026 "Canu Family"

747 71 5
                                        

Hidup sebagai bujangan di umur yang sudah kepala tiga ini bukanlah hal yang mudah, banyak pertanyaan mana calonnya, kapan nyusul dan kapan nikah rasanya Canu sudah kenyang.

Setiap pertemuan keluarga selalu itu yang dibahas, membuat seorang Canu malas jika harus datang pada acara keluarga dan memilih menerima pasien sebanyak banyaknya agar ada alasan untuk telat atau bahkan tidak hadir.

Pernikahan tidak ada dalam prioritasnya sebelumnya, namun setelah bertemu wanita yang berjuang sendirian untuk calon anaknya beberapa tahun lalu, membuat Canu menginginkan keluarga kecil untuknya.

Pertemuan dengan Raisa seakan mengubah cara berpikirnya bahkan hidupnya, Canu sudah menangani banyak calon ibu sebelumnya namun, Raisa terasa berbeda di matanya, menjalani kehamilan ada suaminya saja masih ada kesusahan apalagi tidak ada, apalagi saat itu Raisa juga harus bekerja.

Ting Tong!

Tok... Tok... Tok...

Suara bel juga ketukan pintu membuat Canu sadar dari lamunannya, dengan segera beranjak dan berjalan untuk membuka pintu.

"Mama, papa?!" kaget Canu saat melihat kedua orangtuanya sudah berada di depannya, tidak mengabari akan datang dan tiba tiba sudah ada di depannya.

"Aduh, kaki papa sakit, nggak di suruh masuk nih?" ujar papanya menyadarkan kekagetan Canu, segera mengambil alih koper yang di bawa papa dan bingkisan yang di bawa mamanya.

"Maaf, mama sama papa pasti capek, ayo masuk dan istirahat dulu,"

Canu membawa barang barang orangtuanya menuju kamar yang di tempati mereka saat berkunjung, sebenarnya Canu sedikit heran juga kenapa mereka datang tidak memberi kabar, kalau seperti ini pasti ada sesuatu yang membuat mereka datang seperti ini.

"Mama sama papa kenapa nggak kasih kabar kalau datang? Kan aku bisa jemput sekalian siapin makanan," ujar Canu saat sudah bergabung di ruang depan. "Di rumah lagi nggak ada makanan, aku belum sempet belanja juga,"

"Papa sama mama udah makan sebelum sampai sini, lagian ngunjungi anak emang nggak boleh? Sesekali, kamu pasti capek, waktunya istirahat apalagi hari ini libur kamunya,"

"Istirahat dulu aja, mama sama papa pasti juga capek,"

"Selain jenguk kamu, mama sama papa juga pengen ketemu sama perempuan yang kamu cerita waktu itu, pengen tau perempuan mana yang mampu meluluhkan kamu yang nggak pernah ada niat serius," mamanya itu sungguh blak blakan.

"Nanti ya ma, Canu tanya Raisa dulu, setelah dapat persetujuannya Canu bakal pertemukan kalian," jawab Canu begitu sopan, "Canu juga udah mengutarakan keseriusan pada Raisa, tapi dia minta langsung ke orangtuanya, tapi sebelum itu Canu pengen memastikan restu kalian dulu baru Canu akan mendatangi keluarga Raisa,"

"Candrik, kami sebagai orangtua akan selalu mendukung dan merestui langkah kamu, selama pilihan kamu benar papa dan mama akan selalu merestuinya demi kebahagiaan kamu," papanya ikut menyahuti, Canu adalah anak mereka satu satunya dan kebahagiaannya adalah prioritas.

"Terima kasih ma, pa,"

Berbanding terbalik dengan keluarga Raisa, Candrik adalah anak semata wayang kedua orangtuanya, terlahir dari keluarga cemara yang selalu mendukung pilihannya dan tidak menuntut sejak kecil menjadi salah satu privilege bagi dirinya yang tidak semua anak mendapatkannya.

▪️▪️▪️

Raisa merasa ada yang aneh dengan Daehan akhir akhir ini, anaknya itu seperti sedikit berubah, Raisa bisa merasakan itu. Daehan jauh lebih pendiem dan suka berada di kamarnya, menghabiskan banyak waktu di sana, bahkan Hana mengatakan Daehan sudah jarang bermain ke rumahnya setelah pulang sekolah, padahal di rumah tidak ada siapapun, hanya ada asisten rumah tangga yang bekerja dari jam sebelas sampai jam empat sore.

Terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak dirinya terkejut dengan suara ponsel yang berdering menandakan ada telepon masuk.

Menyadarkan diri dan mengubah posisi untuk mengangkat telepon tersebut, "Hallo?" jawaban pertama yang Raisa ucapkan setelah menempelkan ponselnya pada telinga.

"Sekarang banget?" raut wajah Raisa mulai berusaha serius, "Aku lagi bujuk Daehan, nggak bisa kalau ninggalin dia gitu aja dalam keadaan badmood, nggak bisa kita omongin besok aja di rumah sakit?"

"Aku usahain, tapi kalau Daehan nggak mau aku juga nggak bisa pergi, waktu aku libur emang buat sama Daehan, kamu tau aku segitu sibuknya sampai akhir akhir ini jarang ada waktu sama Daehan,"

"Iya, oke," sahutnya menjadi penutup dalam percakapan tersebut, meletakkan ponselnya di meja dan melangkah menuju kamar putra semata wayangnya.

Raisa merasa rumah yang sepi ini semakin sepi ketika tidak ada suara suara Daehan yang selalu bertanya banyak hal yang terkadang dirinya tidak bisa menjawabnya karena terlalu luar biasa pertanyaan tersebut.

Raisa mengetuk pintu, "Daehan, bunda boleh masuk?" tanyanya meminta persetujuan, sebelum mendapatkan ijin pemilik kamar Raisa tidak akan masuk.

"Masuk aja bun,"

Raisa membuka pintu dan pertama yang dirinya lihat adalah Daehan yang duduk di meja belajarnya, serius dengan kegiatannya, Raisa mendudukkan dirinya di ranjang Daehan, menghadap anaknya yang masih membelakangi dirinya.

Daehan yang awalnya fokus membalikkan posisinya, menghadap sang bunda yang menunjukkan ekspresi khawatir.

"Sayang, benar tidak ada apa apa? Apa ada masalah di sekolah?" tanya Raisa menunjukkan perasaan khawatirnya, "akhir akhir ini bunda rasa kamu semakin pendiem dan bunda tidak mendengar cerita kegiatan kamu selama di sekolah,"

Daehan menggeleng, "Daehan baik baik aja bun, Daehan cuma mau fokus belajar, aku juga kepilih ikut lomba mewakili sekolah," Raisa diam, Daehan tidak bercerita soal ini, membuatnya merasa semakin aneh dengan perilaku anaknya tersebut.

"Bunda kenapa?" tanya Daehan melihat bundanya terdiam kebingungan, Raisa buru buru menggeleng dan mengelus kepala Daehan dengan rasa sayang.

"Daehan, papa Canu ngajak kita ketemu sama orang tuanya juga, kamu mau?" tanya Raisa.

Daehan terlihat tidak excited seperti biasanya, "Bunda mau ketemu? Daehan nggak ikut nggak papa? Kalau bunda mau ketemu nggak papa, Daehan juga harus fokus belajar, nggak papa kan?"

"Yaudah kalau gitu bunda nggak bakal ketemu, bunda mau sama Daehan aja di rumah," putus Raisa setelah mendapat jawaban anaknya, entah apa yang telah terjadi pada Daehan hingga jadi seperti ini.

Dengan segera Raisa menghubungi Canu lewat pesan memberitahu jika dia tidak bisa bertemu orangtua lelaki itu dalam waktu dekat, untuk sekarang Daehan adalah prioritas.

▪️▪️▪️

Maaf banget guys, kalian masih nunggu nggak sih? Minat nulisku jelek banget moga aja masih ada yang baca, kalau agak nggak sreg atau bertele tele maaf, aku belum baca ulang ini aja sisa sisa draf juga, belum sempet re read dari chap pertama.

Enjoy ya guys, sekali lagi maaf🙏🏻😭

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang