Sudah hampir dua bulan setelah pembicaraan antara Raisa dan Mavin waktu itu, kehidupan mulai kembali normal, Raisa kembali memilih mengantar jemput Daehan sendiri atau kalau tidak bisa dia akan meminta tolong pada Hana dan Rey, pak Sahrul sudah di berhentikan.
Jehan juga sudah tidak pernah datang lagi ke Surabaya, Rey mengatakan jika Mavin yang menggantikannya sekarang di proyek mereka.
Berlian juga mengabarinya jika Bella sedang mengandung, membuat Raisa bersyukur karena dengan itu Jehan tidak akan mengganggunya bukan, Jehan sudah mendapatkan semuanya sekarang.
Daehan juga tidak pernah menanyakan soal ayah ataupun Jehan padanya, seakan sifat penasarannya hilang begitu saja.
Tanpa menyadari jika Daehan sedikit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya, Daehan melihat bundanya yang mengobrol dengan Mavin waktu itu, bahkan anak itu melihat jelas bagaimana bundanya bersujud pada orang yang dia panggil om sambil menangis.
Selain itu obrolan dengan Rey seminggu yang lalu membuat dia menyadari jika keluarga tidak seperti teman teman yang lain.
"Daehan udah ketemu ayah kandung kan?" Rey membuka obrolan saat di dalam mobil saat menjemput Daehan sekolah, "Bunda tau?"
"Daehan nggak kasih tau bunda, tapi sepertinya bunda tau soal itu karena terakhir Daehan ketemu ayah bunda ngobrol sama om Mavin," jujur anak itu. "Karena setelah itu ayah atau om Mavin nggak hubungin aku, dan pak Sahrul berhenti,"
"Terus? Apa Daehan marah sama Bunda sekarang?" Daehan menggeleng sebagai jawaban pertanyaan itu, bagaimana bisa Daehan marah pada bundanya yang telah banyak berkorban untuknya.
"Enggak, Daehan cuma pengen tau kenapa ayah dan bunda nggak bareng kayak orangtua temen temen aku, kenapa ayah dan bunda hidup sendiri sendiri,"
"Kokoh paham maksud kamu, asal kamu tau ada beberapa hal yang belum waktunya kamu tau, yang jelas semua yang bunda lakuin sama kamu itu yang terbaik, terbukti bukan sekalipun kamu nggak sama ayah kamu tumbuh besar dan bahagia selama ini kan?" jelas Rey, cowok itu berperan sebagai kakak laki laki yang memberi pengertian pada adik kecilnya, Rey memang tidak tau banyak tentang Jehan tapi selama bekerja bersama pria itu beberapa waktu Rey memahami bagaimana ambisiusnya orang itu mempertahankan pendapatnya.
"Kata temenku kalau kedua orangtua kita nggak bareng itu artinya pisah, temenku juga bilang ayahnya milih perempuan lain daripada dia sama ibunya, apa ayah Jehan juga gitu makanya bunda tinggalin ayah?"
Rey bingung ingin menjawabnya bagaimana karena ini bukan ranahnya memberitahu Daehan soal perpisahan ayah dan ibunya, "Kokoh nggak tau tapi Daehan nggak semua kayak gitu,"
"Kokoh tau nggak, pertama kali Daehan ketemu ayah itu di rumah sakit, dulu Daehan belum tau tapi ayah datang sama perempuan lain dan mengatakan pengen punya bayi dengan bantuan dokter," Daehan mengingat pertemuan pertamanya dengan Jehan, bayangan wanita yang berada di sisi ayahnya itu cukup mengganggunya, "Apa tante tante itu yang bikin ayah ninggalin Daehan dan bunda?" tanyanya penasaran.
Rey diam, dia sangat bingung bagaimana menjawabnya, "Waktu itu juga ayah ninggalin aku karena tante itu ke rumah sakit," tambah Daehan lagi.
"Kokoh beneran nggak tau, tapi kokoh cuma mau bilang Daehan nggak boleh sakiti bunda, kelakuan Daehan waktu itu nyakitin bunda tau nggak? Bunda sedih, Daehan tau itu kan?" Rey mencari aman saja, tugasnya di sini hanya memberi sedikit nasehat agar Daehan tidak membuat Raisa merasa sedih.
Untuk pertama kalinya Daehan dan Rey berbicara lama dan begitu damai biasanya mereka akan terus berdebat tidak ada hentinya.
Sejak obrolan dengan Rey itu Daehan mulai mengerti dan memikirkan perasaan Raisa apalagi melihat bundanya bersimpuh di depan Mavin membuatnya semakin merasa sedih, bahkan Raisa sudah memutuskan hubungan dengan Canu hanya karena putranya, Daehan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
RandomDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
