisa tersenyum dan mengangguk, dia seperti melihat Daehan.
"Daehan setuju? Bunda nikah sama om Maxime?" tanya Raisa pada anaknya yang masih diam, Raisa takut Daehan tidak menerimanya, karena kebahagiaan Daehan di atas segalanya bagi Raisa.
Daehan mengangguk, "Iya, bunda bahagia, Daehan juga bahagia," jawab Daehan tersenyum, anak itu benar benar menginginkan bundanya bahagia dan itu bukan dengan ayahnya, Daehan tidak akan mau bundanya bersama orang itu sekali lagi.
"Daehan, kita bakal jadi saudara, aku bakal punya mommy dan kamu bakal punya daddy seperti keinginan kita berdua, i'm so happy," Justin menjadi yang paling bahagia.
"Raisa, kita jalanin pelan pelan, kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman bilang aja, saya nggak mau kamu terbebani dengan ini semua,"
"Mas, boleh kan aku manggil gitu?" Raisa memastikan panggilannya di terima, Maxime mengangguk, "Aku bakal coba, kamu juga jangan ada yang di tahan, jika di kemudian hari ada yang kurang dari aku tolong bilang, aku bakal perbaiki dan jadi lebih baik lagi," beritahu Raisa atas kegelisahannya, belajar dari masalalu yang pernah di tinggalkan. "Kalau kamu ijinin aku mau berhenti kerja setelah menikah,"
"Kenapa? Bukannya itu cita cita kamu?" Maxime tau betul menjadi dokter adalah cita cita Raisa, bahkan dulu dia bilang ingin melanjutkan sekolahnya sampai ke dokter spesialis. "Kalau kamu mau lanjut spesialis setelah menikah, saya akan mendukungnya, saya yang akan membiayainya,"
"Mas, aku cuma mau fokus sama anak anak nanti, supaya mereka nggak kekurangan kasih sayang dan perhatian, kamu juga," Raisa mengatakan alasannya untuk berhenti bekerja.
"Raisa come on, anak anak nggak bakal kekurangan itu asal kita bisa bagi waktu, saya juga nggak miskin buat nyewa art ataupun baby sister buat mereka, saya nggak mau kamu berhenti karena alasan rumah, kalaupun kamu mau pensiun dini itu karena kamu sendiri, kamu udah ngerasa puas dengan semuanya,"
"Kalau kamu nggak mau lanjut spesialis juga nggak papa, tapi jangan berhenti dari dokter, nanti saya bantu cari rumah sakit tempat kerja kamu di Amerika, tapi untuk berhenti saya nggak ijinin, kamu menikmati pekerjaan itu,"
Maxime memberikan keputusannya yang tidak bisa dibantah, Raisa menurut saja apa kata calon suaminya, "Terima kasih mas,"
"Raisa, kamu beneran nggak papa kalau setelah menikah kita menetap di Amerika, semua keluarga kamu di sini, teman teman kamu," Maxime memastikan Raisa, "Kalau kamu ragu kita bisa tetep ada di Indonesia," bagi Maxime yang sudah tidak memiliki keluarga selain Justin, tidak keberatan jika mereka menetap di Indonesia.
"Aku yakin mas, lagian perusahaan kamu berpusat di sana, keluarga aku juga nggak ngelarang selama aku ikut suami," balas Raisa, alasan lain yang tidak bisa Raisa ungkapkan adalah dia ingin meninggalkan tempat di mana memberikan luka, jika terus ada di sini dia akan dipertemukan dengan sumbernya, seperti sebelumnya.
"Okey, tapi kalau kamu suatu hari nanti mau pindah dan menetap di sini bilang, kita bisa pindah, Justin juga kayakan lebih suka berada di sini, bermain dengan Daehan, ayah dan ibu,"
Obrolan keduanya mengalir begitu saja, kalau Raisa di tanya apa yang perempuan itu sukai dari calon suaminya itu, Maxime selalu open tentang semuanya, dia tidak memaksa tapi jika dia tidak suka akan langsung bilang.
"Daddy, Mommy, look!" obrolan keduanya terhenti saat bocah dengan rambut warna pirang datang pada keduanya, menunjukkan tuxedo hitam yang membalut tubuh mungilnya, "ganteng kan?"
Anak lainnya juga datang dengan setelan yang sama, "Daehan juga pakai, kembaran sama Justin, kata granma kita kembaran bertiga sama Daddy juga tapi punya Daddy warna putih," beritahu Daehan.
"Kalian ganteng banget," puji Raisa melihat kedua anaknya yang sama sama axcited, mereka memang sedang fitting baju pernikahan dan yang paling semangat adalah orangtua Raisa dan anak anak mereka.
"Raisa, sana coba bajumu dulu, ini fitting terakhir," suruh mamanya yang baru datang, "Maxime, kamu juga ya,"
Keduanya memisahkan diri, Raisa ikut dengan mamanya, "Ma, papa bakal dateng?" tanya Raisa menanyakan papa kandungnya yang akan hadir atau tidak saat penikahannya.
Dulu di pernikahan pertamanya, dia hadir namun Raisa harus memaksanya, dia meminta karena itu adalah momen sekali seumur katanya, tapi takdir berkata lain.
"Kamu mau dia datang?" Raisa mengeleng sebagai jawaban pertanyaan mamanya itu.
"Raisa nggak berharap ma, ada wali hakim dan ayah udah cukup, aku cuma tanya aja,"
"Mama juga nggak tau, tiga hari yang lalu mama sama ayah udah kasih tau kok kalau kamu mau nikah, tapi nggak bilang mau hadir atau nggak," ayah Raisa yang memang berinsiatif untuk mendatangi, menghargai papa kandung Raisa, mama Raisa ikut saja. "Nak, sekarang waktunya kamu bahagia, mungkin dengan kamu pergi dari negara ini kamu bisa nemuin kebahagian kamu,"
"Nggak usah mikirin apapun yang ada di sini, mama dan ayah pasti baik baik aja, begitu kamu dan Daehan, tolong bahagia, semoga Maxime orang yang tepat,"
"Ma, terima kasih," mungkin Raisa dan mamanya jarang mengobrol panjang, kedua wanita itu sama sama punya gengsi tinggi untuk masing masing.
Soal papanya dia tidak berharap sama sekali untuk kali ini, untuk apa berharap pada orang yang sudah tidak menginginkannya, Raisa takut ketika melihat papanya kebenciannya akan semakin besar nantinya.
"Daehan sama Justin sejak tadi nggak berhenti buat coba baju, kayakan pas hari-H mereka berdua bakal ngalahin kamu buat ganti ganti baju,"
"Nggak papa ma, biar mereka seneng, pernikahan ini bukan cuma tentang aku sama mas Maxime, tapi anak anak juga," Raisa malah sangat senang jika kedua anak itu begitu antusias, itu tandanya keduanya sama sama bahagia dengan keputusan kedua orangtua mereka.
"Bahagia selalu putri mama,"
▪️▪️▪️▪️▪️
So happy soon Grayson family, bunda, daddy, Daehan dan Justin, gimana menurut kalian chapter ini, udah kejawabkan kenapa bisa tunangan
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, komen dan follow satu lagi jangan lupa ramein juga tiktokku ya guys
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
RandomDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
