Pasangan yang akan segera menikah itu pergi ke Surabaya untuk memberikan surat resign dan undangan pernikahan pada Rey dan Hana, tujuan pertamanya adalah rumah sakit, di temani Maxime yang terus menggenggam tangan Raisa menelusuri koridor rumah sakit, bisik bisik dari suster yang sangat mengenal dokter Raisa itu cukup membuat gosip.
"Eh? Itu siapa yang sama dokter Raisa?" mereka bertanya tanya, sebab untuk pertama kalinya seorang dokter Raisa terbuka seperti ini.
"Mau kemana sekarang?" tanya Maxime setelah menemani calon istrinya itu memberikan surat resign, tangannya masih di tempat yang sama.
"Bentar aku ke dokter Rina dulu ya,"
"Dokter psikolog kamu itu?" Raisa mengangguk, Maxime hanya mengikuti langkah perempuan itu tanpa peduli dengan sekitarnya, di tengah jalan tiba tiba berhenti, Maxime yakin belum sampai, "ada apa, sayang?" pertanyaan yang cukup jelas dengan panggilannya membuat seseorang sadar.
Maxime melihat ke depan dan melihat seorang pria dengan jas dokternya berdiri di sana, melihat dirinya dan Raisa begitu intens, tatapan seketika fokus pada genggaman keduanya.
Candrik Nugroho, berada di depan mereka, melihat sepasang manusia bergandengan tangan, tangan yang pernah dia gandeng juga, setelah cukup lama tidak melihat Raisa, sekarang Canu kembali melihatnya tapi berbeda dengan yang dia kenal.
"Selamat siang dokter Canu," sapa Raisa begitu ramah tanpa mau melepas genggaman tangan calon suaminya, "Apa kabar? Lama nggak ketemu,"
"Kamu masih cuti kenapa ada di rumah sakit?" tanya Canu berusaha biasa saja, walau kenyataannya dia ingin bertanya apa yang telah dia lewatkan tentang Raisa, terakhir yang dia dengar adalah Raisa meminta cuti untuk pulang ke Jakarta.
"Saya udah resign perhari ini," Canu jelas kaget dengan pernyataan itu, "Saya akan menikah dan ikut suami," belum selesai dengan keterkejutan yang pertama, Canu kembali tidak percaya dengan pengakuan selanjutnya, jadi sekarang tidak ada celah sedikitpun untuk dia kembali memperjuangkan Raisa.
"Perkenalkan saya Maxime, calon suami Raisa," Maxime yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya mengenalkan diri setelah Raisa mengakuinya, "Rekan kerja Raisa ya kan? Jangan lupa datang ke pernikahan kami," tambahnya sambil menyerahkan undangan yang dia bawa.
Canu menerimanya, di undangan tercetak jelas nama Raisa dan Maxime, jadi ini benar bukan prank atau mimpi, mereka akan segera menikah.
"Selamat untuk kalian," Canu menetralkan perasaannya mengucapkan selamat untuk keduanya, "Aku permisi dulu, bentar lagi ada pemeriksaan," laki laki itu pergi terlebih dahulu, tidak ingin terlalu lama melihat perempuan yang dicintainya bersama orang lain.
"Mantan kamu?" Maxime bertanya ketika Canu sudah pergi, "Kelihatan kaget dan nggak terima,"
"Bukan, tapi emang sempet deket dan hampir," jawab jujur Raisa, tidak perlu ada yang ditutupi di hubungan ini kan, "Tapi orangtuanya kurang ngerestuin karena aku janda anak satu," Maxime mengangguk paham.
"Kalau orangtuanya ngerestuin waktu itu kamu bakal sama dia?" Maxime jelas menunjukkan kecemburuannya, karena hubungan Raisa dan Canu dulu memanglah dari dua arah hanya saja restu yang tidak ada.
"Mungkin," Raisa memancing, perempuan itu sukai sekali melihat calon suaminya seperti ini, "Kamu cemburu?"
"Nggak!" Maxime denial, "Ayo katanya kamu mau ketemu dokter siapa tadi? Terus masih mau pulang ke rumah lama kamu kan?" mengalihkan sebelum Raisa semakin memojokkannya.
"Mas, kalaupun orangtuanya ngerestuin aku nggak mau karena Daehan nggak mau aku sama Canu," sebelum ada kesalahpahaman Raisa memberitahunya dulu, "Awalnya Daehan emang seneng sama Canu bahkan dia udah manggil papa, tapi setelah dia tau Jehan ayahnya, Daehan sedikit menjauh dari Canu, aku nggak tau waktu itu Jehan kasih tau apa ke Daehan sampai anak itu sedikit ngejauh dari aku dan bilang nggak mau sama Canu lagi, bahkan Daehan ngasih aku pilihan buat sama dia atau Canu,"
"Jadi ini alasan kamu nggak ngasih ijin Jehan buat didik Daehan?" Raisa mengangguk, ini salah satu alasan dari banyak alasan yang perempuan itu enggan memberikan Daehan pada Jehan, Raisa takut anaknya nanti tidak terarah dan membuat jarak dengan orang lain. "Untungnya pas saya yang masuk, Daehan bisa Nerima,"
"Itu juga karena Justin, mereka berdua cocok,"
"Tapi saya ngerasa Daehan sedikit menjaga dari Jehan, waktu pertemuan pertama kami waktu itu, Daehan tidak bilang apapun padahal bertemu dengan ayahnya, malah dia seperti ketakutan dan saya merasa Daehan memegang tangan dengan erat," Maxime menceritakan keadaan waktu mereka bertemu di supermarket. "Di rumah itu juga Daehan bahkan tidak menoleh dan berpamitan pada Jehan, apa terjadi sesuatu sebelumnya?"
Raisa jadi ingat, waktu di rumah Ardiethama, Daehan tidak mau berdekatan dengan Jehan, tidak meresponnya juga, tidak seperti biasa, Raisa tau betul bagaimana sikap anaknya itu pada ayahnya, sebelum Daehan tau saja mereka sedekat itu dan sekarang itu.
"Kemarin juga Daehan minta pada saya untuk langsung membawa kalian ke Amerika setelah pernikahan, apa Daehan tidak apa apa?"
Raisa jadi cemas, apa yang telah terjadi pada Daehan hingga anak itu berubah begitu banyak, selama dengan Raisa anaknya bersikap seperti biasa, tidak ada kecurigaan.
"Apa lagi yang anak itu pikirkan?" Raisa bertanya pada dirinya, setiap kali Daehan berubah pasti ada yang sedang dia pikirkan, sebelum pikirannya membaik dia akan seperti itu.
"Kita cari tau setelah kembali ke Jakarta, kita selesaikan semuanya sebelum pindah ke Amerika," Maxime mengelus punggung tangan Raisa, menenangkannya.
▪️▪️▪️
"Ini seriusan?" Hana syok mendapati undangan pernikahan Raisa dan Maxime, ada rasa senang juga disana, "Selamat kak, jodohnya ternyata jauh ya kak," ledeknya, ketiganya tertawa bersama.
"Jangan sampai nggak dateng sama Rey, btw Rey nggak ada di rumah?" Raisa baru menyadari sejak tadi Rey tidak ada sejak mereka datang.
"Rey lagi ruwet sama pekerjaan kak, setelah gagal project bareng kak Jehan, dia beneran bekerja keras sekarang," beritahu Hana, walau semua kerugian di tanggung pihak Jehan tetap saja Rey juga mendapat dampaknya. "Daehan kenapa nggak ikut? Padahal aku kangen bocah satu itu,"
"Nggak mau dia, main mulu sama Justin,"
"Jadi setelah kakak menikah bakal menetap di Jakarta?" tanya Hana, "Terus rumah di sini gimana? Aku nggak bisa ditemenin main sama Daehan kalau Rey nggak ada di rumah," Hana jadi mellow, bagaimana tidak selama ini jika Rey dan Raisa bekerja mereka hanya berdua, bermain bersama.
"Gue ikut suami, pindah ke Amerika, rumah itu di jual. Makanya lo buat sendiri sama Rey, sampai kapan mau nunda?"
"Sebenernya udah sih kak," Hana malu malu mengatakannya, Raisa dan Maxime berpandangan, "Udah jalan sebulan,"
"Beneran?" Hana mengangguk yakin, Raisa berdiri dan langsung memeluk Hana, mengucapkan selamat, "Sehat dan lancar sampai hari kelahiran, kalau butuh saran bilang aja,"
"Terima kasih kak,"
▪️▪️▪️▪️▪️
Mari kita selesaikan semua perasaan satu persatu, biar nggak ada beban ke depannya, biar Raisa bisa pergi dengan bahagia, tanpa memikirkan segala kemungkinan buruk di masa depan.
Tolong jangan lupa tinggalkan jejak banyak banyak, vote, komen dan follow.
See you dan love you all.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
RandomDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
