"Nggak mau!" Penolakan yang Daehan berikan membuat semua orang kaget, untuk pertama kalinya Daehan Raksav menolak dengan keras dan tegas.
Semua itu karena ayah dan ibu tirinya yang datang, memintanya menginap di rumah mereka sebelum pindah.
"Jehan, Bella, sudah ya Daehan tidak mau, jangan bikin dia nggak nyaman," Raisa menengahi, dia tidak ingin Daehan tantrum jika dipaksakan. "Mungkin lain kali aja, mood Daehan lagi nggak baik,"
"Nggak ada lain waktu! Kalian pergi dari sini!" Daehan sudah tidak bisa menahan emosinya, setiap kali melihat dua orang itu terbayang rasa sakit dan tangis bundanya.
"Sayang nggak boleh gitu," nasehat Raisa sambil terus menenangkan Daehan, Daehan benar benar perpaduan Raisa dan Jehan yang sama sama keras kepala dengan pilihannya.
"Bunda kenapa baik banget sama mereka? Mereka udah nyakitin kita, nyakitin bunda, wanita itu," Daehan dengan tidak sopan menunjuk Bella, "Dia udah ngerebut, dan Daehan kehilangan sosok ayah," Daehan mengutarakan semuanya.
"Pria itu, nggak pantes buat di panggil ayah, ayah mana yang menelantarkan anaknya? Setelah tau kalau ternyata punya anak, dia mau pisahin aku sama bunda? Daehan nyesel kenapa harus tau siapa ayah, kalau bisa muter waktu Daehan memilih buat nggak pernah tau siapa ayah," Raisa dejavu dengan kalimat itu, kalimat yang pernah dia lontarkan pada ayah kandungnya dulu, sekarang keluar dari mulut anaknya.
"Daehan nggak akan pernah mau tinggal sama mereka, bunda udah cukup," anak itu benar benar keras kepala dengan pilihannya. "Bunda, Daddy sama Justin udah nunggu kita ayo," Daehan menarik bundanya untuk pergi dari sana.
"Daehan mau jalan jalan, jangan sampai gagal cuma karena mereka," kesalnya.
"Kau dengan sendiri apa yang anakmu katakan barusan? Dia tidak mau tinggal bersamamu, sekalipun Raisa mengijinkannya, Daehan sudah tidak sudi," mama yang melihat semua perdebatan akhirnya membuka suara, "Selama ini anak saya sudah terlalu baik pada kalian, terutama padamu Jehan,"
"Tante, maaf,"
"Kenapa baru sekarang kamu meminta maaf? Kemana kamu tujuh tahun yang lalu? Ketika kamu menyakiti putri saya? Di mana rasa bersalah kalian?" tanya mama lebih seperti mengintimidasi, "Saya tidak akan pernah melupakan bagaimana anak saya berjuang sendirian selama ini, sedangkan kalian hidup bahagia tanpa merasa bersalah sedikitpun,"
"Dan sekarang tanpa rasa malu kalian datang dan meminta Daehan? Anak yang nggak pernah kamu ketahui, nggak pernah kamu cari sebelumnya? Sekarang berlagak seperti ayah yang sangat menginginkan anaknya berada di pelukannya?"
"Tante, saya nggak maksud seperti itu tapi Raisa-"
"Apa? Sekarang kamu akan menyalakan Raisa karena menyembunyikan semuanya? Apa kamu lupa kenapa dia melakukan itu? Dan kamu wanita tidak tau malu, sudah merebut suami orang sekarang kamu mau merebut anak orang lain juga?"
"Wanita mana yang rela menjadi istri kedua? Malu karena calon suami meninggal sebelum menikah, tapi kamu nggak malu merebut suami orang?" giliran Bella yang mendapat cemohan dari mama Raisa, "Perlu saya ingatkan, sekalipun kamu istri dari ayah Daehan, kamu tetap orang asing di hidup Daehan, kamu nggak punya hak sama sekali atas anak itu, Jehan saja sudah tidak berhak apalagi kamu yang membuat orangtuanya berpisah?"
"Kalian pergi dari sini, jangan pernah tampakan wajah menjijikan itu pada keluarga kami, dan jangan ganggu kehidupan Raisa dan Daehan lagi, apa yang kalian tanam itu juga yang akan kalian tuai, nikmati karmanya,"
Mama Raisa mengusir keduanya, bahkan menutup pintu dengan keras, suami istri itu pulang dengan tangan kosong, tidak ada kesempatan untuk mengasuh Daehan sedetikpun.
▪️▪️▪️
"Daehan udah dong bad moodnya, ayo kita main, habisin uang Daddy," Justin yang menyadari saudaranya itu dalam keadaan mood buruk berusaha menghiburnya, "Nggak perlu mikirin mereka, sebentar lagi kita juga bakal pindah, nggak bakal ketemu sama mereka untuk waktu yang lama,"
"Daehan tau semuanya dari mama, aku juga kaget mama cerita sama dia, padahal selama ini aku berusaha buat Daehan nggak tau," Raisa dan Maxime duduk agak jauh dari anak anak, mereka mengawasi dari jarak yang cukup jauh, membuatkan keduanya bermain tanpa takut di awasi.
"Nggak papa, kalaupun nggak tau dari mama kamu, Daehan nanti juga bakal tau semuanya kan entah dari siapa, untungnya mama kamu coba orang lain, mungkin lain cerita," Maxime tau itu, dia tau kenapa mama Raisa mengatakan kebenarannya pada Daehan, begitu cara mempertahankan Daehan tetap bersama Raisa. "Kamu nggak perlu khawatir, semua akan baik baik aja, begitu juga Daehan, dia anak yang baik,"
"Sayang, kamu nggak perlu mikirin orang lain lagi, kebahagiaan mereka atau apapun itu kalau kamu nggak bahagia, karena mereka nggak tau gimana pengorbanan kamu, sekarang sebelum bikin orang bahagia, kamu dulu harus bahagia, dan saya yang akan pastiin kamu bener bener bahagia," nasehat Maxime sambil mengelus pucuk kepala Raisa.
Maxime benar benar memenuhi semua ekspetasi Raisa, lelaki yang wanita itu butuhkan selama ini, bukan hanya sebagai pasangan tapi juga sebagai teman dan partner untuk segalanya.
"Saya nggak mau janji apapun tapi saya akan berusaha melakukan semuanya buat kebahagiaan kamu dan Daehan,"
Raisa meraih jemari Maxime, menautkan jemari mereka, "Kamu dan Justin juga, kita semua harus bahagia, kita bangun keluarga yang anak anak mimpikan," balas Raisa.
Raisa juga paham bagaimana Maxime selama ini, membesarkan seorang anak seorang diri dia juga merasakannya, anak yang menanyakan kenapa keluarga mereka tidak lengkap dan segala macam pertanyaan dia juga merasakannya.
Raisa dan Maxime adalah dua orang yang belajar menjadi orangtua yang anak mereka inginkan dengan segala kekurangan yang mereka miliki.
"Mommy, Daddy!" teriak kedua anak mereka yang mendekat, Raisa dan Maxime buru buru melepas tautan tangannya.
"Mommy? Daehan manggil mommy juga?" tanya Raisa heran, bagaimana ya sejak pertama Daehan bisa berbicara bunda adalah bahasa yang Raisa ajarkan tapi sekarang anak itu memanggilnya mommy, terdengar sedikit asing jika anaknya itu yang mengucapkannya.
"Lebih cocok sama Daddy, Mommy kan pasangan sama Daddy bukan bunda," jawab Daehan.
"Ya sudah terserah kamu, senyaman kamu,"
"Sudah selesai mainnya? Sekarang mau kemana kita boy's, sisa satu Minggu sebelum pernikahan dan pindahan kita, jadi puas puasin buat main di sini karena kita akan menetap di luar negeri, right?" tanya Maxime.
Keduanya mengangguk antusias, pergi ke taman, beli es krim dan jajanan di pinggir jalan," antusias Daehan, "Justin pasti belum pernah jajan di pinggir jalan kan?" Justin mengangguk. "Kamu harus coba, enak enak tau, aku kalau di Surabaya sering jajan sama ko Rey dan ci Hana,"
▪️▪️▪️▪️▪️
Happy reading semuanya, sorry baru update, aku sempet kena writter block mendekati ending, jadi mohon dukungannya biar tetep lancar sampai selesai.
Nggak ada revisi jadi mohon maaf kalau ada typo, aku juga lagi di tempat kerja ini, xixixi
Jangan lupa tinggalkan jejak semuanya vote, komen, dan follow, love you all
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
DiversosDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
