Jehan baru sampai rumah dengan wajah lelahnya, "mas baru pulang? Tadi ada telepon dari rumah utama, kita di suruh datang nanti malam," beritahu Bella yang menghampiri Jehan yang duduk di ruang tamu, "Mas, aku takut mereka—"
"Kamu bisa diem nggak?!" untuk pertama kalinya Jehan meninggikan suaranya pada Bella, "Kamu terus ngadu ini itu ke aku tapi kamu pernah nggak nanya gimana aku?"
"Mas, kamu—" Bella jelas kaget selama ini Jehan tidak pernah membentaknya, bahkan meninggikan suaranya sedikit saja tidak pernah tapi sekarang ini, ada perasaan sakit mendengarnya. "Kamu bentak aku? Kamu nggak pernah kayak gini sama aku mas, kenapa?"
"Aku pusing, jadi kamu diem!" Jehan sudah kepalang kesal, memilih pergi sebelum dia bertindak jauh, mungkin memukul seperti yang akan dia lakukan pada Raisa dulu, tabiat lamanya bisa kembali saat emosi. "Kita ketemu di rumah utama nanti, kamu berangkat sendiri," pamitnya sebelum benar benar meninggalkan rumah.
Bella yang sudah sendirian menangis, untuk pertama kalinya Jehan memperlakukan dia seperti ini, suaminya itu mulai berubah padanya, apa setelah ini dia akan ditinggalkan.
Jehan mengendarai mobilnya tanpa tujuan, dia tidak memiliki tujuan sekarang hanya ingin menenangkan diri saja, entah bagaimana dia sudah berada di pemakaman, langkahnya menuntun ke tempat kedua orangtuanya, duduk di depan dua gundukan tanah yang merupakan peristirahatan terakhir kedua orang yang paling Jehan sayangi.
"Pa, ma, Jehan minta maaf, Jehan bukan anak, suami, adik bahkan ayah yang baik, kalau kalian masih hidup dan tau semuanya pasti ayah bakal mukulin Jehan dan mama mengatakan sumpah serapat sekarang," Jehan mengobrol dengan makam kedua orangtuanya, "bagaimana cara menebus semua kesalahan Jehan,"
Hampir setengah jam Jehan hanya duduk dan bercerita, waktu mulai gelap, dia harus kembali dan segera datang ke rumah utama, dia tau tujuannya di panggil ke sana, jelas sekali kalau Raisa akan datang bersama Daehan, semua anggota harus hadir dan juga pengacara akan kembali membacakan surat wasiat mendiang orangtuanya sekali lagi nanti, "Apapun yang bakal terjadi nanti, semoga yang terbaik terutama buat Daehan,"
Daripada pulang, Jehan memilih bersiap di apartemen Berlian, untungnya ada beberapa pakaian laki laki itu di sana, dia masih enggan untuk bertemu Bella sekarang, biarkan amarahnya reda terlebih dahulu.
Sebelum dia pergi ke rumah utama, Jehan menyempatkan untuk membeli beberapa mainan dan makanan untuk Daehan, setidaknya di hari beratnya ini ada satu alasan Jehan tetap bahagia, dia akan bertemu dengan Daehan, anaknya.
"Awh," Jehan yang sedang sibuk memilih camilan kaget tiba tiba di tabrak oleh seorang, anak kecil itu sudah terduduk di lantai sambil memegang kepalanya yang sempat terpentok pada badan Jehan, "sakit,"
Jehan membantu anak itu berdiri, "kamu nggak papa? Ada yang luka?" tanyanya sambil memeriksa anak tersebut, memastikan kepala yang di pegang anak itu tidak terluka.
"I'm sorry uncle, ini salah Justin karena tidak hati hati," minta maaf anak itu sambil menundukkan tubuhnya sedikit, dari wajahnya sepertinya anak blasteran atau bule.
"Justin!"
Seorang pria dewasa datang bersama anaknya yang lain menggandeng tangan besarnya, "are you oke?" tanya orang yang di pastikan orangtua dari bocah bernama Justin ini.
"I'm fine dad, nggak ada yang luka" jawab Justin sambil memutarkan badannya agar sang ayah percaya, "uncle, sorry," beralih melihat Jehan dan meminta maaf lagi.
"Saya orangtua Justin meminta maaf karena anak saya menabrak anda, apa ada kerugian yang harus saya bayar?" tanyanya, "Saya Maxime," mengulurkan tangan untuk berkenalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
RandomDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
